RADAR BANYUWANGI – Secangkir teh dan telur dadar menjadi potongan kenangan paling sederhana sebelum semuanya berubah menjadi mimpi buruk. Bambang Noroyono alias Abeng, 42, jurnalis Indonesia peserta Global Sumud Flotilla, mengaku diculik pasukan Israel saat kapal yang ditumpanginya berlayar menuju Gaza pada 18 Mei.
Abeng bersama ratusan peserta lain kemudian dibawa ke kapal perang, menjalani pemeriksaan dan interogasi, hingga ditahan di Penjara Kedziot di Gurun Negev. Dalam kesaksiannya, ia mengaku mengalami kekerasan fisik, kondisi penahanan yang buruk, pemeriksaan tubuh tanpa busana, serta ancaman dari aparat Israel.
Kisah itu bermula beberapa jam sebelum kapal Bolarize yang ditumpangi Abeng dan delapan orang lainnya memasuki fase paling menegangkan dalam perjalanan mereka.
Sore sebelumnya, Minggu (17/5), matahari mulai tenggelam ketika Abeng bercengkerama bersama peserta Global Sumud Flotilla lainnya. Secangkir teh panas menemani kepulan asap rokok di tengah angin laut Mediterania.
Di kapal kecil sekitar 5 GT tersebut, sembilan orang dari berbagai negara hidup bersama. Mereka terdiri atas empat warga negara Turki, satu warga Jerman, satu warga Prancis, dua warga Malaysia, dan Abeng sebagai satu-satunya warga Indonesia.
Perbedaan bahasa, budaya, dan agama seolah mencair. Mereka berbagi cerita, makanan, hingga tugas sehari-hari.
Abeng bahkan sempat membuat telur dadar untuk Enzo, peserta asal Prancis.
“Gimana telur dadar buatan saya?” tanya Abeng.
Pujian sederhana pun datang.
“Enak..enak..,” jawab Enzo.
Bagi Abeng, momen itu menjadi kenangan sebelum suasana di kapal berubah drastis.
Protokol Intersep Mulai Diterapkan
Memasuki malam keempat setelah bertolak dari Pelabuhan Marmaris, Turki, kondisi laut masih ganas. Ombak tinggi dan angin kencang membuat pelayaran tidak mudah.
Namun, tubuh para peserta mulai beradaptasi.
Tiba-tiba, kapten kapal memberikan instruksi yang sudah mereka kenal sejak pelatihan.
“Terapkan protokol intersep,” kata sang kapten.
Instruksi tersebut langsung diikuti seluruh peserta. Mereka mengenakan pakaian lengkap, jaket pelampung, sepatu, serta perlengkapan sesuai tugas masing-masing.
Abeng bahkan mengalungkan paspornya di leher.
Malam itu, peserta kapal Bolarize bergantian berjaga. Setiap orang mendapat giliran patroli selama sekitar empat jam.
Mereka mengawasi langit dan sekeliling kapal untuk memastikan tidak ada drone, kapal mencurigakan, maupun aktivitas lain yang mengarah pada intersepsi.
“Patrolinya seperti melihat langit di atas kapal, apakah ada pesawat nirawak (drone) apa nggak, ada yang berada di haluan, buritan, dan ruang kemudi,” tutur Abeng kepada JawaPos.com, Senin (1/6).
Fajar tiba. Situasi masih terlihat aman.
Namun, status protokol intersep belum dicabut.
Kapal Perang Mendekat
Senin (18/5) pagi, kapal Bolarize telah memasuki perairan internasional di selatan Siprus. Jaraknya sekitar 250 mil laut dari pantai Gaza.
Aktivitas para relawan berjalan seperti biasa. Sarapan, minum teh, dan bercengkerama masih menjadi rutinitas.
Sampai kemudian sebuah kapal perang terlihat mendekat.
Kapten kembali meminta seluruh peserta menerapkan protokol intersep.
“Kita tetap berlayar. Normal saja berlayar. Kita sudah tahu bahwa ada kapal perang, tapi belum tahu kapal perang siapa,” kata Abeng.
Tak sampai satu jam, dua speed boat bergerak dari kapal perang tersebut.
Kecurigaan berubah menjadi kepastian. Kapten menyampaikan bahwa kapal mereka didatangi pasukan Angkatan Laut Israel.
Abeng sempat mengirim video SOS.
Namun, komunikasi semakin sulit.
“Signal sudah dibajak,” ujarnya.
Tak lama kemudian, menurut kesaksian Abeng, terdengar suara tembakan dari arah pasukan yang mendekati kapal Bolarize.
Para peserta diminta mengangkat tangan. Kapal kemudian digeledah.
Menurut Abeng, para peserta mengalami perlakuan kasar selama proses tersebut. Atribut Palestina yang ditemukan di kapal juga disebut dibuang.
Kafieh yang dipakai Abeng turut diambil.
“Benda setan katanya,” ujar Abeng menirukan ucapan yang didengarnya saat itu.
Tiga Hari Dua Malam di Kapal Perang
Setelah diintersep, Abeng bersama peserta lainnya dibawa ke kapal perang.
Di sana, menurut kesaksiannya, seluruh barang milik para peserta diperiksa kembali. Paspor, obat-obatan, kacamata, topi, jaket, dan barang lainnya disebut disita sementara.
Abeng mengaku hanya mengenakan celana dan kaus selama berada di ruang tahanan kapal perang.
Selama tiga hari dua malam, ia juga menyebut para tahanan ditempatkan dalam kondisi yang sangat tidak nyaman.
