RADAR BANYUWANGI – Donald Trump mungkin bisa menghantam Iran dengan kekuatan militer Amerika Serikat. Namun, persoalan sebenarnya justru dimulai setelah rudal berhenti meluncur: bagaimana perang ini diakhiri? Di titik itulah Trump menghadapi jebakan paling berbahaya—mengulang kesalahan George W. Bush yang berhasil memenangkan perang dalam hitungan hari, tetapi kemudian terseret dalam konflik panjang bertahun-tahun.
Trump datang ke periode kedua kepemimpinannya dengan janji sebagai presiden yang akan menghindarkan Amerika dari perang tanpa akhir.
Ironisnya, Iran justru bisa menjadi ujian terbesar terhadap janji tersebut.
Jika konflik tidak segera menemukan jalan keluar politik, Trump berisiko menghadapi dilema yang sama seperti pendahulunya: semakin lama perang berlangsung, semakin mahal ongkosnya; semakin besar eskalasi, semakin sulit mundur; tetapi menghentikannya tanpa kemenangan yang jelas juga bisa dianggap sebagai kekalahan.
Iran bisa menjadi perang yang dimulai dengan tombol, tetapi berakhir tanpa tombol keluar.
Rudal Bisa Menghancurkan, tapi Tidak Bisa Menyelesaikan Semuanya
Kekuatan militer Amerika Serikat bukan persoalan yang bisa diremehkan.
Washington memiliki kekuatan udara, laut, intelijen, serta kemampuan serangan jarak jauh yang jauh lebih besar dibandingkan Iran.
Tetapi sejarah perang Amerika menunjukkan satu persoalan klasik: menghancurkan target jauh lebih mudah daripada menciptakan perdamaian setelahnya.
Serangan udara dapat menghantam fasilitas militer dan infrastruktur strategis. Kapal perang dapat menekan jalur laut. Rudal dapat merusak sasaran dalam waktu singkat.
Namun, semua itu tidak otomatis membuat pemerintahan di Teheran menyerah.
Justru sebaliknya, tekanan militer dapat memperkuat alasan Iran untuk mempertahankan perlawanan.
Di sinilah perang mulai berubah bentuk.
Bukan lagi sekadar persoalan siapa yang memiliki senjata lebih kuat, melainkan siapa yang memiliki kesabaran lebih panjang.
Trump Bisa Menang Pertempuran, tetapi Kalah Strategi
Iran bukan Irak.
Iran juga bukan Afghanistan.
Negara tersebut memiliki wilayah luas, struktur politik dan keamanan yang kompleks, kemampuan rudal, serta jaringan mitra dan kelompok bersenjata yang dapat memainkan perang asimetris di kawasan.
Artinya, Amerika tidak hanya berhadapan dengan satu medan perang.
Ketegangan dapat merembet ke kawasan Teluk, Laut Merah, hingga jalur perdagangan energi dunia.
Semakin panjang konflik, semakin banyak titik yang harus diawasi Washington.
Dan semakin banyak titik yang harus dikendalikan, semakin besar pula biaya politik serta militernya.
Inilah jebakan perang abadi: musuh tidak harus mengalahkan Amerika di medan tempur. Cukup membuat Amerika lelah.
Selat Hormuz: Satu Titik yang Bisa Mengubah Segalanya
Persoalan menjadi lebih rumit karena Iran berada di dekat salah satu jalur energi paling strategis dunia, Selat Hormuz.
Setiap gangguan terhadap jalur pelayaran di kawasan tersebut berpotensi mengguncang pasar energi.
Harga minyak dapat bergerak naik. Biaya transportasi meningkat. Inflasi kembali mendapatkan bahan bakar.
Dan ketika harga bensin mulai terasa di kantong masyarakat Amerika, perang yang semula terjadi ribuan kilometer dari Washington berubah menjadi persoalan politik domestik.
Bagi Trump, ini adalah titik rawan.
Presiden dapat menjelaskan alasan strategis sebuah operasi militer. Tetapi akan jauh lebih sulit menjelaskan kepada pemilih mengapa harga energi meningkat sementara perang belum menunjukkan akhir.
Perang di Iran akhirnya bukan cuma soal Teheran. Ini bisa menjadi soal dapur warga Amerika.
Hantu George W. Bush Kembali
Di sinilah nama George W. Bush kembali relevan.
Setelah serangan 11 September 2001, pemerintahan Bush melancarkan perang di Afghanistan dan kemudian menginvasi Irak.
Secara militer, Amerika mampu meraih kemenangan awal dengan cepat.
Namun, kemenangan itu ternyata bukan akhir perang.
Justru setelah pemerintahan lawan jatuh, masalah yang lebih rumit muncul: pemberontakan, instabilitas politik, korban jiwa, biaya perang yang terus membengkak, serta kelelahan publik Amerika.
Pelajaran terbesarnya sederhana.
Memenangi perang tidak sama dengan memenangkan perdamaian.
Trump kini menghadapi pertanyaan yang sama.
Apakah operasi terhadap Iran mempunyai tujuan politik yang jelas?
Apakah ada skenario akhir yang realistis?
Dan yang paling penting: jika tujuan militer tercapai, siapa yang memastikan konflik benar-benar berhenti?
Tanpa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, Washington berisiko mengulang pola lama.
Trump Tidak Boleh Masuk ke Lubang yang Sama
Masalah terbesar bagi Trump bukan bagaimana meningkatkan serangan.
Masalah terbesarnya justru bagaimana menghindari eskalasi yang tidak terkendali.
Jika serangan diperbesar, Iran dapat meningkatkan perlawanan.
Jika Iran membalas melalui jaringan regionalnya, Amerika dan sekutunya bisa terseret ke lebih banyak titik konflik.
Jika konflik melebar, biaya perang meningkat.
Dan jika biaya meningkat sementara hasil politik tidak terlihat, dukungan publik dapat mulai terkikis.
Siklus itu bisa berjalan terus.
Serang. Dibalas. Membalas lagi. Konflik melebar. Biaya meningkat. Jalan keluar semakin sempit.
Itulah definisi paling sederhana dari perang yang berubah menjadi jebakan.
Washington Mungkin Sedang Memburu Jalan Keluar
Dalam kondisi seperti itu, diplomasi bukan berarti menyerah.
Justru diplomasi dapat menjadi instrumen untuk memastikan kemenangan militer tidak berubah menjadi kekalahan strategis.
Trump membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sulit daripada sekadar perintah serangan: strategi keluar.
Tanpa itu, Amerika dapat terjebak pada pertanyaan yang semakin mahal setiap hari.
Kapan perang berakhir?
Apa ukuran kemenangannya?
Berapa biaya yang harus dibayar?
Dan sampai kapan masyarakat Amerika bersedia membayarnya?
Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban, Iran bisa menjadi warisan politik paling berbahaya bagi Trump.
Bukan karena Amerika tidak cukup kuat untuk berperang.
Melainkan karena Amerika mungkin terlalu kuat untuk kalah cepat, tetapi belum tentu cukup mudah untuk menang cepat.
Dan di situlah hantu perang Irak dan Afghanistan kembali muncul.
Trump kini punya pilihan: mengendalikan perang sebelum perang mengendalikan dirinya. (*)
Editor : Ali Sodiqin