Blokade AS Mencekik Iran: Ekspor Minyak Anjlok, Stok di Laut Diprediksi Habis Oktober

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 06:00 WIB
Ilustrasi serangan AS ke wilayah Iran. (CENTCOM)
Ilustrasi serangan AS ke wilayah Iran. (CENTCOM)

RADAR BANYUWANGI — Pendapatan ekspor minyak Iran kian tercekik setelah blokade laut Amerika Serikat (AS) menghambat pengiriman minyak dari Teluk Persia. Sejak blokade diberlakukan kembali pada pertengahan Juli 2026, tak satu pun minyak mentah Iran disebut berhasil melewati garis blokade, sementara stok minyak yang telanjur berada di laut merosot dari sekitar 90 juta menjadi hanya 29 juta barrel.

Data tersebut menunjukkan tekanan terhadap sumber pemasukan utama Teheran semakin nyata. Menurut perusahaan pelacak kapal Kpler yang dikutip The Wall Street Journal, persediaan minyak Iran di luar wilayah blokade kini diperkirakan hanya cukup untuk menopang pengiriman dalam waktu terbatas dan berpotensi habis pada pertengahan Oktober.

Situasi itu terjadi ketika konflik AS-Iran kembali memanas dan jalur perdagangan energi di kawasan Teluk Persia menghadapi risiko gangguan berkepanjangan.

Minyak Iran Tak Bisa Menembus Blokade

Kpler mencatat tidak ada minyak mentah Iran yang berhasil melewati garis blokade sejak Angkatan Laut AS memberlakukan kembali pengamanan laut tersebut pada pertengahan Juli.

Padahal, minyak menjadi tulang punggung penting perekonomian Iran. Sekitar sepertiga anggaran negara biasanya ditopang pendapatan minyak. Komoditas yang sama juga menjadi salah satu sumber pembiayaan bagi militer Iran.

Departemen Keuangan AS sebelumnya menuding angkatan bersenjata Iran, termasuk Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), memanfaatkan perusahaan tertentu dan jaringan armada bayangan untuk menjual minyak mentah sekaligus menambah anggaran mereka.

Karena itu, tersendatnya ekspor minyak bukan sekadar persoalan perdagangan. Bagi Teheran, hambatan tersebut menyentuh langsung kemampuan negara memperoleh devisa dan membiayai berbagai kebutuhan strategis.

Stok Minyak di Laut Jadi Napas Terakhir

Ironisnya, sebagian minyak Iran masih bisa menghasilkan pemasukan karena sudah berada di atas kapal sebelum blokade kembali diperketat.

Iran sempat mengirim minyak dalam jumlah besar ke luar negeri ketika terjadi jeda blokade selama upaya diplomatik AS-Iran pada pertengahan Juni.

Minyak yang telanjur berada di laut itu kini menjadi semacam cadangan pemasukan terakhir bagi Teheran.

Namun, cadangan tersebut terus menyusut.

Kpler memperkirakan pengiriman Iran berada di kisaran 1 juta barrel per hari, dengan sebagian besar tujuan menuju China. Jika ritme tersebut bertahan, stok minyak Iran yang berada di laut dapat terkuras pada pertengahan Oktober.

Bagi pemerintah Iran, hitungan waktunya menjadi semakin sempit.

Muatan Minyak Iran Anjlok 85 Persen

Tekanan blokade sudah terlihat jelas pada aktivitas pemuatan minyak selama Agustus.

Data Kpler menunjukkan Iran hanya memuat sekitar 255.000 barrel minyak per hari ke kapal-kapal yang berada di dalam Teluk. Angka tersebut anjlok sekitar 85 persen dibandingkan rata-rata periode Februari-April.

Persoalannya, minyak yang baru dimuat itu belum bisa dikirim kepada pembeli karena masih berada di belakang garis blokade.

Dengan jalur laut yang tersendat, kemampuan Iran mencari alternatif juga sangat terbatas.

Melalui jalur darat, Iran diperkirakan hanya mampu mengangkut maksimal 40.000 barrel minyak per hari menggunakan truk. Jumlah tersebut sangat kecil dibandingkan volume ekspor sebelum perang yang mendekati 2 juta barrel per hari.

