Trump Picu Kontroversi, Awak USS Abraham Lincoln Hampir 9 Bulan di Laut

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 20:00 WIB
Ilustrasi USS Abraham Lincoln. (Mehr News)
Ilustrasi USS Abraham Lincoln. (Mehr News)

RADAR BANYUWANGI – Hampir sembilan bulan berada di laut tanpa jeda ternyata belum dianggap cukup lama oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pernyataan tersebut memicu kontroversi karena muncul ketika kondisi awak USS Abraham Lincoln tengah menjadi sorotan, mulai dari kesehatan mental, logistik, hingga tekanan akibat penugasan panjang di tengah konflik dengan Iran.

Trump menolak anggapan bahwa keluarga para pelaut USS Abraham Lincoln mengkhawatirkan masa penugasan yang telah berlangsung lebih dari 240 hari. Sebaliknya, ia menyebut durasi tersebut belum terlalu panjang.

"Kapal itu sedang bergerak sekarang, atau akan segera bergerak, dan akan digantikan oleh kapal lain yang sangat mirip," kata Trump, sebagaimana dikutip AP, Sabtu (15/6/2026).

Pernyataan itu menjadi perhatian karena USS Abraham Lincoln sebelumnya telah menjalani pengerahan panjang setelah rencana penugasannya berubah dari kawasan Laut China Selatan menuju Timur Tengah.

USS Abraham Lincoln Segera Dipulangkan

Di tengah polemik tersebut, Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao menyampaikan bahwa USS Abraham Lincoln akan segera kembali ke Amerika Serikat.

Kepulangan itu menjadi penting bagi awak kapal yang telah berbulan-bulan menjalani kehidupan di tengah laut. Penugasan berkepanjangan juga menimbulkan pertanyaan mengenai kondisi personel, ketersediaan logistik, serta kesiapan kapal dan peralatannya.

Sorotan semakin besar karena operasi militer AS terhadap Iran bersama Israel yang sebelumnya diperkirakan berlangsung singkat justru memasuki bulan kelima.

Trump sendiri mengakui penggunaan kekuatan militer AS dalam konflik tersebut sedikit lebih banyak dari yang diinginkannya. Namun, ia tetap menegaskan bahwa operasi berjalan sesuai harapan.

Dalam pidatonya di Garden City, New York, Trump bahkan melontarkan pernyataan mengenai Selat Hormuz dengan nada bercanda, yakni bahwa dirinya sebentar lagi akan mendeklarasikan jalur pelayaran strategis tersebut sebagai wilayah Amerika Serikat.

Trump juga menegaskan tidak akan meminta maaf atas perang maupun dampaknya terhadap harga minyak.

"Saya tidak akan pernah meminta maaf. Saya melakukan hal yang benar," ujarnya.

Legislator AS Desak Pentagon Buka Kondisi Kapal

Masa penugasan USS Abraham Lincoln yang panjang kemudian mendapat sorotan dari sejumlah anggota parlemen AS.

Senator Richard Blumenthal dari Connecticut dan Senator Ruben Gallego dari Arizona termasuk politikus Partai Demokrat yang meminta Pentagon bertanggung jawab atas kondisi di kapal tersebut.

Pimpinan Demokrat di Komite Pengawasan DPR AS bahkan meminta pengarahan tertutup dari Pentagon. Mereka ingin mendapatkan penjelasan mengenai persediaan makanan, kondisi sanitasi, layanan kesehatan, serta perkiraan waktu USS Abraham Lincoln akan tetap dikerahkan sebelum kapal pengganti tiba.

Anggota DPR Jason Crow, veteran tiga penugasan di Irak dan Afghanistan, juga mengkritik pernyataan Trump melalui media sosial X.

"Presiden Trump tidak peduli terhadap anggota militer kita maupun keluarga mereka," tulis Crow.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya menyatakan laporan mengenai kondisi USS Abraham Lincoln telah disalahartikan sepenuhnya.

Angkatan Laut Bantah Ada Lonjakan Kasus Bunuh Diri

Persoalan kesehatan mental awak kapal juga menjadi bagian dari sorotan.

Sejumlah laporan sebelumnya menyebut adanya tekanan psikologis di kalangan personel akibat masa penugasan yang panjang. Namun, Angkatan Laut AS menyatakan belum melihat peningkatan kasus pikiran bunuh diri maupun percobaan bunuh diri di atas USS Abraham Lincoln.

Angkatan Laut AS juga menolak membuka data terkait persoalan tersebut. Alasannya berkaitan dengan keamanan operasional dan perlindungan privasi pasien.

Satu insiden yang terjadi pada awal Agustus turut menjadi perhatian. Seorang pelaut USS Abraham Lincoln dilaporkan jatuh ke laut.

Personel tersebut berhasil diselamatkan, mendapatkan perawatan dari tim medis kapal, kemudian dipindahkan ke fasilitas lain untuk penanganan lanjutan.

Pejabat Angkatan Laut yang mengungkap insiden itu tidak menjelaskan apakah kejadian tersebut dikategorikan sebagai percobaan bunuh diri.

Trump dan Iran Bersitegang soal Selat Hormuz

Kontroversi mengenai USS Abraham Lincoln berlangsung bersamaan dengan meningkatnya ketegangan AS-Iran terkait Selat Hormuz.

Iran secara tegas membantah pernyataan Trump mengenai kemungkinan Amerika Serikat menguasai jalur pelayaran strategis tersebut.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran. Ia juga menyindir pernyataan Trump dengan mengatakan bahwa selat tersebut tidak dapat direbut melalui pernyataan politik, kapal induk, maupun perintah sepihak.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengatakan belum ada negosiasi langsung antara Washington dan Teheran.

Menurutnya, Qatar dan Pakistan memang bertukar pesan dengan kedua pihak. Namun, komunikasi tersebut belum dapat disebut sebagai proses perundingan resmi.

Situasi keamanan di kawasan juga kembali memanas setelah United Kingdom Maritime Trade Operations Centre (UKMTO) menerima laporan terverifikasi mengenai sebuah kapal kargo curah yang terkena proyektil tak dikenal.

Dengan situasi yang belum sepenuhnya mereda, masa penugasan USS Abraham Lincoln menjadi salah satu persoalan yang terus mendapat perhatian. Di satu sisi, Washington masih membutuhkan kekuatan kapal induk untuk mendukung operasi di Timur Tengah. Di sisi lain, tekanan terhadap awak dan kapal setelah berbulan-bulan berada di laut menjadi persoalan yang sulit diabaikan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
kapal induk AS awak kapal selat hormuz donald trump USS Abraham Lincoln