Geger! Greene Ungkap Dugaan Opsi Nuklir AS ke Iran, Gedung Putih Bungkam

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 15:00 WIB
Mantan anggota Kongres AS Marjorie Taylor Greene. (Foto: Gage Skidmore, via Wikimedia Commons)
Mantan anggota Kongres AS Marjorie Taylor Greene. (Foto: Gage Skidmore, via Wikimedia Commons)

RADAR BANYUWANGI – Klaim mengejutkan muncul di tengah perang Amerika Serikat (AS) dan Iran. Mantan anggota Kongres AS Marjorie Taylor Greene menyebut penggunaan senjata nuklir terhadap Iran telah dibahas dalam rapat strategi tingkat tinggi pemerintah Washington.

Pernyataan Greene disampaikan melalui akun X di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi konflik AS-Iran. Ia mengaku informasi tersebut bukan spekulasi, tetapi tidak membeberkan siapa pejabat yang terlibat maupun bukti yang menjadi dasar klaimnya.

“Mereka sedang membahas penggunaan senjata nuklir terhadap Iran dalam pertemuan strategi,” tulis Greene.

Ia kemudian menegaskan kembali klaim tersebut.

“Ya, kamu membaca itu dengan benar. Itu nyata. Aku tidak berspekulasi, aku tahu,” lanjutnya.

Klaim tersebut belum mendapat konfirmasi resmi dari pemerintah AS. Hingga laporan ini dibuat, Gedung Putih belum mengonfirmasi adanya pembahasan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran dan belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait pernyataan Greene.

Greene Soroti Dugaan Penurunan Ambang Nuklir

Greene tidak hanya mengklaim bahwa opsi nuklir dibahas. Ia juga memperingatkan adanya upaya menurunkan ambang penggunaan senjata nuklir dalam menghadapi Iran.

Menurut dia, jika benar opsi tersebut mulai masuk dalam pertimbangan strategis pemerintah, konsekuensinya dapat melampaui perang AS-Iran yang sedang berlangsung.

“Dan sekarang pemerintah kita adalah orang yang sebenarnya membahas penurunan ambang batas nuklir untuk menggunakan senjata nuklir melawan Iran,” tulis Greene.

Pernyataan itu menjadi sorotan karena penggunaan senjata nuklir berpotensi mengubah karakter konflik secara drastis. Serangan semacam itu juga dapat memicu respons berantai dan memperluas perang ke kawasan lain.

Greene kemudian mengaitkan peringatannya dengan pengalaman Amerika Serikat ketika menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945.

Menurut dia, korban jiwa dan dampak radiasi jangka panjang dari dua serangan tersebut semestinya menjadi pelajaran agar senjata nuklir tidak kembali digunakan dalam perang.

Peringatkan Risiko 'Nuclear Holocaust'

Greene bahkan memperingatkan kemungkinan konsekuensi yang sangat luas apabila senjata nuklir digunakan terhadap Iran.

Ia menyebut Presiden Donald Trump berpotensi menghadapi konsekuensi sejarah apabila mengambil keputusan yang membawa konflik menuju eskalasi nuklir.

Greene menggambarkan kemungkinan tersebut sebagai bencana nuklir yang dapat menyeret dunia ke dalam konflik besar, depresi ekonomi, serta penderitaan manusia dalam skala yang belum pernah terjadi selama generasi sekarang.

Karena itu, ia menyerukan masyarakat Amerika menolak segala kemungkinan penggunaan senjata nuklir dan mendesak perang dihentikan.

Greene Pertanyakan Dasar Intelijen Perang Iran

Selain isu nuklir, Greene juga mempertanyakan dasar intelijen yang digunakan untuk mendukung perang terhadap Iran.

Ia mengklaim Presiden Trump dan pemerintahannya telah menerima penilaian dari badan intelijen AS bahwa Iran masih jauh dari kemampuan membuat senjata nuklir.

Namun, menurut Greene, Israel selama bertahun-tahun terus menyampaikan klaim bahwa Iran hanya membutuhkan waktu singkat untuk mencapai kemampuan tersebut.

“Trump dan adminnya diberitahu oleh intelijen kami sendiri bahwa Iran tidak ada di mana pun untuk menciptakan senjata nuklir, kemudian Israel mengatakan hal yang sama yang diulang selama beberapa dekade, 'Iran hanya tinggal beberapa minggu lagi,” tulis Greene.

Greene mempertanyakan keputusan Washington yang tetap melanjutkan serangan meski terdapat perbedaan penilaian mengenai ancaman nuklir Iran.

“Jadi kami tetap saja mengebom,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan kritik Greene terhadap alasan strategis dan dasar intelijen yang digunakan dalam perang.

Selat Hormuz Jadi Sorotan

Greene juga menyinggung kondisi Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang berada di pusat perhatian selama konflik AS-Iran.

Aktivitas pelayaran melalui jalur tersebut mengalami tekanan, sementara persoalan navigasi dan akses di Selat Hormuz menjadi salah satu isu penting dalam upaya diplomasi untuk meredakan konflik.

Greene mempertentangkan kondisi tersebut dengan klaim kemenangan yang sebelumnya disampaikan pemerintahan Trump.

Menurut dia, apabila perang belum menghasilkan penyelesaian menentukan tetapi opsi penggunaan senjata nuklir justru mulai dibicarakan, risiko eskalasi menjadi semakin berbahaya.

Bagi Greene, situasi tersebut seharusnya menjadi alasan untuk menghentikan perang, bukan memperluas pilihan penggunaan kekuatan militer.

Gedung Putih Belum Konfirmasi Klaim Greene

Di akhir pernyataannya, Greene kembali menyerukan agar senjata nuklir tidak digunakan dan perang dihentikan.

Ia memperingatkan bahwa apabila senjata nuklir benar-benar digunakan, para pemimpin yang mengambil keputusan tersebut akan menghadapi pertanggungjawaban historis.

“Jika dan ketika itu terjadi, semua orang, dan maksud saya semua orang, akan menganggap SEMUA orang yang memimpin saat ini bertanggung jawab penuh atas sisa sejarah manusia,” tulis Greene.

Greene kemudian menutup pernyataannya dengan seruan:

“Jangan gunakan senjata nuklir dan hentikan perang ini SEKARANG.”

Hingga laporan ini dibuat, belum ada konfirmasi independen mengenai klaim Greene bahwa pemerintah AS membahas penggunaan senjata nuklir terhadap Iran. Gedung Putih juga belum mengonfirmasi tuduhan tersebut maupun memberikan penjelasan mengenai isi rapat strategi yang dimaksud.

Dengan demikian, klaim Greene masih menjadi pernyataan seorang tokoh politik dan belum dapat diperlakukan sebagai fakta yang telah dikonfirmasi pemerintah AS. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
perang AS Iran nuklir Iran Marjorie Greene donald trump gedung putih