Iran Pasang Sayembara Rp471 Juta untuk Tangkap atau Bunuh Tentara AS, Hadiah Perempuan Dua Kali Lipat

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 22:00 WIB
Kepala Angkatan Darat Iran, Amir Hatami. (AzerNews)
Kepala Angkatan Darat Iran, Amir Hatami. (AzerNews)

RADAR BANYUWANGI — Iran menaikkan tensi perang dengan Amerika Serikat lewat sayembara yang tak biasa. Kepala Angkatan Darat Iran Amir Hatami menawarkan hadiah hingga 5 miliar toman atau sekitar USD 30.000 kepada siapa pun yang berhasil membunuh atau menangkap personel militer AS yang disebut menyerang Iran.

Yang membuat pernyataan itu semakin mencolok, hadiah tersebut dijanjikan dua kali lipat bagi perempuan Iran yang melakukan aksi serupa.

Hatami menyampaikan tawaran tersebut kepada kantor berita resmi Iran, IRNA, di tengah konflik Iran-AS yang masih berlangsung. Ia mengatakan militer Iran menerima banyak permintaan agar hadiah bagi tentara Amerika diberlakukan.

"Siapa pun yang membunuh atau menangkap dan menyerahkan personel militer Amerika yang menyerang akan menerima hadiah senilai USD 30.000 atau 5 miliar toman dari Angkatan Darat Republik Islam Iran," kata Hatami kepada IRNA.

Tak lama kemudian, Hatami menambahkan insentif khusus bagi perempuan.

"Perempuan Iran yang berani melakukan tindakan tersebut akan menerima hadiah dua kali lipat."

Pernyataan itu langsung memunculkan pertanyaan besar: di mana dan bagaimana sayembara tersebut bisa direalisasikan?

Hadiah Besar, tetapi Target Dipertanyakan

Persoalannya, keberadaan pasukan darat Amerika Serikat di wilayah Iran tidak diketahui secara luas.

Dalam laporan yang menjadi dasar pernyataan tersebut, sebanyak 18 personel militer AS disebut tewas sejak perang dimulai pada 28 Februari. Namun, mereka dilaporkan meninggal di luar wilayah Iran, termasuk dalam serangan udara dan insiden yang berkaitan dengan amunisi.

Karena itu, tawaran hadiah dari Hatami menghadirkan paradoks tersendiri. Militer Iran menawarkan uang besar untuk menangkap atau membunuh tentara AS, tetapi keberadaan personel militer Amerika yang dapat menjadi sasaran sayembara di dalam Iran justru menjadi tanda tanya.

Terakhir kali seorang tentara AS diketahui berada di wilayah Iran terjadi pada April, ketika sebuah jet tempur F-15E jatuh. Insiden itu kemudian memicu operasi penyelamatan terhadap pilot dan spesialis persenjataan pesawat tersebut.

Hatami tidak menjelaskan secara rinci mengenai lokasi ataupun situasi yang memungkinkan warga Iran merealisasikan sayembara tersebut.

Senjata Disebut Akan Masuk Museum

Bukan hanya hadiah yang diumumkan.

Hatami juga berbicara mengenai senjata yang digunakan dalam aksi terhadap personel militer AS. Ia mengatakan senjata tersebut nantinya akan disimpan di sebuah museum yang masih berada dalam tahap perencanaan.

Namun, tidak ada informasi lebih lanjut mengenai lokasi museum, bentuk proyeknya, maupun kapan museum tersebut akan dibangun.

Pernyataan itu membuat sayembara yang diumumkan Hatami tidak sekadar menjadi pengumuman hadiah. Militer Iran juga membingkainya sebagai bagian dari narasi perjuangan menghadapi Amerika Serikat.

Di tengah perang, setiap pernyataan dari pejabat militer kedua negara memiliki dimensi lain: bukan hanya soal strategi di medan konflik, tetapi juga perang psikologis dan perebutan narasi di hadapan publik.

Muncul di Tengah Tekanan Ekonomi Iran

Pengumuman hadiah tersebut juga muncul ketika Iran menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat akibat perang dan blokade laut Amerika Serikat.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya berulang kali menyatakan Iran mengalami kesulitan dalam membiayai pasukannya. Tekanan terhadap perekonomian Teheran semakin besar setelah blokade laut AS kembali diberlakukan.

Nilai tukar rial Iran pun dilaporkan merosot ke level terendah selama periode perang. Pada saat yang sama, inflasi melonjak ke tingkat yang disebut mencapai rekor.

Situasi tersebut membuat pemerintah Iran menghadapi persoalan ganda: mempertahankan kemampuan militernya sekaligus menghadapi tekanan ekonomi yang semakin kuat.

Dalam konteks itulah, tawaran hadiah bagi warga yang berhasil menangkap atau membunuh tentara AS menjadi salah satu retorika paling keras dari militer Iran selama konflik berlangsung.

Sayembara Rp471 Juta Masih Menyisakan Tanda Tanya

Jika dikonversikan berdasarkan angka yang disebut Hatami, hadiah utama mencapai sekitar USD 30.000 atau 5 miliar toman. Sementara perempuan Iran yang memenuhi syarat tersebut dijanjikan hadiah dua kali lipat.

Akan tetapi, besarnya hadiah belum menjawab persoalan paling mendasar: siapa yang menjadi target dan di mana aksi tersebut dapat dilakukan?

Tanpa informasi mengenai keberadaan pasukan darat AS di wilayah Iran, mekanisme pelaksanaan sayembara tersebut masih belum jelas.

Pada akhirnya, pengumuman Hatami lebih mudah dibaca sebagai pesan politik dan psikologis di tengah perang Iran-AS, ketimbang program yang mekanisme pelaksanaannya telah dijelaskan secara terperinci.

Yang jelas, dengan menawarkan hadiah hingga miliaran toman dan memberikan insentif khusus kepada perempuan, Iran kembali menunjukkan bahwa perang dengan Amerika Serikat tidak hanya berlangsung melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui perang narasi yang semakin tajam. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
militer Iran Iran AS Tentara AS Amir Hatami perang iran