Selat Hormuz Jadi Kartu Tawar Iran, AS Diminta Bayar Kompensasi

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:00 WIB
Peta Selat Hormuz yang diterbitkan oleh Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di wilayah yang dikuasai oleh Angkatan Bersenjata Iran, 4 Mei 2026 (Screenshot/X/@IranIntl_En)
Peta Selat Hormuz yang diterbitkan oleh Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di wilayah yang dikuasai oleh Angkatan Bersenjata Iran, 4 Mei 2026 (Screenshot/X/@IranIntl_En)

RADAR BANYUWANGI – Selat Hormuz belum benar-benar kembali terbuka meski Iran dan Oman dilaporkan hampir mencapai kesepakatan mengenai pengaturan jalur pelayaran. Teheran masih menahan langkah tersebut karena meminta sejumlah persyaratan dipenuhi, termasuk kompensasi dari Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan dengan Oman telah mendekati titik kesepakatan. Pernyataan itu disampaikan Sabtu ketika ketegangan di jalur strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia tersebut masih tinggi.

Kesepakatan dengan Oman menjadi salah satu bagian dari upaya mengatur kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Namun, menurut Araghchi, kesepakatan itu belum cukup untuk membuat transit kapal kembali normal.

Iran masih menunggu pemenuhan sejumlah syarat lain.

Artinya, pintu Selat Hormuz belum sepenuhnya terbuka. Jalur pelayaran yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut kini menjadi bagian dari tarik-menarik kepentingan Iran dan Amerika Serikat.

Kompensasi AS Jadi Syarat Iran

Dilansir NHK, salah satu tuntutan utama Teheran adalah kompensasi dari Amerika Serikat. Iran menilai Washington telah melakukan pelanggaran terhadap nota kesepahaman yang sebelumnya disepakati.

Tuntutan tersebut membuat persoalan Selat Hormuz tidak lagi sebatas masalah teknis pelayaran.

Pembukaan jalur kapal kini berkaitan langsung dengan negosiasi Iran-AS yang mencakup persoalan ekonomi, sanksi, hingga akses perdagangan minyak.

Situasi semakin rumit setelah perundingan kedua negara dilaporkan mengalami kebuntuan dalam beberapa hari terakhir.

The Wall Street Journal, dengan mengutip seorang mediator yang terlibat dalam pembicaraan, melaporkan bahwa Iran meminta keringanan finansial. Sebaliknya, Amerika Serikat mendesak agar lalu lintas kapal di Selat Hormuz tidak lagi terganggu.

Iran juga disebut meminta pelonggaran sanksi agar dapat kembali menjual minyak serta mengakhiri blokade Amerika Serikat.

Dengan demikian, Selat Hormuz kini menjadi salah satu kartu tawar penting dalam negosiasi kedua negara.

Bagi Teheran, pemulihan akses ekonomi dan perdagangan menjadi kepentingan utama. Sementara bagi Washington, kelancaran pelayaran merupakan kebutuhan strategis karena Selat Hormuz menjadi jalur vital bagi distribusi energi dunia.

AS Ingin Arus Minyak Kembali Normal

Amerika Serikat secara terbuka menginginkan volume minyak dan gas yang keluar dari kawasan Teluk kembali ke tingkat sebelum konflik.

Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan posisi tersebut dalam wawancara dengan FOX News pada Sabtu.

Vance mengatakan Iran sebelumnya telah menyampaikan kepada Amerika Serikat bahwa arus minyak dan gas akan kembali seperti sebelum konflik.

Namun, Washington belum sepenuhnya mempercayai janji tersebut.

Sikap itu menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak hanya menunggu kesepakatan diplomatik di atas meja. Washington juga menginginkan bukti konkret bahwa lalu lintas energi benar-benar kembali normal.

Dengan kata lain, kesepakatan Iran-Oman yang hampir tercapai belum otomatis menyelesaikan persoalan Selat Hormuz.

Selat Hormuz Jadi Titik Krusial

Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam perdagangan energi global. Karena itu, setiap gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi rantai pasok minyak dan gas serta menimbulkan tekanan terhadap pasar energi dunia.

Kondisi tersebut membuat perkembangan negosiasi Iran, Oman, dan Amerika Serikat menjadi perhatian internasional.

Iran kini berada pada posisi penting. Di satu sisi, Teheran membuka ruang pembicaraan dengan Oman untuk mengatur kembali jalur pelayaran. Di sisi lain, Iran tetap mempertahankan tuntutan kepada Washington sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas.

Oman berperan sebagai salah satu jalur diplomasi antara pihak-pihak yang bersitegang. Namun, keputusan akhir mengenai normalisasi lalu lintas di Selat Hormuz tetap bergantung pada terpenuhinya persyaratan yang diajukan Iran.

Jika tuntutan Teheran belum dipenuhi, pembukaan jalur tersebut belum tentu berjalan seperti sebelumnya.

Karena itu, meski Iran dan Oman sudah berada di ambang kesepakatan, Selat Hormuz masih menyimpan satu persoalan besar: kapan Iran dan Amerika Serikat mencapai titik temu mengenai syarat pembukaan jalur strategis tersebut?

Jawabannya akan menentukan bukan hanya kelancaran pelayaran di kawasan Teluk, tetapi juga stabilitas pasokan energi global. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
krisis energi selat hormuz iran Abbas Araghchi amerika serikat