Usai 215 Tewas di Laut, AS Kini Bidik Kartel Narkoba di Daratan

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 21:00 WIB
PresidenAS Donald Trump dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. (radarmalioboro.jawapos.com)
PresidenAS Donald Trump dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. (radarmalioboro.jawapos.com)

RADAR BANYUWANGI – Perang Amerika Serikat terhadap kartel narkoba memasuki babak baru. Pemerintahan Presiden Donald Trump kini menyiapkan kemungkinan operasi serangan darat ke wilayah operasi kartel di Amerika Latin, memperluas kampanye militer yang sebelumnya dilakukan melalui serangan terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba di perairan internasional.

Rencana tersebut diungkapkan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth saat mengunjungi Panama pada pekan ini. Pernyataan itu menandai kemungkinan perubahan besar dalam strategi Washington: dari memburu jaringan penyelundupan di laut menjadi mengejar organisasi narkoba hingga ke daratan.

Dikutip dari AFP, Jumat (14/8/2026), Hegseth mengatakan operasi darat menjadi bagian dari agenda kerja sama antinarkoba yang melibatkan sejumlah negara sekutu Amerika Serikat.

Operasi Laut Tewaskan Sedikitnya 215 Orang

Pemerintahan Trump sebelumnya telah menjalankan operasi militer terhadap kapal-kapal yang diduga digunakan untuk mengangkut narkoba sejak September 2025.

Serangan dilakukan di kawasan Karibia dan Pasifik Timur. Hingga kini, rangkaian operasi tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 215 orang.

Langkah Washington itu menuai kritik keras. Sejumlah pihak menilai serangan terhadap kapal yang diduga membawa narkoba tanpa proses hukum yang memadai berpotensi menjadi tindakan pembunuhan di luar proses hukum.

Namun, pemerintahan Trump justru mempertahankan pendekatan tersebut.

Hegseth bahkan memberi sinyal bahwa pola operasi yang digunakan di laut dapat diterapkan di daratan.

"Dampaknya di darat pun akan sama," ujar Hegseth saat berbicara dari lokasi yang dirahasiakan di tengah hutan Panama pada Rabu (12/8) malam.

Menurutnya, Amerika Serikat tengah bekerja sama dengan Ekuador, Kolombia, serta negara-negara mitra lainnya untuk menghadapi organisasi penyelundup narkoba atau DTO.

Kartel Disebut Setara ISIS dan Al-Qaeda

Pernyataan Hegseth menunjukkan betapa seriusnya Washington memperlakukan kartel narkoba.

Ia mengatakan kelompok yang menyelundupkan narkoba atau dianggap mengancam warga Amerika Serikat dan negara mitra akan menjadi sasaran operasi.

"Di mana pun Anda menyelundupkan narkoba atau mengancam rakyat Amerika atau mitra-mitra kami, Anda adalah target, sama seperti ISIS atau Al-Qaeda," tegas Hegseth.

Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan pendekatan pemerintah Trump yang menempatkan jaringan kartel sebagai ancaman keamanan, bukan sekadar persoalan kriminalitas dan penegakan hukum.

Hegseth juga menegaskan bahwa Washington siap menggunakan seluruh kemampuan pemerintah AS untuk menghancurkan jaringan tersebut.

"Kami akan mendekat dan menghancurkan jaringan-jaringan ini dengan mengerahkan seluruh kemampuan pemerintah Amerika," katanya.

Libatkan Negara-negara Amerika Latin

Rencana operasi darat tersebut muncul bersamaan dengan latihan militer gabungan yang berlangsung di Panama.

Hegseth berada di negara tersebut untuk menghadiri latihan tahunan yang melibatkan lebih dari 20 negara. Agenda itu juga menjadi bagian dari upaya membangun Koalisi Amerika Melawan Kartel yang dipimpin Washington.

Aliansi tersebut menghimpun sejumlah negara Amerika Latin, terutama negara-negara yang memiliki pemerintahan berhaluan kanan, antara lain Argentina, Bolivia, Chile, Kolombia, Ekuador, Honduras, dan Peru.

Kerja sama tersebut berpotensi memberikan Washington akses lebih besar terhadap operasi antikartel di kawasan.

Kolaborasi dengan negara lokal menjadi penting karena jaringan narkoba tidak hanya bergerak melalui jalur laut, tetapi juga memanfaatkan wilayah daratan sebagai pusat produksi, penyimpanan, distribusi, dan jalur penyelundupan.

Meksiko Tak Masuk Koalisi Trump

Salah satu negara penting yang tidak masuk dalam koalisi tersebut adalah Meksiko.

Negara itu memiliki pemerintahan yang berhaluan kiri dan menjadi salah satu basis operasi kartel narkoba paling kuat di kawasan.

Ketiadaan Meksiko menjadi salah satu tantangan besar bagi strategi antikartel Washington. Pasalnya, jaringan narkoba yang beroperasi di kawasan Amerika Latin memiliki struktur lintas negara dan tidak mudah diberantas hanya dengan operasi militer di satu wilayah.

Di sisi lain, pemerintah negara-negara Amerika Latin juga harus mempertimbangkan persoalan kedaulatan jika operasi militer AS diperluas ke wilayah daratan.

Washington Perluas Perang terhadap Kartel

Dengan rencana tersebut, strategi antinarkoba pemerintahan Trump berpotensi memasuki fase yang jauh lebih agresif.

Sebelumnya, kapal-kapal yang dicurigai mengangkut narkoba menjadi sasaran operasi AS di perairan internasional. Kini, Washington membuka kemungkinan mengejar jaringan tersebut hingga ke daratan melalui kerja sama militer dengan negara-negara sekutu.

Bagi pemerintahan Trump, langkah itu merupakan upaya memutus rantai perdagangan narkoba sebelum mencapai Amerika Serikat.

Namun, perluasan operasi ke daratan juga berpotensi memunculkan persoalan baru, terutama terkait kedaulatan negara, aturan hukum internasional, serta risiko korban sipil.

Di tengah kritik terhadap operasi laut yang telah menewaskan sedikitnya 215 orang, rencana serangan darat Hegseth menjadi sinyal bahwa Washington belum berniat mengendurkan kampanye militernya terhadap kartel narkoba.

Sebaliknya, Amerika Serikat justru tengah menyiapkan medan baru untuk perang melawan jaringan narkoba: dari laut menuju daratan Amerika Latin. (*)

Editor : Ali Sodiqin
serangan AS kartel narkoba Pete Hegseth amerika latin donald trump