RADAR BANYUWANGI – Upaya meredakan konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai memasuki fase krusial. Qatar bersama negara-negara mediator di Timur Tengah tengah menyiapkan sejumlah elemen yang dinilai penting untuk membentuk “daya tawar” sebelum kesepakatan antara Washington dan Teheran bisa kembali diwujudkan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengatakan persiapan tersebut menjadi fokus pemerintah Qatar dan negara mediator lainnya. Pernyataan itu disampaikan Al-Ansari pada Senin saat menjelaskan perkembangan upaya diplomatik untuk mengakhiri permusuhan AS-Iran.
“Kami sedang mengerjakannya,” kata Al-Ansari kepada stasiun televisi CNN, merujuk pada upaya memastikan berbagai elemen yang diperlukan tersedia sebelum momentum pengaruh diplomatik digunakan.
Menurut dia, keberadaan elemen-elemen tersebut penting untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan kedua pihak bergerak menuju kesepakatan. Al-Ansari juga menegaskan bahwa pengaruh yang digunakan AS maupun Iran pada akhirnya akan tercermin dalam ketentuan kesepakatan yang dihasilkan.
Di tengah diplomasi tersebut, Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif. Qatar memperingatkan agar situasi di jalur air strategis itu tidak dianggap sebagai kondisi baru yang akan berlangsung normal.
Al-Ansari mengkritik pihak-pihak yang menilai kondisi saat ini di Selat Hormuz dapat menjadi “normal baru”. Menurut dia, konsekuensi negatif dari penutupan jalur tersebut tidak akan berhenti di kawasan Timur Tengah.
Dia memperingatkan bahwa dampak penutupan Selat Hormuz akan segera dirasakan lebih luas, termasuk oleh masyarakat dan negara di luar kawasan konflik.
Konflik AS-Iran sendiri kembali memanas setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari. Iran kemudian merespons dengan serangkaian serangan balasan.
Ketegangan sempat mereda setelah Teheran dan Washington menandatangani memorandum yang ditujukan untuk menghentikan permusuhan pada pertengahan Juni. Namun, situasi kembali memburuk ketika kedua pihak kembali melakukan serangan.
Kini, Qatar dan negara-negara mediator di Timur Tengah berupaya memanfaatkan jalur diplomasi untuk membangun kondisi yang memungkinkan AS dan Iran kembali mencapai kesepakatan.
Upaya tersebut menjadi semakin penting karena konflik tidak hanya menyangkut hubungan Washington dan Teheran. Ketegangan di Selat Hormuz berpotensi membawa konsekuensi lebih luas terhadap keamanan kawasan dan aktivitas ekonomi yang bergantung pada jalur pelayaran strategis tersebut. (*)
Editor : Ali Sodiqin