Iran Sesumbar Siap Perang hingga Trump Lengser, IRGC Ungkap Strategi Kuras AS

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 15:00 WIB
Ilustrasi Iran dilaporkan tembakkan rudal ke pangkalan militer AS di Arab Saudi. (RoyaNews)
Ilustrasi Iran dilaporkan tembakkan rudal ke pangkalan militer AS di Arab Saudi. (RoyaNews)

RADAR BANYUWANGI — Perang Iran-Amerika Serikat (AS) memasuki babak yang semakin menguras daya tahan kedua pihak. Di tengah tekanan blokade laut dan ancaman eskalasi, komandan senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi, justru melontarkan klaim mengejutkan: Iran mengaku siap menjalani perang berkepanjangan, bahkan hingga masa jabatan Presiden AS Donald Trump berakhir.

Naqdi menyampaikan keyakinan tersebut dalam wawancara dengan media Amerika, PBS, yang disiarkan pada Selasa lalu. Ia menegaskan bahwa strategi Teheran bukan sekadar bertahan, melainkan membangun deterrence atau daya tangkal agar AS dan negara lain berpikir berkali-kali sebelum kembali menyerang Iran.

Menurut Naqdi, salah satu cara mencapai tujuan itu adalah memperpanjang konflik sampai pemerintahan berikutnya di Washington. Dengan begitu, Iran berharap perang berubah menjadi konflik yang menguras sumber daya, persenjataan, dan daya tahan politik lawannya.

“Semakin lama perang ini berlangsung, semakin banyak pengalaman yang kami peroleh,” kata Naqdi dalam wawancara tersebut.

Iran Ingin Membuat AS Membayar Mahal

Naqdi mengatakan Iran kini memiliki pengalaman yang sebelumnya tidak dimiliki militernya: pengalaman menghadapi langsung kekuatan militer Amerika dalam perang nyata.

Ia mengklaim Teheran telah mempelajari pola operasi militer AS selama sekitar lima bulan konflik. Dari pengalaman itu, kata Naqdi, Iran menilai kekuatan Amerika tidak sebesar yang sebelumnya mereka bayangkan.

“Kami juga melihat bahwa militer Amerika ternyata lebih lemah daripada yang kami bayangkan sebelumnya,” ujarnya.

Klaim tersebut muncul ketika Washington terus memberikan tekanan terhadap Teheran. Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak April sebagai bagian dari upaya menekan ekonomi Iran dan memaksa Teheran membuka kembali jalur pelayaran di kawasan Selat Hormuz. 

Situasi tersebut belum mereda. Per 13 Agustus, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Angkatan Laut Amerika dapat mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran tanpa batas waktu dengan sistem rotasi kapal perang. 

Dengan demikian, ancaman perang berkepanjangan yang disampaikan Naqdi bukan muncul dalam ruang hampa. Konflik masih berkaitan erat dengan perebutan pengaruh di Selat Hormuz, jalur strategis yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia.

Naqdi Klaim Iran Bisa Bertempur Bertahun-tahun

Salah satu klaim paling berani Naqdi berkaitan dengan kemampuan produksi persenjataan Iran.

Ia mengatakan Iran mampu memproduksi pesawat nirawak dan rudal dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan tingkat penggunaannya. Jika klaim tersebut benar, kondisi itu akan memungkinkan Teheran mempertahankan kemampuan serangan dalam periode panjang.

Naqdi bahkan menyebut Iran bisa terus bertempur selama bertahun-tahun.

Namun, ia juga mengakui bahwa persediaan persenjataan dapat menjadi persoalan jika perang berlangsung terlalu lama. Karena itu, menurut Naqdi, Iran memiliki opsi lain apabila stok rudal dan drone akhirnya menipis.

Teheran, kata dia, dapat mengalihkan sasaran ke “ribuan kepentingan ekonomi” Amerika Serikat di berbagai penjuru dunia.

Pernyataan tersebut secara tidak langsung memperlihatkan strategi perang asimetris Iran: tidak selalu menghadapi kekuatan AS secara langsung, tetapi memperluas titik tekanan terhadap kepentingan Washington.

Trump di Persimpangan: Eskalasi atau Kesepakatan?

Di sisi lain, Presiden Donald Trump menghadapi dilema politik dan militer. Trump beberapa kali berganti sikap antara mengancam eskalasi militer lebih lanjut dan menyatakan Iran sudah cukup tertekan untuk menerima kesepakatan yang menguntungkan Washington.

Konflik juga semakin menjadi persoalan politik domestik Amerika menjelang pemilihan paruh waktu pada November. Tekanan ekonomi akibat gangguan perdagangan energi dan tingginya harga bahan bakar menjadi salah satu risiko politik bagi pemerintahan Trump.

Situasi di lapangan pun tetap dinamis. Amerika Serikat masih berusaha mempertahankan tekanan terhadap Iran melalui blokade, sementara Teheran menegaskan posisi tawarnya di kawasan.

Pada 13 Agustus, Iran dan Amerika bahkan saling mengklaim kendali atas Selat Hormuz. Pejabat Iran menyatakan selat tersebut berada di bawah kendali Teheran, sedangkan Trump sebelumnya mengklaim Amerika memiliki kendali penuh atas jalur strategis tersebut. 

Selat Hormuz menjadi titik krusial karena gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi berdampak langsung pada pasokan minyak dan gas global. Iran sebelumnya menutup selat sebagai respons terhadap serangan Amerika dan Israel, sementara Washington kemudian memberlakukan blokade untuk menekan Teheran.

Lima Bulan Perang dan Ancaman Perang Tanpa Akhir

Konflik Iran-AS dimulai pada 28 Februari 2026 setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Perang kemudian berkembang menjadi konflik berlapis yang melibatkan serangan militer, tekanan ekonomi, blokade maritim, serta perebutan kendali jalur perdagangan strategis.

Amerika Serikat mengklaim telah memberikan kerusakan besar terhadap kemampuan militer Iran. Namun, pemerintahan Teheran tetap bertahan dan melancarkan serangan balasan terhadap kepentingan Amerika serta sekutunya di kawasan.

Tekanan terbaru bahkan merambah lalu lintas pelayaran. Pada 11 Agustus, militer AS menonaktifkan kapal berbendera Panama yang disebut berusaha menerobos blokade terhadap Iran. Insiden itu menjadi salah satu dari serangkaian tindakan AS terhadap kapal yang dianggap melanggar blokade. 

Di sisi lain, kelompok yang didukung Iran juga meningkatkan tekanan di kawasan. Serangan terhadap kapal komersial di Laut Merah dan ketegangan di sekitar jalur energi membuat risiko konflik meluas semakin besar.

Bagi Iran, perang panjang bukan semata soal siapa yang memiliki persenjataan paling banyak. Naqdi ingin menunjukkan bahwa waktu juga bisa menjadi senjata.

Jika Teheran mampu mempertahankan produksi rudal dan drone, menjaga kemampuan serangan, serta membuat konflik terus membebani ekonomi dan politik Amerika, perang yang semakin panjang justru dapat mengubah perhitungan strategis Washington.

Itulah taruhan Iran: bukan harus mengalahkan Amerika dalam satu pertempuran, tetapi membuat biaya perang menjadi terlalu mahal untuk terus dipertahankan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Reuters, AP News
perang Iran AS selat hormuz donald trump rudal iran IRGC Iran