Perang Iran Tak Kunjung Usai, Trump Dihantam 4 Masalah Sekaligus

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 15:00 WIB
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump. (Reuters)
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump. (Reuters)

RADAR BANYUWANGI — Perang Amerika Serikat melawan Iran yang berlarut-larut mulai menjadi beban berlapis bagi Presiden Donald Trump. Konflik yang semula diyakini Washington dapat dipaksa selesai dalam hitungan pekan kini menghadirkan persoalan baru: keamanan presiden dipertanyakan, persediaan rudal pencegat tertekan, suara internal untuk mengakhiri perang menguat, hingga prajurit di garis depan dilaporkan kelelahan.

Situasi tersebut menjadi sorotan karena perang yang dicanangkan Trump memasuki fase berkepanjangan, sementara klaim pemerintah AS bahwa kemampuan militer Iran telah dihancurkan terus berhadapan dengan kenyataan di lapangan.

Salah satu gambaran paling mencolok muncul ketika Trump tidak pulang dari KTT NATO di Turki menggunakan pesawat kepresidenan baru yang didonasikan Qatar. Ia justru kembali menggunakan Air Force One lama yang dinilai memiliki kemampuan pertahanan lebih lengkap.

CNN sebelumnya melaporkan bahwa keputusan tersebut setidaknya sebagian didorong pertimbangan keamanan terkait konflik Iran. Sejumlah pejabat AS mengatakan personel keamanan merasa lebih nyaman menerbangkan Trump dengan pesawat lama yang telah dilengkapi berbagai sistem pertahanan dan komunikasi khusus. 

Pergantian pesawat itu menjadi ironi tersendiri.

Sebab, di satu sisi Trump berulang kali menyatakan Iran telah kehilangan kemampuan militernya. Namun di sisi lain, ancaman dari Iran dan kelompok yang berafiliasi dengannya tetap menjadi pertimbangan serius dalam pengamanan presiden.

Pergantian Air Force One Jadi Sorotan

Kepulangan Trump dari Turki menjadi salah satu episode yang paling menyita perhatian.

Trump datang ke KTT NATO dengan pesawat baru yang diberikan Qatar, tetapi meninggalkan Turki menggunakan Air Force One lama. Awalnya, Trump menyampaikan alasan bahwa pesawat baru tersebut akan dikirim ke pangkalan militer Inggris agar personel AS dapat melihatnya.

Belakangan, laporan media AS mengungkap adanya persoalan keamanan.

CNN melaporkan empat pejabat AS menyebut keputusan menggunakan pesawat lama dipengaruhi kekhawatiran keamanan akibat konflik Iran. Pesawat lama disebut memiliki sistem pertahanan dan komunikasi yang lebih matang, sementara kemampuan pesawat baru dalam aspek tersebut menjadi pertanyaan. 

Trump sendiri mengakui ancaman terhadap dirinya menjadi persoalan serius. Ia mengatakan dirinya merupakan target utama Iran, meski tetap melontarkan pernyataan bernada mengecilkan ancaman tersebut. 

Episode ini akhirnya membuka pertanyaan yang lebih besar: jika Iran benar-benar sudah kehilangan taring seperti klaim Trump, mengapa aspek keamanan presiden masih harus menghadapi ancaman yang sedemikian serius?

Persediaan Rudal AS Ikut Jadi Pertaruhan

Masalah berikutnya berada jauh dari Gedung Putih, tetapi dampaknya bisa menentukan kemampuan Amerika mempertahankan perang.

Persediaan amunisi menjadi perhatian sejak awal konflik. Kekhawatiran itu semakin relevan ketika perang berlangsung lebih lama daripada perkiraan awal.

Dalam narasi yang disampaikan Trump, Iran semula diperkirakan dapat dilumpuhkan dalam waktu relatif singkat. Kenyataannya, konflik terus berlangsung dan kebutuhan terhadap sistem pertahanan udara serta rudal pencegat tetap tinggi.

Tekanan pada stok amunisi bukan sekadar persoalan berapa banyak rudal yang masih tersimpan.

Masalahnya adalah kecepatan produksi tidak bisa mengimbangi kebutuhan perang dalam waktu singkat.

Jika perang terus berlangsung, Amerika harus membagi persediaan antara kebutuhan operasi di Timur Tengah dan komitmen pertahanan di kawasan lain.

Ini dapat menciptakan persoalan strategis yang lebih luas.

Washington tidak hanya harus menghitung kemampuan menghadapi Iran, tetapi juga memastikan stok persenjataan tetap memadai untuk menghadapi potensi krisis lain, termasuk kemungkinan agresi China terhadap Taiwan.

Dengan kata lain, semakin panjang perang Iran, semakin besar pula biaya strategis yang harus ditanggung AS.

Dukungan Politik Mulai Retak

Tekanan terhadap Trump juga datang dari dalam negeri.

Sejumlah tokoh yang sebelumnya mendukung kebijakan keras terhadap Iran mulai menyuarakan perlunya mengakhiri konflik.

