Iran Dicekik dari Segala Arah, AS Putus Lima Jalur Ekonomi Teheran

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:00 WIB
Iran mengancam memadamkan listrik negara-negara Teluk jika AS atau Israel menyerang pembangkitnya. Saudi, UEA, dan Qatar berupaya cegah eskalasi. (Ilustrasi ChatGPT)
AS meluncurkan “Operasi Pengasingan Ekonomi” untuk menekan Iran. Lima sektor disasar, termasuk minyak, teknologi, emas, penerbangan, dan kapal. (Ilustrasi ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI — Amerika Serikat kembali memperketat tekanan terhadap Iran dengan meluncurkan kampanye ekonomi besar-besaran yang dijuluki “Operasi Pengasingan Ekonomi”. Strategi yang diumumkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin (24/8/2026) itu menargetkan jalur pendapatan dan jaringan keuangan Iran di berbagai negara, termasuk sektor minyak yang menjadi sumber penting pemasukan Teheran.

Washington ingin membuat Iran semakin sulit mengubah perdagangan dan ekspor menjadi pendapatan bagi pemerintah.

“Tujuan kami adalah memutus setiap jalur ekonomi yang menopang rezim tirani ini,” kata Bessent, seperti dikutip Al Jazeera, Selasa (25/8/2026).

Kampanye tersebut bukan sekadar tambahan daftar sanksi. AS juga mengirim pesan kepada negara dan perusahaan di seluruh dunia: tetap berbisnis dengan Iran berarti menghadapi risiko sanksi Amerika.

Lima Jalur Ekonomi Iran Jadi Sasaran

Departemen Keuangan AS memusatkan sanksi terbaru pada lima sektor yang dianggap penting bagi jaringan ekonomi Iran.

Kelima sektor tersebut adalah:

Washington juga menjatuhkan sanksi terhadap sekitar 60 entitas, kapal, dan individu yang berada di sejumlah negara, termasuk Uni Emirat Arab, Hong Kong, China, Singapura, dan Swiss.

AS menuduh pihak-pihak tersebut membantu Iran mempertahankan jaringan perdagangan serta akses terhadap pendapatan internasional.

Sektor minyak tetap menjadi perhatian utama Washington. Bessent memperingatkan perusahaan maupun negara yang membantu Iran mengubah minyak menjadi sumber pendapatan pemerintah dapat menjadi sasaran sanksi.

Artinya, tekanan AS tidak hanya diarahkan kepada entitas yang berada di Iran, tetapi juga kepada pihak ketiga yang dianggap membantu Teheran.

Negara dan Perusahaan Diminta Memilih

Inilah bagian yang membuat kampanye terbaru Washington memiliki dampak lebih luas.

Bessent menegaskan tidak ada pihak yang kebal terhadap sanksi Amerika Serikat. Negara maupun perusahaan yang tetap melakukan transaksi dengan entitas Iran berpotensi menghadapi sanksi sekunder.

Mekanisme tersebut memungkinkan Washington menekan perusahaan atau lembaga yang bukan bagian dari pemerintahan Iran tetapi tetap melakukan transaksi dengan pihak yang masuk daftar sanksi.

Bessent menggambarkan situasi tersebut sebagai pilihan strategis.

Negara yang bekerja sama dengan Amerika Serikat, kata dia, akan memperoleh manfaat dari hubungan tersebut. Sebaliknya, pihak yang memilih mempertahankan hubungan dengan Iran harus siap menghadapi konsekuensi ekonomi.

Meski demikian, paket sanksi terbaru belum secara langsung menyasar lembaga ekonomi internasional utama yang memiliki hubungan dengan Iran.

Mengapa Disebut “Hari-H Ekonomi”?

Bessent menggunakan istilah “hari-H ekonomi” untuk menggambarkan kampanye tersebut.

Istilah “hari-H” merujuk pada D-Day, pendaratan besar pasukan Sekutu di Normandia, Prancis, dalam Perang Dunia II.

Pemilihan istilah itu bukan tanpa alasan. Washington ingin menunjukkan bahwa operasi ekonomi tersebut merupakan serangan besar untuk memutus kemampuan Iran menghasilkan dan mengakses pendapatan.

