Trump Janjikan Rp87 Juta per Warga jika Partai Republik Menang Pemilu Midterm 2026

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 19:00 WIB
Donald Trump saat menyampaikan pidato dalam konvensi Partai Republik untuk menghadapi pemilu paruh waktu AS 2026 di Dallas, Texas (The Guardian)
Donald Trump saat menyampaikan pidato dalam konvensi Partai Republik untuk menghadapi pemilu paruh waktu AS 2026 di Dallas, Texas (The Guardian)

RADAR BANYUWANGI - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadikan pemilu paruh waktu November 2026 sebagai referendum atas pemerintahannya. Ia menjanjikan USD 5.000 atau sekitar Rp87,55 juta kepada setiap warga dewasa jika Partai Republik mempertahankan kendali DPR dan Senat, sembari menjanjikan perang dengan Iran segera berakhir setelah pemilu.

Janji mengejutkan itu disampaikan Trump dalam konvensi pemilu paruh waktu pertama Partai Republik di Dallas, Kamis (10/9/2026).

Besarnya angka yang ditawarkan membuat pemilu legislatif AS berubah menjadi pertarungan politik yang jauh lebih personal.

Trump bahkan meminta pemilih membayangkan namanya berada di surat suara.

“Jika Partai Republik menang, Anda menang bersama kami, dan Anda akan mendapatkan USD 5.000,” kata Trump di hadapan massa.

Ia kemudian menegaskan, “Saya meminta Anda berpura-pura bahwa saya ada di surat suara.”

Pesan tersebut jelas: bagi Trump, kemenangan Partai Republik pada November bukan sekadar soal siapa yang menguasai Kongres, tetapi juga ukuran dukungan publik terhadap dirinya.

Janji USD 5.000 Berpotensi Habiskan Rp23.600 Triliun

Janji Trump bukan angka kecil.

Dengan asumsi sekitar 270 juta warga dewasa AS memenuhi syarat, Reuters memperkirakan program tersebut dapat membutuhkan dana sekitar USD 1,35 triliun, atau setara sekitar Rp23.636 triliun berdasarkan kurs yang digunakan dalam laporan.

Namun, Trump belum menjelaskan mekanisme pembayaran maupun dasar hukum untuk merealisasikan janji tersebut.

Karena itu, belum jelas dari mana sumber dananya, siapa saja yang akan memenuhi syarat, serta bagaimana pemerintah AS akan membiayai program tersebut jika benar-benar diwujudkan.

Skala tawaran itu sekaligus menunjukkan betapa seriusnya Trump berusaha mengubah pemilu legislatif menjadi pertarungan langsung mengenai masa depan pemerintahannya.

Trump Bawa Perang Iran ke Arena Pemilu

Bukan hanya ekonomi yang dibawa Trump ke panggung kampanye.

Perang dengan Iran juga menjadi bagian penting dari narasi politiknya.

Sebelum berpidato di Dallas, Trump mengatakan konflik tersebut akan berakhir “segera setelah” pemilu November.

Ia juga menyebut Iran berusaha memengaruhi hasil pemungutan suara.

Trump sebelumnya mengaitkan berakhirnya perang dengan potensi turunnya harga minyak. Pernyataan tersebut muncul ketika kenaikan harga energi menjadi salah satu tekanan ekonomi yang harus dihadapi pemerintahannya.

Namun, prediksi Trump mengenai berakhirnya perang menghadapi persoalan serius.

Konflik telah berlangsung lebih dari enam bulan dan belum menunjukkan tanda pasti akan berakhir dalam waktu dekat.

Bahkan, sejumlah pejabat senior pemerintahan Trump disebut memiliki pandangan berbeda.

JD Vance dan Rubio Disebut Tak Yakin Perang Segera Berakhir

Reuters melaporkan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio termasuk pejabat yang secara pribadi memperingatkan Trump bahwa konflik dengan Iran dapat berlangsung hingga akhir masa jabatannya pada Januari 2029.

Perbedaan pandangan tersebut membuat janji Trump mengenai perang menjadi isu politik yang sensitif.

Jika perang benar-benar berakhir setelah pemilu, Trump akan memiliki modal politik besar untuk mengklaim keberhasilan kebijakan luar negerinya.

Namun, jika konflik terus berlangsung, prediksi tersebut berpotensi berubah menjadi beban politik.

Apalagi, Trump tetap mempertahankan keputusannya menyerang Iran.

“Jangan bertingkah macam-macam,” kata Trump kepada Teheran, seraya memperingatkan bahwa AS akan “menghantam mereka dengan sangat keras”.

