RADAR BANYUWANGI - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaitkan keputusan AS tidak menyerang Iran secara “penuh” dengan pemilu paruh waktu atau midterm pada 3 November. Trump bahkan memprediksi perang tersebut akan berakhir setelah pemilu, atau bisa lebih cepat sebelum warga AS memberikan suara.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News ketika ditanya mengenai desakan agar Amerika Serikat mengerahkan kekuatan penuh dalam konflik dengan Iran.
Alih-alih menjawab dari sisi strategi militer semata, Trump justru membawa faktor politik domestik ke dalam pembahasan.
“Yah, mungkin saya tidak melakukan itu karena pemilu,” kata Trump, seperti dilansir Antara, Jumat (11/9).
Trump kemudian kembali menyampaikan keyakinannya bahwa konflik tersebut tidak akan berlangsung terlalu lama.
“Mereka sudah tertatih-tatih. Mereka sedang dalam masalah besar,” ujarnya.
Menurut Trump, perang kemungkinan berakhir setelah pemilu paruh waktu. Namun, ia membuka kemungkinan konflik berhenti lebih cepat.
Trump: Iran Masih Punya Rudal
Meski mengklaim sebagian besar kemampuan militer Iran telah dihancurkan, Trump mengakui Iran masih memiliki rudal.
Pernyataan itu muncul ketika ia ditanya bagaimana Iran masih mampu meluncurkan rudal jika kemampuan militernya telah dihancurkan dalam jumlah besar.
Trump menjawab bahwa Iran masih memiliki persediaan rudal dan kemungkinan akan selalu memiliki sejumlah senjata tersebut.
“Mereka punya banyak, dan mereka masih punya beberapa. Sebagian besar telah dihancurkan,” kata Trump.
“Tetapi mereka punya rudal. Mereka akan selalu memiliki sejumlah rudal,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa, menurut Trump, kemampuan Iran untuk melakukan serangan belum sepenuhnya hilang meski ia mengklaim serangan AS telah melumpuhkan sebagian besar kekuatan militernya.
Trump Tak Menyesal soal Perang Iran
Trump juga menegaskan tidak menyesali keputusan maupun jalannya perang dengan Iran.
Ia bahkan mengatakan tidak percaya pada konsep “penyesalan” ketika ditanya apakah ada keputusan yang akan diubah jika mendapat kesempatan mengulanginya.
“Jika saya harus melakukannya lagi, saya akan melakukan persis seperti yang saya lakukan,” tegas Trump.
Sikap tersebut menunjukkan keyakinan Trump terhadap strategi yang telah ditempuh pemerintahannya.
Namun, pada saat yang sama, ia mengatakan perang dapat segera berakhir.
Klaim Trump soal Nuklir Iran
Isu nuklir kembali menjadi bagian penting dari pernyataan Trump.
Presiden AS tersebut mengklaim Amerika Serikat telah melumpuhkan kemampuan nuklir Iran.
Trump juga berargumen bahwa Iran akan menggunakan kemampuan nuklir tersebut jika memilikinya.
“Mereka gila ... Mereka akan menghancurkan Israel. Mereka akan menghancurkan Timur Tengah dan mereka akan mulai menyerang beberapa kota kita,” ujar Trump.
Ia kemudian menggambarkan bagaimana posisi Amerika Serikat akan berbeda jika Iran memiliki senjata nuklir.
“Jika Iran memiliki senjata nuklir, kita akan menelepon dan berkata, ‘Tuan, bisakah kita bertemu?’ Kita akan menghadapi mereka dengan cara yang sangat berbeda,” tambahnya.
Klaim dan penilaian tersebut merupakan pernyataan Trump dalam wawancara. Karena menyangkut perkembangan konflik dan kemampuan militer Iran, setiap klaim mengenai tingkat kerusakan fasilitas maupun kemampuan persenjataan tetap perlu dibedakan dari verifikasi independen di lapangan.
Pemilu 3 November Jadi Sorotan
Pernyataan Trump menjadi perhatian karena untuk pertama kalinya dalam wawancara tersebut ia secara terbuka mengaitkan intensitas keputusan perang dengan agenda politik dalam negeri AS.
Pemilu paruh waktu pada 3 November menjadi momentum penting bagi pemerintahan di Washington. Dalam sistem politik AS, pemilu tersebut menentukan kursi di Kongres dan menjadi salah satu ukuran dukungan publik terhadap pemerintahan yang sedang berjalan.
Karena itu, perkiraan Trump mengenai berakhirnya perang setelah atau sebelum pemilu memiliki dimensi politik sekaligus militer.
Namun, belum ada kepastian bahwa konflik benar-benar akan berakhir sesuai prediksi tersebut.
Perang Iran dan Kalkulasi Politik Washington
Pernyataan Trump memperlihatkan bahwa perang Iran tidak hanya berkaitan dengan kekuatan militer.
Di balik operasi dan ancaman serangan, terdapat pula kalkulasi mengenai waktu, tekanan politik, serta respons publik Amerika Serikat.
Trump mengatakan Iran saat ini berada dalam kondisi sulit. Namun, ia juga mengakui bahwa negara tersebut masih mempunyai kemampuan untuk meluncurkan rudal.
Di sisi lain, Trump menegaskan dirinya tidak menyesali keputusan yang telah diambil dan tetap mempertahankan klaim bahwa kemampuan nuklir Iran telah dilumpuhkan.
Kini, pertanyaan besarnya bukan hanya seberapa jauh perang AS-Iran akan berlanjut, tetapi apakah prediksi Trump mengenai berakhirnya konflik sebelum atau setelah pemilu 3 November benar-benar akan terwujud.
Untuk sementara, satu hal jelas: pemilu midterm telah masuk dalam kalkulasi yang disampaikan Trump ketika membicarakan perang Iran. (*)
Editor : Ali Sodiqin