RADAR BANYUWANGI – Harga minyak mentah dunia kembali berada di bawah tekanan geopolitik. Aksi saling serang Amerika Serikat (AS) dan Iran terhadap kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz membuat kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah semakin besar, sekaligus mendorong harga minyak bergerak naik pada perdagangan Senin (7/9).
Data Investing pada pukul 08.10 WIB menunjukkan kontrak berjangka Brent berada di level USD 96,63 per barel. Angka tersebut lebih tinggi dibanding perdagangan Jumat (4/9) pagi di level USD 95,61 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS tercatat USD 91,91 per barel, naik dibandingkan posisi USD 91,50 per barel pada perdagangan Jumat.
Pergerakan harga tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap satu persoalan utama: seberapa lama arus minyak dari kawasan Timur Tengah dapat tetap berjalan ketika jalur pelayaran strategis mulai menjadi medan konflik.
Kapal Tanker Mulai Jadi Sasaran
Kekhawatiran pasar meningkat setelah pasukan AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu (5/9).
Menurut Komando Pusat AS atau U.S. Central Command, salah satu kapal yang diserang berada di lepas pantai Pulau Kharg. Wilayah tersebut merupakan salah satu pusat ekspor minyak utama Iran.
Di sisi lain, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan telah menargetkan tiga kapal tanker minyak yang melintasi rute tidak resmi di Selat Hormuz. Iran juga menyebut tiga kapal AS menjadi sasaran di wilayah berbeda.
Serangkaian serangan tersebut menjadi sinyal bahwa konflik tidak lagi hanya berlangsung di ruang militer. Kapal komersial dan jalur perdagangan energi ikut masuk ke dalam pusaran ketegangan.
Perusahaan intelijen maritim Marisks menyebut serangan tersebut sebagai eskalasi besar dalam konflik maritim.
"Kapal tanker komersial kini sengaja digunakan sebagai instrumen tekanan ekonomi timbal balik, sehingga secara signifikan mengaburkan perbedaan sebelumnya antara konfrontasi militer dan pelayaran komersial," demikian pernyataan perusahaan tersebut.
Selat Hormuz Makin Sepi
Dampak ketegangan mulai terlihat pada lalu lintas kapal.
Data perusahaan analitik Kpler menunjukkan rata-rata hanya sekitar 10 kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz setiap hari dalam 10 hari terakhir.
Jumlah tersebut menjadi yang terendah sejak Mei.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Ketika jumlah kapal yang melintas turun, pasar otomatis membaca situasi tersebut sebagai sinyal meningkatnya risiko terhadap kelancaran pasokan.
Iran bahkan memberi sinyal bahwa ketegangan bisa meluas.
Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan zona terbatas akan diumumkan di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Pernyataan tersebut disampaikan pada Minggu (6/9) dan diberitakan media pemerintah Iran.
Bagi pasar minyak, setiap ancaman terhadap jalur pelayaran berarti tambahan risiko. Semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar pula kemungkinan tekanan terhadap harga minyak global.
OPEC+ Belum Mengubah Kebijakan Produksi
Di tengah meningkatnya risiko pasokan, OPEC+ justru mempertahankan kebijakan produksi minyak untuk Oktober dalam pertemuan pada Minggu.
Kelompok negara produsen minyak tersebut menyatakan masih membutuhkan kesepakatan mengenai kuota baru sebelum menentukan langkah produksi berikutnya.
Keputusan itu membuat perhatian pasar semakin tertuju pada perkembangan konflik AS-Iran.
Jika gangguan pasokan Timur Tengah berlangsung lebih lama, kemampuan pasar untuk mendapatkan tambahan pasokan akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga minyak.
Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya berapa banyak minyak yang diproduksi, tetapi juga apakah minyak tersebut dapat dikirim melalui jalur perdagangan dengan aman.
Pasar Bersiap Menghadapi Gangguan Panjang
Analis ANZ melihat kebuntuan berkepanjangan yang diselingi aksi militer terukur antara AS dan Iran sebagai skenario yang paling mungkin terjadi.
Kondisi tersebut berpotensi menunda pemulihan penuh pasokan minyak dari Timur Tengah.
"Kami kemudian memperkirakan ekspor akan tetap terbatas sepanjang sisa 2026, sebelum pembukaan kembali secara bertahap pada akhir kuartal IV 2026," tulis analis ANZ dalam sebuah catatan.
Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa pasar tidak hanya menghadapi persoalan jangka pendek.
Analis ANZ juga memperkirakan arus ekspor minyak belum kembali ke tingkat sebelum perang hingga akhir kuartal I atau awal kuartal II 2027.
Harga Minyak dan Bayang-Bayang 2027
Kenaikan harga Brent dan WTI pada awal pekan menjadi gambaran bagaimana pasar merespons risiko geopolitik.
Selama Selat Hormuz tetap berada dalam bayang-bayang konflik, ketidakpastian pasokan akan terus menjadi faktor yang diperhitungkan pelaku pasar.
Apalagi, penurunan jumlah kapal yang melintasi jalur tersebut menunjukkan bahwa risiko terhadap perdagangan energi sudah mulai terasa.
Jika konflik AS-Iran terus berlangsung tanpa penyelesaian diplomatik yang jelas, tekanan tidak hanya akan dirasakan pasar minyak.
Gangguan yang berkepanjangan dapat merembet ke biaya energi, transportasi, industri, hingga perekonomian global.
Selat Hormuz kini bukan sekadar jalur pelayaran. Bagi pasar minyak dunia, setiap kapal yang tertahan di kawasan tersebut adalah alarm baru tentang seberapa mahal harga yang harus dibayar jika pasokan energi Timur Tengah terganggu terlalu lama. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : jawapos.com