Ketua DPR AS Mike Johnson bahkan menyampaikan bahwa perang perlu diakhiri. Di kubu media konservatif, suara serupa mulai muncul.

Benny Johnson, salah satu pendukung Trump dari kalangan sayap kanan, secara terbuka meminta presiden mengalihkan perhatian kembali kepada persoalan domestik.

Pesannya sederhana: perang luar negeri yang tidak kunjung selesai dapat berubah menjadi beban politik.

Masalah itu menjadi semakin sensitif karena Amerika Serikat menghadapi pemilihan paruh waktu.

Jika perang terus memakan biaya, sementara masyarakat di dalam negeri masih menghadapi persoalan harga bahan bakar, makanan, perumahan, dan imigrasi, prioritas Trump dapat kembali dipertanyakan oleh pemilih.

Di titik inilah konflik Iran tidak lagi hanya menjadi persoalan militer.

Ia berubah menjadi persoalan politik domestik.

Prajurit AS Mulai Menanggung Beban Perang

Tekanan lainnya terjadi di lingkungan militer.

Durasi penugasan yang panjang membuat kondisi fisik dan mental prajurit menjadi perhatian. Salah satu contoh paling menonjol datang dari awak kapal induk USS Abraham Lincoln.

Kapal tersebut menjalani penugasan sangat panjang di kawasan Timur Tengah. Dalam laporan sejumlah media AS, keluarga personel mengeluhkan kelelahan akibat masa penugasan yang berkepanjangan.

Bahkan, muncul laporan mengenai sejumlah personel yang mengalami tekanan berat dan ingin segera kembali ke rumah.

USS Abraham Lincoln disebut telah berada di laut dalam periode yang sangat panjang. Kondisi penugasan seperti itu meningkatkan beban terhadap personel, terutama ketika perang tidak menunjukkan tanda penyelesaian cepat.

Angkatan Laut AS menyatakan kesejahteraan personelnya menjadi perhatian dan dukungan profesional, termasuk layanan medis, kesehatan mental, dan keagamaan tersedia bagi anggota yang membutuhkan.

Namun, cerita dari keluarga personel tetap menggambarkan persoalan yang lebih luas: perang yang panjang memiliki biaya manusia yang tidak bisa diukur hanya melalui jumlah rudal atau target yang dihancurkan.

Trump Menghadapi Empat Tekanan Sekaligus

Jika dirangkum, tekanan yang kini dihadapi Trump datang dari sedikitnya empat arah.

Pertama, keamanan. Ancaman terhadap presiden dan kebutuhan menggunakan pesawat lama menunjukkan bahwa konflik Iran masih dianggap berbahaya oleh aparat keamanan AS. 

Kedua, persenjataan. Perang berkepanjangan meningkatkan kebutuhan amunisi dan memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan AS mempertahankan stok untuk konflik lain.

Ketiga, politik. Suara untuk mengakhiri perang mulai muncul bahkan dari lingkungan pendukung Trump.

Keempat, personel. Penugasan panjang meningkatkan tekanan fisik dan mental terhadap prajurit yang berada di kawasan konflik.

Empat persoalan tersebut saling berkaitan.

Semakin lama perang berlangsung, semakin banyak amunisi yang digunakan. Semakin panjang penugasan, semakin besar beban prajurit. Semakin mahal perang, semakin besar pula tekanan politik di dalam negeri.

Dan semakin besar ancaman Iran, semakin sulit bagi Trump mempertahankan narasi bahwa musuhnya sudah sepenuhnya kehilangan kemampuan.

Perang Iran Jadi Ujian Terbesar Trump

Trump masih memiliki pilihan untuk melanjutkan tekanan militer ataupun membuka jalan menuju penyelesaian diplomatik.

Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensi.

Melanjutkan perang berarti mempertaruhkan lebih banyak persenjataan, anggaran, keselamatan personel, dan modal politik.

Mengakhiri perang juga bukan perkara sederhana karena Trump harus menjelaskan kepada publik mengapa konflik dihentikan jika tujuan awal belum sepenuhnya tercapai.

Itulah dilema yang kini berada di hadapan Gedung Putih.

Perang Iran yang semula diproyeksikan sebagai operasi untuk menunjukkan kekuatan Amerika justru berkembang menjadi ujian terhadap ketahanan militer, politik, dan kepemimpinan Trump.

Pergantian Air Force One, tekanan persenjataan, retaknya dukungan politik, hingga kelelahan prajurit memberikan satu gambaran yang sama.

Semakin panjang perang berlangsung, semakin mahal harga yang harus dibayar Trump.

Dan pertanyaan terbesarnya kini bukan lagi seberapa keras Amerika dapat menyerang Iran, melainkan berapa lama Washington mampu mempertahankan perang sebelum tekanan dari dalam negeri memaksa Trump mengubah arah. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Trump Iran Air Force One donald trump perang iran militer as