Peti kemas yang digunakan sebagai ruang tahanan disebut dibiarkan basah. Air laut disemprotkan ke lantai, sementara lampu ruangan terus menyala.
Kondisi tersebut membuat para tahanan kedinginan, sulit tidur, dan harus berhadapan dengan bau tidak sedap.
Sebagai bentuk protes, para relawan melakukan mogok makan.
Abeng ikut dalam aksi tersebut. Ia mengaku hanya meminum sedikit air yang diberikan kepada para tahanan.
Meski berada dalam kondisi tertekan, para relawan tetap berusaha saling menguatkan.
“Free Palestine,” menjadi salah satu seruan yang mereka gaungkan meski disebut dilarang oleh penjaga.
Mengaku Disiksa dan Diancam Potong Tangan
Penderitaan Abeng, menurut kesaksiannya, tidak berhenti setelah meninggalkan kapal perang.
Ia mengaku dibawa ke daratan dan menjalani serangkaian pemeriksaan di fasilitas imigrasi Israel. Tangannya disebut diikat menggunakan kabel ties hingga meninggalkan bekas.
Dalam proses tersebut, Abeng juga mengaku mengalami kekerasan fisik.
Salah satu kejadian yang paling membekas terjadi ketika gelang yang dikenakannya sulit dilepas.
Gelang tersebut disebut ditarik paksa hingga membuat tangannya sakit. Abeng kemudian mengaku mendapat ancaman dari seorang tentara Israel.
“I cut your hand, I cut your hand,” kata Abeng menirukan ancaman tersebut.
Gelang itu akhirnya dipotong menggunakan alat pemotong berukuran besar.
Setelah menjalani pemeriksaan, Abeng kembali menjalani interogasi selama berjam-jam.
Di tengah proses tersebut, tim pendamping hukum dari Adalah, organisasi bantuan hukum yang mendampingi warga Palestina, disebut datang dan memberikan arahan agar para peserta tidak menandatangani dokumen apa pun yang disodorkan petugas.
Namun, proses penahanan belum berakhir.
Abeng bersama puluhan tahanan lainnya kemudian dimasukkan ke mobil baja.
Ia menyebut sekitar 26 orang berada dalam satu kendaraan dan harus menunggu selama hampir empat jam tanpa makanan dan akses toilet.
Konvoi kendaraan tersebut kemudian bergerak selama hampir enam jam menuju lokasi penahanan.
Tujuannya adalah Penjara Kedziot, fasilitas penahanan yang berada di kawasan Gurun Negev.
Kesaksian tentang Pemeriksaan Tubuh
Di Penjara Kedziot, Abeng mengaku kembali mengalami pemeriksaan tubuh.
Ia mengatakan dirinya sempat khawatir karena beberapa penjaga memanggilnya dengan sebutan yang berbeda dan menyebut penampilannya menyerupai perempuan.
Kekhawatiran itu semakin besar ketika ia menjalani pemeriksaan tanpa busana.
Menurut Abeng, pemeriksaan dilakukan dalam beberapa tahap. Ia mengaku diminta menghadap tembok dan membuka kaki.
Dalam kesaksiannya, ia mengaku mengalami perlakuan yang menurutnya merupakan pelecehan terhadap tubuhnya.
Setelah pemeriksaan, Abeng dimasukkan ke ruang sel berukuran sekitar 2 x 2 meter bersama sejumlah tahanan lainnya.
Kondisi sel disebut sangat sempit. Para tahanan juga diminta menunduk dan tidak diperbolehkan berdiri dalam waktu tertentu.
Abeng mengaku beberapa tahanan mendapat perlakuan kasar jika dianggap melanggar perintah penjaga.
Dibawa ke Bandara, Bertemu Rekan Sekantor
Setelah beberapa kali berpindah ruang tahanan, Abeng kembali dimasukkan ke kendaraan baja.
Ia mengaku tidak mengetahui tujuan perjalanan tersebut.
Sampai seorang tentara menyebut kalimat yang justru membuatnya terharu.
“Welcome to Gaza,” ujar tentara tersebut, menurut kesaksian Abeng.
Abeng sempat mengira dirinya benar-benar dibawa menuju Gaza.
Belakangan, ia mengetahui rombongan tersebut dibawa menuju Bandara Internasional Ramon di Israel selatan.
Di bandara, borgol dilepas. Para peserta kemudian dipindahkan ke pesawat Turkish Airlines.
Di sanalah Abeng akhirnya kembali bertemu rekannya, Thoudy, yang juga menjadi peserta Global Sumud Flotilla.
Mereka sebelumnya terpisah selama lima hingga enam hari.
“Nah saya baru ketemu Thoudy pas di pesawat. Berarti sudah 5-6 hari nggak ketemu. Di situ semua terharu,” kata Abeng.
Kisah Abeng menjadi bagian dari rangkaian perjalanan peserta Global Sumud Flotilla yang berupaya mencapai Gaza melalui jalur laut. Kesaksiannya menggambarkan perjalanan yang awalnya dipenuhi semangat solidaritas kemanusiaan, tetapi berujung pada intersepsi, penahanan, dan pengalaman traumatis yang masih membekas setelah ia kembali. (*)
Catatan: Kesaksian mengenai perlakuan pasukan Israel dalam berita ini disampaikan berdasarkan pengalaman dan keterangan Bambang Noroyono alias Abeng kepada JawaPos.com. Tuduhan tersebut merupakan klaim narasumber dan perlu dibedakan dari fakta yang telah diverifikasi secara independen.
Editor : Ali SodiqinSumber : jawapos.com