Trump juga mengklaim Iran hanya berjarak “dua, mungkin tiga minggu” dari memiliki senjata nuklir ketika keputusan menyerang dibuat.

Klaim tersebut merupakan pernyataan Trump dan menjadi bagian dari pembelaannya atas keputusan militer AS.

Trump Minta Pemilih Anggap Dirinya Ada di Surat Suara

Strategi Trump dalam pemilu midterm kali ini terlihat sangat personal.

Ia menggambarkan dua pilihan kepada pemilih: mempertahankan Partai Republik atau menghadapi pembalikan kebijakan pemerintahannya.

“Jika kita kalah, Anda akan kehilangan perbatasan, Anda akan kehilangan pemotongan pajak, Anda akan kehilangan keselamatan dan keamanan, Anda akan kehilangan kekayaan Anda,” ujar Trump.

Ia juga menyerang Partai Demokrat dengan retorika keras dan menyatakan, “Kami akan mengalahkan komunisme di Amerika.”

Trump bahkan menggambarkan masa pemerintahannya sebagai “dua tahun paling sukses” dalam sejarah kepresidenan AS secara finansial dan berbagai aspek lainnya.

Namun, ia tidak memberikan bukti untuk mendukung klaim tersebut.

Masalahnya, Popularitas Trump Sedang Tertekan

Strategi tersebut datang ketika Partai Republik menghadapi ancaman kehilangan kendali atas DPR.

Sejumlah kandidat Partai Republik di daerah pemilihan yang kompetitif bahkan memilih menjaga jarak dari Trump. Tingkat kepuasan terhadap presiden disebut berada di sekitar 38 persen.

Kondisi itu membuat konvensi di Dallas memiliki arti penting.

Trump membutuhkan momentum untuk memastikan pemilih tetap melihat pemilu November sebagai pilihan antara agenda pemerintahannya dan Partai Demokrat.

Namun, tidak semua tanda di Dallas sesuai dengan gambaran yang ingin ditampilkan Trump.

Ia menyebut arena penuh dan mengklaim jumlah orang di luar gedung sama banyaknya dengan yang berada di dalam.

Reporter The Guardian, sebagaimana dilaporkan dalam sumber tersebut, tidak melihat kondisi seperti yang digambarkan Trump.

Sejumlah kandidat yang sedang menghadapi persaingan ketat juga memilih tidak hadir.

Agenda Ekonomi Tergeser Isu Budaya

Konvensi Partai Republik sebenarnya dirancang untuk menonjolkan isu yang dekat dengan kehidupan pemilih, seperti penurunan biaya hidup, keamanan perbatasan, dan kepentingan pekerja.

Namun, pidato dan suasana acara justru banyak diwarnai serangan terhadap Demokrat terkait isu budaya, termasuk hak transgender.

Situasi itu memunculkan kritik bahwa Partai Republik terlalu berfokus pada Trump dan isu kontroversial, sementara persoalan ekonomi yang menjadi perhatian pemilih berisiko kehilangan ruang.

Ketua Komite Nasional Demokrat Ken Martin bahkan menyebut acara tersebut sebagai “pertunjukan aneh” untuk memenuhi ego Trump dan menilai presiden sedang membawa partainya menuju kekalahan.

Midterm 2026 Jadi Ujian Besar Trump

Pemilu paruh waktu November 2026 pada akhirnya akan menjadi ujian bagi kekuatan politik Trump.

Ia tidak hanya meminta pemilih memilih anggota DPR dan Senat dari Partai Republik. Trump ingin suara tersebut dibaca sebagai dukungan langsung terhadap dirinya.

Janji USD 5.000 menjadi salah satu kartu politik terbesar yang dilemparkannya.

Perang Iran menjadi kartu lainnya.

Jika harga energi turun dan perang benar-benar berakhir setelah pemilu, Trump dapat menggunakannya sebagai bukti keberhasilan pemerintahannya. Sebaliknya, jika konflik berlarut-larut dan tekanan ekonomi meningkat, isu yang sama bisa berubah menjadi bumerang.

Karena itu, pertarungan November bukan sekadar tentang siapa yang menguasai Kongres.

Bagi Trump, midterm 2026 adalah pertaruhan apakah dirinya masih mampu mengubah ketidakpuasan soal ekonomi, perang Iran, dan kinerja pemerintah menjadi suara untuk Partai Republik. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Pemilu AS midterm 2026 Partai Republik donald trump perang iran