Produksi Minyak Iran Ikut Dipangkas

Blokade akhirnya tidak hanya menghambat ekspor, tetapi juga memaksa Iran menyesuaikan produksinya.

Kepala analisis minyak mentah Kpler Homayoun Falakshahi mengatakan stok minyak Iran tidak banyak bertambah. Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa produksi kemungkinan telah dikurangi hingga mendekati kebutuhan domestik.

Artinya, ketika minyak sulit keluar dari Iran, produksi pun tidak bisa dipertahankan pada level sebelumnya.

Dampaknya kemudian merambat ke sektor petrokimia. Sektor yang menjadi sumber devisa terbesar kedua Iran setelah minyak itu juga mengalami tekanan.

Kpler memperkirakan pemuatan produk petrokimia hingga Agustus turun sekitar dua pertiga dibandingkan awal 2026.

Pembeli China Mulai Cari Minyak Alternatif

Tekanan terhadap ekspor Iran juga mengubah peta pembelian minyak di Asia.

Ketika pasokan Iran semakin sulit dan biaya menjadi lebih mahal bagi sebagian kilang, sejumlah pembeli di China mulai beralih ke pemasok lain, seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Irak bahkan menawarkan diskon hampir 30 dolar AS per barrel untuk sejumlah jenis minyaknya.

Perubahan tersebut menjadi pukulan tambahan bagi Iran. Ketika kemampuan ekspor menyusut, pembeli yang sebelumnya bergantung pada minyak Iran memiliki alternatif dari negara produsen lain.

Sanksi baru AS terhadap bank dan saluran keuangan yang memfasilitasi transaksi Iran juga berpotensi memperumit persoalan. Bahkan ketika minyak berhasil terjual, Teheran menghadapi tantangan untuk menerima pembayaran dan mengakses devisa.

Ekonomi Iran Ikut Terpukul

Krisis ekspor minyak pada akhirnya merembet ke sektor ekonomi yang lebih luas.

Inflasi resmi Iran telah menembus 80 persen secara tahunan. Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi Iran menyusut 5,4 persen pada 2026, yang disebut sebagai kontraksi terburuk sejak dekade 1980-an.

Menyusutnya ekspor minyak berarti berkurangnya pasokan mata uang asing yang sangat dibutuhkan Teheran.

Devisa tersebut diperlukan untuk menopang nilai rial sekaligus membayar impor, termasuk bahan baku industri.

Tekanan terhadap mata uang Iran pun semakin terasa. Rial telah kehilangan hampir 15 persen nilainya terhadap dolar AS sejak Presiden AS Donald Trump mengumumkan tekanan ekonomi pada Agustus.

Dengan inflasi tinggi, mata uang melemah, ekspor minyak tersendat, dan impor semakin sulit, tekanan ekonomi terhadap Iran membentuk satu lingkaran yang semakin berat.

Tekanan Ekonomi Belum Tentu Bikin Iran Menyerah

Namun, ada satu persoalan yang belum terjawab: apakah tekanan ekonomi tersebut cukup untuk membuat Iran menghentikan perlawanan?

Pakar Iran dari European Council on Foreign Relations, Ellie Geranmayeh, menilai kampanye tekanan AS kemungkinan memberikan dampak besar terhadap rumah tangga Iran.

Meski begitu, ia masih meragukan tekanan ekonomi tersebut otomatis membuat pemerintah Iran menyerah di meja perundingan.

Di sinilah konflik AS-Iran memasuki fase yang lebih rumit.

Bagi Washington, blokade dan tekanan finansial dapat menjadi instrumen untuk mempersempit ruang gerak Teheran. Bagi Iran, bertahannya kemampuan untuk memperoleh pendapatan, mempertahankan produksi domestik, dan mencari jalur perdagangan alternatif menjadi bagian dari upaya bertahan.

Sementara itu, waktu terus berjalan.

Jika perkiraan Kpler benar, stok minyak Iran yang berada di laut bisa menipis drastis pada pertengahan Oktober. Ketika cadangan itu habis, tekanan terhadap pendapatan ekspor Teheran akan semakin terasa—dan dampaknya berpotensi tidak lagi berhenti di sektor minyak, tetapi menjalar lebih dalam ke perekonomian Iran. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Teluk Persia Ekonomi Iran Blokade AS Minyak Iran ekspor minyak Iran