Trump Gagal di Iran? Bayang-Bayang Perang Abadi Menghantui AS

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 11:00 WIB
Presiden AS ke-47 Donald Trump.
Trump menghadapi risiko perang berkepanjangan di Iran. Bayang-bayang kegagalan Irak dan Afghanistan mengancam strategi AS tanpa jalan keluar.

RADAR BANYUWANGI – Langkah militer Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Iran menghadapi risiko besar: konflik yang semula ditujukan untuk melumpuhkan kekuatan Teheran justru dapat berubah menjadi perang berkepanjangan tanpa jalan keluar yang jelas. Bayang-bayang kegagalan perang Irak dan Afghanistan pun kembali menghantui Washington.

Ironisnya, risiko tersebut datang ketika Trump sebelumnya membangun citra sebagai presiden yang ingin mengakhiri keterlibatan militer Amerika Serikat di luar negeri.

Kini, keputusan menggunakan kekuatan militer terhadap Iran justru menempatkan Trump pada persimpangan sulit. Washington harus memilih antara memperpanjang tekanan militer, meningkatkan eskalasi, atau mencari jalan keluar sebelum konflik berkembang menjadi "perang abadi" baru.

Janji Presiden Perdamaian Berbalik Menjadi Ironi

Ketika berkampanye untuk masa jabatan keduanya, Trump berulang kali membangun citra sebagai pemimpin yang ingin menghindarkan Amerika Serikat dari perang berkepanjangan.

Namun, operasi militer di Iran menghadirkan kontradiksi terhadap narasi tersebut.

Persoalannya bukan semata-mata soal seberapa besar kekuatan militer Amerika Serikat. Tantangan terbesar justru terletak pada pertanyaan yang jauh lebih sulit: bagaimana perang ini diakhiri?

Pengalaman Washington di Irak dan Afghanistan menunjukkan bahwa keunggulan militer tidak otomatis menghasilkan kemenangan politik. Operasi militer dapat menghancurkan fasilitas dan melumpuhkan kemampuan tertentu, tetapi jauh lebih sulit memaksakan perubahan politik yang bertahan lama.

Di titik inilah Iran menghadirkan persoalan berbeda.

Iran Bukan Irak, Apalagi Afghanistan

Strategi Trump di Iran disebut lebih bertumpu pada kekuatan udara dan laut dibandingkan pengerahan pasukan darat dalam skala besar untuk menggulingkan rezim.

Pendekatan tersebut memang dapat mengurangi risiko korban pasukan Amerika dibandingkan invasi darat penuh.

Namun, serangan dari udara dan laut juga memiliki keterbatasan. Melumpuhkan infrastruktur militer tidak otomatis membuat sebuah negara menyerah secara politik.

Iran memiliki wilayah luas, struktur kekuasaan yang kompleks, kemampuan rudal dan jaringan sekutu regional. Kondisi tersebut memungkinkan Teheran mempertahankan perlawanan meski menghadapi tekanan militer yang jauh lebih besar.

Artinya, Washington menghadapi dilema.

Jika serangan diperluas, risiko eskalasi semakin besar. Jika tekanan dihentikan tanpa hasil politik yang jelas, Trump dapat dituding gagal mencapai tujuan operasi.

Di antara dua pilihan itu terbuka kemungkinan paling berbahaya: konflik berlangsung lebih lama dari yang direncanakan.

Selat Hormuz Menjadi Titik Rawan

Konflik Iran juga tidak berhenti di wilayah daratan.

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang membuat perang ini berpotensi berdampak jauh melampaui Timur Tengah.

Selat tersebut merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Setiap gangguan terhadap pelayaran dan distribusi minyak berpotensi mengguncang pasar energi global.

Dampaknya dapat merembet ke harga bahan bakar, biaya transportasi, inflasi, hingga tekanan ekonomi di dalam negeri Amerika Serikat.

Dengan demikian, perang yang semula diproyeksikan sebagai operasi militer terbatas dapat berubah menjadi persoalan ekonomi dan politik domestik.

Bagi Trump, konsekuensinya sangat sensitif. Presiden Amerika tidak hanya harus memikirkan keberhasilan operasi militer, tetapi juga bagaimana perang tersebut dirasakan masyarakat di dalam negeri.

Dukungan Internasional Menjadi Persoalan Berikutnya

Risiko lainnya adalah persoalan dukungan geopolitik.

Amerika Serikat tidak berada dalam ruang hampa. Setiap eskalasi terhadap Iran berpotensi memengaruhi hubungan Washington dengan negara-negara Eropa, Asia, serta mitra Amerika di Timur Tengah.

Ketika dukungan terhadap operasi militer tidak solid, beban politik dan ekonomi akan lebih banyak ditanggung Washington sendiri.

Pada saat yang sama, Iran memiliki kemampuan memanfaatkan perang asimetris.

Tekanan terhadap kepentingan Amerika dan sekutunya tidak harus dilakukan melalui perang konvensional secara langsung. Konflik dapat melebar melalui kelompok-kelompok yang memiliki hubungan dengan Teheran di berbagai titik kawasan.

Kondisi tersebut membuat medan perang menjadi jauh lebih sulit diprediksi.

Pelajaran dari Bush yang Tidak Boleh Diulang

Pengalaman pemerintahan George W. Bush setelah serangan 11 September 2001 menjadi salah satu pelajaran penting bagi Washington.

Invasi Afghanistan dan Irak memperlihatkan bahwa kemenangan militer pada tahap awal tidak selalu berarti kemenangan strategis.

Amerika Serikat mampu menggulingkan pemerintahan yang menjadi sasaran. Namun, fase setelah kemenangan militer justru menghadirkan persoalan yang lebih panjang: pemberontakan, instabilitas politik, biaya perang, korban jiwa, dan tekanan terhadap opini publik.

Iran berpotensi menjadi persoalan yang bahkan lebih rumit apabila konflik berkembang menjadi upaya perubahan rezim.

Karena itu, pertanyaan terpenting bagi Trump bukan hanya bagaimana memenangkan perang, melainkan bagaimana memastikan perang tersebut tidak menjadi perang tanpa akhir.

Trump Membutuhkan Jalan Keluar

Konflik yang berlarut-larut dapat menggerus tiga hal sekaligus: anggaran pertahanan, dukungan publik, dan kredibilitas politik.

Semakin lama perang berlangsung tanpa tujuan politik yang terukur, semakin sulit bagi pemerintahan Trump menjelaskan kepada publik Amerika mengenai kapan dan dengan cara apa konflik tersebut akan berakhir.

Iran sendiri memiliki insentif untuk mempertahankan ketahanan jangka panjang. Strategi semacam itu dapat diarahkan untuk mengikis kesabaran lawan, terutama ketika biaya perang mulai terasa di dalam negeri Amerika Serikat.

Karena itu, jalan keluar diplomatik pada akhirnya akan menjadi bagian penting dari strategi apa pun yang dipilih Washington.

Keunggulan militer mungkin menentukan bagaimana perang dimulai. Namun, strategi politiklah yang menentukan bagaimana perang berakhir.

Dan di situlah risiko terbesar Trump di Iran berada: bukan semata-mata kalah dalam satu pertempuran, melainkan terjebak dalam konflik yang semakin mahal, semakin panjang, dan semakin sulit dihentikan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Trump Iran perang abadi George W Bush perang iran amerika serikat