Trump Umumkan “Perang Ekonomi” untuk Isolasi Iran, Negara yang Bantu Terancam Sanksi Berat

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 14:00 WIB
Donald Trump menolak proposal damai Iran dan menyebutnya sampah. Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz kini makin memanas. (ILUSTRASI CHATGPT IMAGE)
Trump mengumumkan perang ekonomi untuk mengisolasi Iran. Negara yang membantu Teheran terancam konsekuensi ekonomi berat dari AS. (ILUSTRASI CHATGPT IMAGE)

RADAR BANYUWANGI - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menaikkan tekanan terhadap Iran dengan mengumumkan operasi ekonomi besar-besaran yang menyasar bukan hanya Teheran, tetapi juga negara dan entitas yang masih membantu atau berbisnis dengan Iran. Ancaman ini disampaikan saat perang AS-Iran memasuki bulan keenam dan belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian diplomatik maupun militer.

Trump menyampaikan pengumuman tersebut melalui Truth Social pada Kamis (20/8). Ia menyebut kebijakan itu sebagai operasi ekonomi dengan skala yang belum pernah diterapkan terhadap negara lain.

“Hari ini saya mengumumkan operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah diterapkan terhadap negara mana pun!”

Trump juga menegaskan, negara yang memberikan dukungan kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang disebutnya “luar biasa berat”.

Trump Perluas Sasaran Tekanan ke Negara Pendukung Iran

Operasi ekonomi yang diumumkan Trump tidak hanya diarahkan langsung kepada Iran. Washington juga mengincar negara yang dinilai memberikan bantuan atau tetap melakukan hubungan bisnis dengan Teheran.

Trump menyebut lembaga keuangan, perusahaan, bandara, hingga entitas pemerintah sebagai bagian dari sasaran apabila mereka memberikan bantuan dalam bentuk apa pun kepada Iran.

“Setiap negara yang mengizinkan lembaga keuangan, perusahaan, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan bantuan dalam bentuk apa pun kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang luar biasa berat,” tulis Trump.

Namun, Trump belum merinci bentuk hukuman ekonomi yang akan diterapkan kepada negara-negara yang dianggap membantu Iran.

Langkah tersebut membuat ancaman tekanan ekonomi Washington berpotensi meluas dari konflik bilateral AS-Iran menjadi persoalan yang melibatkan negara ketiga dan pelaku bisnis internasional.

AS Siapkan Isolasi Ekonomi Iran

Pengumuman Trump datang beberapa hari setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan Washington akan memberlakukan isolasi ekonomi terhadap Iran.

Artinya, tekanan terhadap Iran tidak lagi sekadar mengandalkan operasi militer. Amerika Serikat juga berupaya mempersempit akses Iran terhadap jaringan keuangan, perdagangan, transportasi, dan aktivitas ekonomi internasional.

Kebijakan tersebut muncul ketika konflik AS-Iran telah memasuki bulan keenam. Meski intensitas saling serang belakangan disebut mereda, belum ada tanda kuat bahwa kedua pihak akan segera mencapai kesepakatan permanen.

Dalam beberapa hari terakhir, AS dan Iran masih disebut saling bertukar pesan. Namun, Trump pada Selasa (19/8) mengatakan pembicaraan telah dihentikan.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa jalur diplomasi masih berada dalam kondisi rapuh.

Selat Hormuz Masih Jadi Titik Panas

Di tengah eskalasi tekanan ekonomi, Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling strategis dalam konflik tersebut.

Iran masih menerapkan blokade efektif terhadap pelayaran melalui jalur tersebut setelah kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz gagal tercapai.

Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Karena itu, gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap perdagangan dan pasar energi global.

Trump bahkan sempat mengunggah pernyataan yang mengisyaratkan bahwa Selat Hormuz dapat menjadi “wilayah baru AS”.

Perkembangan tersebut menambah kompleksitas konflik yang sebelumnya sudah melibatkan aspek militer dan diplomasi, kini semakin bergeser ke ranah ekonomi serta perdagangan internasional.

Perang Ekonomi Bisa Berdampak ke Negara Ketiga

Dengan ancaman sanksi terhadap pihak yang membantu Iran, kebijakan Trump berpotensi membuat perusahaan dan pemerintah negara lain harus lebih berhati-hati dalam menjalankan hubungan ekonomi dengan Teheran.

Perusahaan yang memiliki transaksi dengan Iran dapat menghadapi risiko jika hubungan tersebut dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap negara tersebut.

Meski demikian, sampai pengumuman Trump pada Kamis (20/8), belum ada rincian resmi mengenai jenis sanksi, mekanisme penerapan, maupun daftar negara dan entitas yang akan menjadi sasaran.

Yang jelas, Trump kini membuka babak baru dalam konflik dengan Iran: bukan hanya perang di medan tempur, tetapi juga perang ekonomi untuk memutus akses Teheran terhadap dunia luar. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Trump Iran sanksi Iran perang ekonomi isolasi Iran selat hormuz