RADAR BANYUWANGI — Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Korea Selatan (Korsel) agar tidak mengerahkan pasukan atau terlibat dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz. Teheran menegaskan, setiap bentuk partisipasi militer Seoul di jalur energi strategis tersebut akan dianggap sebagai dukungan langsung terhadap AS dan dapat memicu “konsekuensi serius”.
Peringatan itu disampaikan ketika Korsel sedang mempertimbangkan kemungkinan memberikan kontribusi militer dalam upaya pengamanan pelayaran di Selat Hormuz. Jalur laut tersebut menjadi titik krusial perdagangan minyak dan gas dunia, terlebih setelah perang Iran-AS dan Israel mengganggu keamanan kawasan.
Iran Ingatkan Hubungan 64 Tahun dengan Korsel
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan hubungan diplomatik Iran dan Korsel telah berlangsung lebih dari 64 tahun.
Menurut dia, hubungan kedua negara terus berkembang berdasarkan prinsip saling menghormati.
“Iran sangat menghargai hubungan persahabatannya dengan Korea Selatan,” kata Baghaei dalam pernyataan pada Senin (7/9), seperti dilansir Anadolu Agency, Selasa (8/9/2026).
Namun, nada pernyataan tersebut berubah tegas ketika Baghaei membahas kemungkinan keterlibatan militer Seoul dalam operasi yang dipimpin AS.
Iran meminta Korsel tidak tunduk terhadap apa yang disebut Teheran sebagai tekanan dan intimidasi AS.
Teheran Sebut Ada “Konsekuensi Serius”
Baghaei memperingatkan bahwa pengerahan pasukan dari negara lain ke kawasan Teluk Persia atau Selat Hormuz dapat dipandang Iran sebagai keterlibatan langsung dalam konflik.
“Setiap pengerahan atau partisipasi militer dalam operasi oleh negara-negara lainnya di Teluk (Persia) atau Selat Hormuz, hanya dapat dianggap sebagai dukungan langsung bagi pihak yang bertanggung jawab atas agresi tersebut dan akan membawa konsekuensi serius,” tegas Baghaei.
Iran juga menyatakan bahwa rakyatnya saat ini sedang melakukan apa yang disebut Teheran sebagai tindakan pembelaan diri terhadap agresi AS.
Baghaei bahkan menuduh AS melakukan tindakan yang disebutnya sebagai kejahatan perang terhadap warga sipil.
“Tidak ada negara yang berdaulat dan bertanggung jawab yang patut tunduk pada tekanan dan intimidasi AS,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Teheran tidak hanya mengawasi langkah Washington, tetapi juga mulai memperingatkan negara-negara yang berpotensi membantu operasi AS di kawasan.
Korsel Belum Putuskan Kirim Pasukan
Di sisi lain, Seoul belum mengambil keputusan final.
Pada Jumat (4/9), otoritas Korsel mengungkapkan sedang mempertimbangkan kemungkinan memberikan “kontribusi” terhadap upaya keamanan AS di Selat Hormuz.
Pertimbangan tersebut muncul ketika sebagian besar wilayah Selat Hormuz disebut berada dalam pengaruh Iran sejak perang pecah melawan AS dan Israel pada 28 Februari 2026.
Seoul menyatakan setiap kontribusi akan dipertimbangkan dengan memperhatikan kesiapan pertahanan militernya sendiri.
Namun, pemerintah Korsel menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan resmi mengenai pengerahan pasukan.
Posisi itu membuat Seoul berada di tengah dilema strategis: membantu upaya keamanan pelayaran yang dipimpin AS atau menghindari langkah yang dapat memperburuk hubungan dengan Iran.
Pengerahan Pasukan Tak Bisa Diputuskan Sembarangan
Jika Korsel benar-benar memutuskan mengerahkan personel militernya, prosesnya tidak bisa dilakukan secara sepihak.
Rencana tersebut harus melalui beberapa tahapan politik dan kelembagaan.
Keputusan akan memerlukan pembahasan di Dewan Keamanan Nasional Korsel, persetujuan kabinet pemerintahan, serta izin resmi dari Majelis Nasional atau parlemen Korsel.
Dengan mekanisme tersebut, kemungkinan pengerahan pasukan Korsel masih membutuhkan proses sebelum benar-benar terealisasi.
Hormuz Jadi Titik Panas Baru
Selat Hormuz memiliki arti strategis jauh melampaui kepentingan Iran dan AS. Jalur tersebut merupakan salah satu koridor utama perdagangan energi dunia.
Karena itu, setiap tambahan kekuatan militer di kawasan berpotensi meningkatkan risiko konfrontasi sekaligus memperbesar kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak dan gas.
Bagi Iran, masuknya militer Korsel dalam operasi AS dapat mengubah kalkulasi konflik. Bagi Seoul, keputusan untuk ikut operasi juga membawa risiko terseret lebih jauh ke dalam konflik yang telah mengguncang kawasan.
Untuk sementara, Korsel masih berada pada tahap mempertimbangkan pilihan.
Namun pesan dari Teheran sudah sangat jelas: jangan ikut operasi AS di Selat Hormuz, atau bersiap menghadapi konsekuensi serius. (*)
Editor : Ali Sodiqin