Trump Pasang Syarat Baru: Iran Diminta Bayar Kompensasi Konflik Masa Lalu

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:00 WIB
Donald Trump menyebut peluang kesepakatan AS-Iran sangat besar setelah pembicaraan intensif 24 jam terakhir. (JawaPos.com)
Donald Trump menuntut Iran membayar kompensasi atas konflik dan serangan masa lalu. (JawaPos.com)

RADAR BANYUWANGI – Upaya mengakhiri konflik Amerika Serikat dan Iran justru memasuki babak baru. Presiden AS Donald Trump kini menuntut kompensasi dari Teheran atas serangkaian serangan dan konflik yang disebut telah menewaskan serta melukai warga Amerika selama beberapa dekade.

Tuntutan tersebut disampaikan Trump melalui akun Truth Social miliknya, Selasa (11/8/2026), ketika negosiasi perdamaian dengan Iran masih menemui jalan buntu. Trump bahkan telah menginstruksikan perwakilannya agar tuntutan kompensasi dimasukkan dalam setiap pembicaraan dengan Teheran.

"Iran meminta kompensasi atas kerusakan yang mereka alami selama konflik militer lima bulan terakhir. Saya juga menuntut kompensasi dari Iran," tulis Trump, sebagaimana dilansir AFP.

Trump mengaitkan tuntutan itu dengan berbagai serangan yang menurutnya dilakukan atau didukung Iran. Salah satu yang disebut adalah pemboman USS Cole pada 2000.

Selain itu, Trump meminta kompensasi bagi keluarga para demonstran Iran yang menurutnya tewas dalam berbagai aksi selama lima dekade terakhir.

Tuntutan Baru di Tengah Negosiasi

Pernyataan Trump muncul ketika pembicaraan perdamaian AS-Iran belum menghasilkan kesepakatan final. Teheran sebelumnya juga mengajukan tuntutan kompensasi atas kerusakan akibat serangan militer AS selama konflik lima bulan terakhir.

Iran meminta AS mengakhiri blokade terhadap pelabuhan negaranya serta mencabut sanksi terhadap industri minyak sebelum membuka kembali akses di Selat Hormuz.

Situasi tersebut membuat proses diplomasi semakin kompleks. Kedua pihak sama-sama mengajukan tuntutan sebelum bersedia melangkah menuju kesepakatan.

Trump mengatakan telah meminta perwakilannya memasukkan tuntutan kompensasi tersebut secara tegas dalam seluruh negosiasi mendatang.

Langkah itu berpotensi menjadi salah satu isu paling sulit dalam upaya mencapai kesepakatan damai karena menyangkut kerugian akibat konflik, serangan masa lalu, serta klaim korban dari kedua belah pihak.

Trump Sempat Ancam Serangan Lebih Keras

Sikap Trump terhadap konflik Iran juga berubah-ubah dalam beberapa hari terakhir. Pekan sebelumnya, dia mengancam akan menyerang Iran "dengan sangat keras", termasuk kemungkinan menyasar infrastruktur sipil.

Namun, ancaman tersebut kemudian ditarik kembali. Trump justru memberi sinyal bahwa kesepakatan damai dengan Teheran sudah semakin dekat.

Sehari sebelum tuntutan kompensasi diumumkan, Trump juga menyatakan dirinya mengambil pendekatan yang lebih tenang. Dia mengisyaratkan bahwa tekanan ekonomi dapat terus digunakan sebagai alat untuk menekan Iran tanpa harus kembali meningkatkan intensitas serangan militer.

Perubahan pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Washington masih membuka ruang diplomasi, meski tuntutan baru terhadap Teheran berpotensi memperumit pembicaraan.

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis

Di tengah kebuntuan diplomasi, persoalan Selat Hormuz menjadi salah satu isu paling krusial.

Iran menahan pembukaan kembali jalur strategis tersebut dan mengaitkannya dengan tuntutan agar AS lebih dulu mengakhiri blokade serta mencabut sanksi terhadap sektor minyak Iran.

Gangguan di Selat Hormuz berdampak jauh melampaui kawasan Timur Tengah. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan energi dunia sehingga hambatan terhadap pelayaran berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar dan memperbesar tekanan terhadap perekonomian global.

Media Axios melaporkan Trump tidak menunjukkan kekecewaan besar atas penundaan pembukaan kembali Selat Hormuz. Dalam wawancara yang diterbitkan Minggu, Trump disebut tetap memilih pendekatan tekanan ekonomi dibandingkan langsung melancarkan serangan militer baru.

Namun, semakin lama negosiasi tertahan, semakin besar pula risiko ekonomi yang harus ditanggung berbagai negara.

Dua Tuntutan yang Berhadapan

Situasi terbaru memperlihatkan posisi negosiasi Washington dan Teheran masih berseberangan.

Iran menuntut kompensasi atas kerusakan akibat serangan AS, sekaligus meminta pencabutan blokade dan sanksi minyak. Di sisi lain, Trump justru membawa tuntutan kompensasi dari Iran atas serangan dan korban warga Amerika ke meja perundingan.

Dengan demikian, kompensasi kini berpotensi menjadi salah satu kunci sekaligus penghambat utama kesepakatan damai.

Bagi Trump, tuntutan tersebut merupakan bagian dari upaya mempertanggungjawabkan berbagai serangan yang dikaitkan dengan Iran. Bagi Teheran, penghentian tekanan ekonomi dan kompensasi atas kerusakan perang menjadi bagian penting sebelum kesepakatan dapat dicapai.

Perbedaan kepentingan itu membuat jalan menuju perdamaian masih panjang. Terlebih, setiap keputusan terkait Selat Hormuz berpotensi langsung memengaruhi harga energi dan stabilitas ekonomi dunia.

Untuk saat ini, diplomasi menjadi pilihan yang masih dipertahankan Washington. Namun, dengan munculnya tuntutan kompensasi baru dari Trump, perundingan damai AS-Iran diperkirakan akan menghadapi tantangan yang semakin berat. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Trump Iran kompensasi perang negosiasi damai selat hormuz konflik AS Iran