Presiden Iran Pezeshkian Tegaskan Tak Akan Mundur, Agresor Harus Menyesal

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 15:00 WIB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian kirim surat terbuka ke rakyat AS. (JawaPos.com)
residen Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran akan terus melawan agresor. Di sisi lain, diplomasi dan negosiasi Selat Hormuz tetap berjalan. (JawaPos.com)

RADAR BANYUWANGI – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tidak akan menghentikan perlawanan selama ancaman terhadap negaranya masih berlangsung. Di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) yang belum sepenuhnya mereda, Pezeshkian memperingatkan bahwa Iran akan terus mempertahankan diri sampai pihak yang disebutnya sebagai “agresor” menyesali tindakan mereka.

Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian melalui akun media sosial X pada Senin (7/9) dan dilaporkan Antara pada Selasa (8/9).

Pezeshkian mengatakan Iran pada dasarnya menentang perang dan menganggap upaya mencegah tindakan yang dapat memicu konflik sebagai hal penting.

Tujuannya, menurut dia, adalah menjaga kepentingan rakyat Iran sekaligus keamanan kawasan.

Namun, sikap menghindari perang tersebut tidak berarti Teheran akan menerima serangan tanpa perlawanan.

“Sebagaimana Iran telah dengan berani mempertahankan diri dari agresi hingga saat ini, negara ini akan terus melakukan perlawanan dengan penuh kekuatan sampai para agresor benar-benar menyesali tindakan mereka,” kata Pezeshkian.

Dia juga menegaskan Iran akan terus melindungi hak-hak rakyatnya.

Iran Klaim Bertahan, Konflik Belum Benar-Benar Reda

Pernyataan Pezeshkian muncul ketika hubungan Iran dan AS masih berada dalam situasi penuh ketegangan.

Kedua negara sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni setelah melalui mediasi Pakistan dan Qatar.

Kesepahaman tersebut memuat ketentuan mengenai penghentian permusuhan sekaligus kerangka untuk membuka jalan negosiasi lebih lanjut.

Namun, kesepakatan itu belum sepenuhnya menghapus persoalan antara Washington dan Teheran.

Pemerintah Iran menuduh AS melanggar nota kesepahaman dan tidak memenuhi komitmen yang telah disepakati.

Teheran juga berulang kali meminta agar operasi militer AS dan blokade laut dihentikan sebagai salah satu langkah untuk menurunkan ketegangan.

Dengan kondisi tersebut, pernyataan terbaru Pezeshkian menunjukkan bahwa Iran masih mempertahankan pendekatan keras terhadap setiap tindakan yang dianggap sebagai agresi.

Menteri Luar Negeri Iran Buka Jalan Negosiasi

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyampaikan perkembangan terkait upaya meredakan ketegangan.

Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi, Araghchi mengatakan kembalinya Washington untuk mematuhi komitmen dalam nota kesepahaman Islamabad dapat membuka jalan menuju penurunan ketegangan.

Pernyataan tersebut memperlihatkan dua jalur yang berjalan bersamaan.

Di satu sisi, Teheran mempertahankan pesan bahwa Iran akan membela diri jika menghadapi serangan.

Di sisi lain, jalur diplomasi tetap dibuka jika komitmen yang telah disepakati kembali dijalankan.

Bagi Iran, penghentian permusuhan bukan hanya berkaitan dengan pernyataan politik, tetapi juga langkah konkret yang harus dilakukan pihak lawan.

Selat Hormuz Jadi Titik Strategis

Perhatian juga tertuju pada Selat Hormuz.

Jalur perairan yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut memiliki arti strategis bagi perdagangan dan energi global.

Ketegangan militer di sekitar Hormuz dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran dan distribusi energi.

Dalam perkembangan terbaru, Araghchi mengatakan Iran dan Oman telah mencapai kemajuan signifikan dalam pembicaraan mengenai pembentukan jalur transit sementara melalui Selat Hormuz.

Jika terealisasi, jalur tersebut dapat menjadi salah satu mekanisme untuk menjaga lalu lintas sementara di tengah situasi keamanan yang masih sensitif.

Perkembangan itu menjadi penting karena setiap gangguan terhadap jalur pelayaran di Hormuz berpotensi membawa dampak jauh melampaui kawasan Timur Tengah.

Diplomasi dan Ancaman Militer Berjalan Bersamaan

Sikap Iran saat ini menunjukkan paradoks dalam menghadapi konflik.

Teheran tetap menyampaikan pesan keras mengenai kemampuan dan kemauan mempertahankan diri, tetapi pada saat yang sama masih membuka ruang diplomasi.

Pezeshkian menekankan Iran tidak menginginkan perang.

Araghchi pun menyebut pemenuhan kembali komitmen oleh Washington dapat membuka jalan bagi penurunan ketegangan.

Dengan kata lain, Iran tidak menyatakan ingin memperluas konflik, tetapi juga tidak ingin terlihat mundur ketika menghadapi tekanan.

Pesan tersebut menjadi semakin penting ketika isu operasi militer, blokade laut, serta akses melalui Selat Hormuz masuk dalam pembicaraan.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Situasi berikutnya sangat bergantung pada apakah kesepahaman Iran-AS yang dimediasi Pakistan dan Qatar dapat kembali dijalankan.

Jika komitmen tersebut dipulihkan, ruang diplomasi untuk menurunkan ketegangan terbuka lebih lebar.

Sebaliknya, jika saling tuduh mengenai pelanggaran kesepakatan terus berlanjut, risiko munculnya kembali konfrontasi tetap terbuka.

Bagi Iran, pesan dari Pezeshkian sudah jelas: Teheran mengklaim tidak mencari perang, tetapi tidak akan menghentikan perlawanan jika merasa diserang.

Sementara itu, perkembangan negosiasi Iran-Oman mengenai jalur transit sementara di Selat Hormuz menjadi salah satu indikator apakah jalur diplomasi masih mampu menjaga ruang bagi deeskalasi.

Pada akhirnya, masa depan konflik bukan hanya ditentukan oleh pernyataan keras dari para pemimpin, tetapi juga oleh kemampuan kedua pihak memenuhi komitmen dan menjaga jalur komunikasi tetap terbuka. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
konflik Iran Iran AS selat hormuz Masoud Pezeshkian Abbas Araghchi