RADAR BANYUWANGI – Harapan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri konflik dengan Iran melalui kesepakatan nuklir baru semakin menipis. Menteri Energi AS Chris Wright bahkan mengakui Washington mungkin gagal mendapatkan perjanjian yang mampu mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir. Jika diplomasi kembali buntu, penghancuran kemampuan Iran membuat dan meluncurkan senjata nuklir disebut sebagai opsi yang mungkin ditempuh.
Pernyataan Wright menjadi sinyal penting perubahan pendekatan Washington. Setelah berbulan-bulan membuka ruang negosiasi, AS kini tampak bersiap menghadapi kemungkinan bahwa jalur diplomasi tidak menghasilkan kesepakatan permanen.
Wright menyampaikan penilaian tersebut ketika perundingan AS-Iran kembali menemui jalan buntu. Dalam wawancara dengan ABC pada Minggu (6/9), dia secara terbuka mengatakan, “Mungkin tidak ada kesepakatan nuklir.”
Menurut Wright, kondisi itu membuat pilihan lain harus dipertimbangkan. Salah satunya adalah menghancurkan kemampuan Iran untuk membuat maupun meluncurkan senjata nuklir.
Dilansir The Guardian, Senin (7/9/2026), Wright bahkan memperkirakan kesepakatan baru mungkin baru dapat dicapai setelah terjadi pergantian pemerintahan di Teheran.
“Kesepakatan mungkin harus menunggu pemerintahan berikutnya di Iran,” ujarnya.
Dia menyebut kemampuan Iran memiliki senjata nuklir sebagai “ancaman eksistensial” bagi AS dan sekutunya. Ancaman tersebut, menurut Wright, dapat dihadapi dengan menghancurkan kemampuan militer yang menopang program tersebut.
Diplomasi Belum Ditutup
Meski nada pernyataan Wright semakin keras, Washington belum sepenuhnya menutup pintu diplomasi.
Dalam wawancara dengan CBS, Wright menegaskan bahwa AS masih membuka kemungkinan kesepakatan.
“Kami selalu terbuka untuk kesepakatan,” katanya.
Namun, bersamaan dengan tawaran diplomasi itu, tekanan ekonomi dan militer terhadap Iran terus berjalan. Wright mengungkapkan bahwa salah satu peran utama militer AS di kawasan Teluk saat ini adalah menghambat ekspor energi Iran.
“Kami sedang mencekik perekonomian mereka untuk mendorong perubahan kebijakan dari rezim yang ada atau terbentuknya rezim baru,” ujar Wright.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa persoalan nuklir Iran kini telah melebar menjadi tekanan ekonomi, keamanan maritim, dan perebutan pengaruh di kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas
Dampaknya paling terasa di salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia: Selat Hormuz.
Jalur sempit tersebut menjadi lintasan penting bagi pengiriman minyak dan gas menuju pasar internasional. Setiap gangguan terhadap pelayaran di kawasan itu berpotensi memicu gejolak harga energi dan mengganggu rantai pasok global.
Wright bahkan tidak memberikan jaminan bahwa kapal tanker dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman tanpa dukungan Angkatan Laut AS.
“Jika mereka ingin bekerja sama dengan Angkatan Laut Amerika Serikat, saya kira mereka bisa,” ujarnya kepada CNN.
Menurut Wright, kapal-kapal masih dapat melintas. Namun, volumenya belum kembali seperti sebelum konflik.
“Kami mendapatkan banyak kapal yang berhasil melintas, tetapi tentu saja hal itu membutuhkan militer AS,” katanya.
Dengan demikian, kehadiran kapal perang AS di sekitar Hormuz berpotensi menjadi bagian dari normalitas baru keamanan perdagangan dunia.
Ketika ditanya apakah kehadiran tersebut akan berlangsung tanpa batas, Wright menjawab bahwa untuk saat ini memang demikian. Namun, dia berharap negara lain ikut mengambil tanggung jawab.
“Perdagangan dunia penting. Itu tidak seharusnya hanya menjadi tanggung jawab Amerika Serikat,” tegasnya.
Konflik Masuk Bulan Ketujuh
Kebuntuan diplomasi terjadi setelah kesepakatan sementara pada Juni untuk menghentikan operasi militer runtuh tanpa menghasilkan penyelesaian permanen. Kesepakatan tersebut gagal menjawab dua persoalan utama: perdamaian jangka panjang dan masa depan program nuklir Iran.
Serangan AS sebelumnya telah menyebabkan kerusakan besar terhadap fasilitas nuklir Iran. Namun, kerusakan tersebut belum mengakhiri konflik. Operasi militer kembali berlanjut dan jalur diplomasi belum menghasilkan terobosan.
Wright pun mengakui bahwa konflik masih berlangsung.
“Kami masih berada dalam konflik, tentu saja,” katanya kepada CNN.
Pernyataan itu muncul ketika pemerintahan Presiden Donald Trump masih berupaya mencari istilah yang tepat untuk menggambarkan operasi militer tersebut. Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya menolak menyebut situasi itu sebagai perang dan memilih istilah “konflik militer”. Trump kemudian membela penggunaan istilah tersebut.
Namun, apa pun istilah yang digunakan, dampaknya semakin nyata.
Konflik telah melewati enam bulan pada akhir Agustus. Bahkan, belum ada kepastian kapan operasi militer tersebut benar-benar berakhir.
Senator AS John Kennedy, ketika ditanya NBC apakah konflik akan berakhir pada November, menjawab singkat: “Kemungkinan besar tidak.”
Mantan Menteri Pertahanan AS Leon Panetta juga memperingatkan bahwa konflik berpotensi berlangsung jauh lebih lama.
Bukan Lagi Sekadar Soal Nuklir
Situasi tersebut membuat konflik AS-Iran berkembang jauh melampaui persoalan program nuklir.
Kini terdapat tiga kepentingan besar yang saling bertaut: kemampuan nuklir Iran, keamanan Selat Hormuz, dan stabilitas pasokan energi dunia.
Selama Washington belum memperoleh kesepakatan yang benar-benar membatasi kemampuan nuklir Teheran, opsi militer tetap berada di atas meja. Di sisi lain, selama keamanan Selat Hormuz masih bergantung pada kehadiran kapal perang AS, ketidakpastian perdagangan energi global juga belum berakhir.
Artinya, kebuntuan AS-Iran bukan hanya ancaman bagi stabilitas Timur Tengah.
Ia telah berubah menjadi persoalan keamanan energi dan perdagangan dunia.
Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar pula risiko yang harus ditanggung pasar global. Dan jika diplomasi benar-benar gagal, pernyataan Chris Wright tentang penghancuran kemampuan nuklir Iran bisa menjadi tanda bahwa babak konflik berikutnya akan jauh lebih keras. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : jawapos.com