Trump Disebut Kalah Lawan Iran, Senator Demokrat Desak Perang Segera Diakhiri

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:35 WIB
Ilustrasi mimik wajah marah Donald Trump. (CNN)
Ilustrasi mimik wajah marah Donald Trump. (CNN)

RADAR BANYUWANGI – Kritik tajam datang dari internal Amerika Serikat ketika perang dengan Iran belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Senator Demokrat Chris Murphy menilai Presiden Donald Trump justru telah kalah secara strategis dalam konflik tersebut.

Murphy menilai berlanjutnya operasi militer tidak membuat Iran semakin terdesak. Sebaliknya, setiap hari tambahan perang disebut memperlemah posisi Amerika Serikat, memperkuat Iran, sekaligus menambah beban ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan Murphy dalam wawancara dengan NBC pada Minggu.

"Amerika lebih lemah. Iran lebih kuat," kata Murphy, menggambarkan kondisi AS setelah berbulan-bulan terlibat dalam konflik dengan Iran.

Bahkan, Murphy mengaku bersedia mendukung kesepakatan yang tidak ideal bagi Washington apabila langkah tersebut mampu menghentikan perang dan membuka kembali Selat Hormuz.

Murphy: Perang Hanya Membuat AS Semakin Lemah

Bagi Murphy, persoalan utama bukan lagi bagaimana memenangkan konflik, tetapi bagaimana mengakhirinya.

Ia menilai setiap tambahan hari operasi militer justru memperbesar biaya yang harus ditanggung Amerika Serikat. Dampaknya tidak hanya dirasakan pemerintah melalui pembiayaan perang, tetapi juga masyarakat melalui kenaikan harga.

"The war needs to end because every day that the war continues, America gets weaker, Iran gets stronger, and people here in the United States get screwed as prices go up and up and up," ujar Murphy, seperti dilansir YeniSafak.

Menurut dia, perang yang berkepanjangan tidak menghasilkan keuntungan strategis yang sepadan bagi Washington.

Sebaliknya, konflik justru memberikan ruang bagi Teheran untuk memperkuat posisi tawarnya dalam negosiasi.

Karena itu, Murphy mendesak pemerintahan Trump segera mencari jalan keluar, bahkan jika kesepakatan yang dihasilkan tidak sepenuhnya sesuai dengan kepentingan Amerika Serikat.

Selat Hormuz Jadi Beban Strategis

Salah satu persoalan terbesar dalam konflik tersebut adalah Selat Hormuz.

Jalur sempit yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan perairan internasional itu merupakan salah satu rute terpenting bagi perdagangan energi dunia.

Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut dapat berdampak langsung terhadap pasokan minyak dan harga energi global.

Murphy menilai semakin lama perang berlangsung, semakin mahal pula biaya yang diperlukan Amerika Serikat untuk memastikan jalur tersebut kembali aman dan terbuka.

Dalam situasi tersebut, penghentian perang dinilai menjadi kebutuhan strategis, bukan sekadar pilihan diplomatik.

Bagi Washington, terbukanya kembali Selat Hormuz akan membantu mengurangi tekanan terhadap pasar energi dan perekonomian.

Namun, jalan menuju kondisi normal tidak sederhana. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menciptakan ketegangan militer yang membuat keamanan pelayaran di kawasan Teluk menjadi jauh lebih kompleks.

Tolak Dana Perang, Bukan Penguatan Militer

Sikap Murphy tidak berarti ia menolak seluruh pengeluaran untuk pertahanan Amerika Serikat.

Ia menyatakan akan menolak pendanaan tambahan yang ditujukan untuk melanjutkan perang.

Namun, Murphy membedakan pembiayaan operasi militer yang sedang berlangsung dengan kebutuhan untuk mengisi kembali persediaan amunisi Amerika setelah konflik berakhir.

Artinya, kritik Murphy lebih diarahkan terhadap keputusan untuk memperpanjang perang daripada terhadap upaya menjaga kesiapan militer AS.

Menurutnya, Washington tetap dapat memperkuat kemampuan pertahanan tanpa harus terus mengeluarkan biaya untuk operasi yang dinilainya tidak lagi memberikan keuntungan strategis.

Perang Dimulai, Hormuz Ikut Terseret

Konflik AS dan Israel dengan Iran bermula ketika Washington dan Tel Aviv melancarkan operasi militer pada 28 Februari.

Iran kemudian melakukan serangan balasan. Eskalasi tersebut merembet ke berbagai aspek keamanan kawasan, termasuk lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Gangguan terhadap jalur tersebut menjadi persoalan global karena besarnya peran Hormuz dalam distribusi energi.

Semakin lama jalur pelayaran terganggu, semakin besar pula risiko tekanan terhadap harga minyak, biaya transportasi, dan inflasi.

Dari perspektif Murphy, kondisi itu menjadi alasan tambahan bagi Trump untuk menghentikan perang.

Ia melihat konflik yang semula dimaksudkan untuk menekan Iran justru menghasilkan konsekuensi yang berlawanan.

Amerika Serikat menghadapi biaya militer dan ekonomi yang semakin besar. Sementara Iran, menurut Murphy, memperoleh posisi tawar yang semakin kuat.

Kritik Terbuka terhadap Strategi Trump

Pernyataan Murphy menjadi salah satu kritik paling terbuka terhadap strategi perang pemerintahan Trump.

Ia bukan sekadar mempertanyakan biaya operasi militer, tetapi juga mempertanyakan hasil strategis yang diperoleh Washington setelah konflik berlangsung berbulan-bulan.

Jika perang diteruskan, Murphy memperkirakan kesenjangan antara biaya dan manfaat akan semakin melebar.

Karena itu, ia memilih mendorong kesepakatan damai meski harus menerima sejumlah konsesi.

Bagi Murphy, kesepakatan yang tidak sempurna masih lebih baik dibandingkan perang tanpa akhir.

Persoalannya kini berada di tangan pemerintahan Trump: apakah Washington akan terus mempertahankan tekanan militer terhadap Teheran atau mulai memprioritaskan jalan diplomasi demi mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz?

Bagi Murphy, jawabannya sudah jelas. Perang yang semakin panjang hanya membuat Amerika semakin lemah, sementara Iran semakin kuat. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Chris Murphy selat hormuz donald trump perang iran amerika serikat