Namun, Bessent menegaskan AS tidak bermaksud menghancurkan sistem keuangan global.

Menurut dia, negara dan perusahaan masih memiliki kesempatan mengubah perilaku sebelum terkena sanksi.

Persoalannya, ancaman sanksi sekunder tetap dapat menimbulkan efek berantai terhadap perdagangan internasional karena perusahaan global harus memperhitungkan risiko berhubungan dengan Iran.

Tekanan Ekonomi Datang Setelah Perang

Kampanye tersebut diluncurkan hampir enam bulan setelah perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah.

Serangan AS dan Israel sebelumnya menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah pejabat senior Iran. Namun, operasi militer tersebut tidak berhasil menggulingkan pemerintahan di Teheran.

Iran kemudian melakukan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah wilayah.

Teheran juga memperketat kendalinya atas Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.

Gangguan di kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dan gas global serta mendorong volatilitas harga energi.

Berbagai putaran pertempuran dan diplomasi belum menghasilkan penyelesaian permanen.

Karena itu, Washington kini memperluas medan tekanannya dari militer ke ekonomi.

Apa Tujuan AS Menekan Iran?

Tekanan ekonomi terbaru diarahkan untuk memaksa Teheran membuat konsesi.

Washington antara lain menginginkan Iran menghentikan program nuklirnya serta menghentikan serangan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Pada April 2026, AS juga mengumumkan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.

Namun, Iran tetap menolak menyerah meski menghadapi tekanan ekonomi dan pengepungan laut.

Sina Toossi, peneliti Center for International Policy, mengatakan sanksi memang memberikan tekanan kepada Iran, terutama terhadap sektor ekspor minyak.

Namun, tekanan tersebut belum menghasilkan perubahan politik yang diinginkan Washington.

“Iran belum menyerah,” kata Toossi kepada Al Jazeera.

Menurutnya, kampanye ekonomi terbaru kemungkinan merupakan upaya meningkatkan tekanan setelah operasi militer sebelumnya belum menghasilkan hasil yang menentukan.

Iran: Sanksi AS Bukan Hal Baru

Teheran menolak kampanye baru Washington.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan sanksi ekonomi bukan sesuatu yang baru bagi negaranya. Menurut dia, Amerika Serikat hanya mengulangi kebijakan lama karena belum menemukan solusi lain untuk menghadapi Iran.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menilai Iran pada akhirnya akan kesulitan bertahan jika tekanan ekonomi terus diperbesar.

Hegseth memperkirakan Teheran tidak memiliki banyak pilihan selain kembali ke meja perundingan untuk membahas program nuklirnya.

Namun, opsi militer tetap terbuka.

Hegseth mengatakan Amerika Serikat dapat kembali menggunakan kekuatan militer apabila Iran melakukan tindakan yang dianggap membahayakan atau mengganggu pasukan AS.

Untuk saat ini, Washington memilih mengedepankan tekanan ekonomi sebagai instrumen utama.

Ujian Besar bagi Strategi Trump

“Operasi Pengasingan Ekonomi” menunjukkan perubahan fokus strategi Washington: dari serangan militer menuju upaya sistematis memutus sumber pendapatan Iran.

Sasarannya juga lebih luas daripada sekadar pemerintah Teheran. Jalur minyak, pelayaran, emas, teknologi, penerbangan, hingga aset digital menjadi bagian dari medan pertempuran ekonomi.

Namun, efektivitas strategi tersebut akan ditentukan oleh satu hal: apakah tekanan ekonomi akhirnya membuat Iran mengubah kebijakan atau justru mendorong Teheran mencari jalur perdagangan baru.

Washington berharap sanksi membawa Iran kembali ke meja perundingan. Teheran, sejauh ini, menunjukkan bahwa tekanan tersebut belum membuatnya menyerah.

Dengan begitu, “Operasi Pengasingan Ekonomi” bukan hanya perang melawan pendapatan Iran. Ini juga menjadi pertaruhan baru bagi pemerintahan Donald Trump untuk membuktikan bahwa tekanan ekonomi dapat menghasilkan sesuatu yang gagal dicapai melalui kekuatan militer. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Al Jazeera
Operasi Pengasingan Sanksi AS Scott Bessent Ekonomi Iran iran