RADAR BANYUWANGI – Infrastruktur yang mengalirkan air bersih ke rumah-rumah warga Amerika Serikat (AS) kini ikut menjadi sasaran perang siber. Serangkaian serangan terhadap sistem penyediaan air minum dan pengolahan limbah dilaporkan telah menjangkau hingga 12 negara bagian, sementara penyidik federal menduga kelompok peretas yang didukung Iran berada di balik aksi tersebut.
Serangan itu tidak hanya menyasar data atau jaringan komputer. Dalam sejumlah kasus, peretas diduga berhasil masuk ke sistem yang mengendalikan pompa, katup, serta pengatur tekanan air.
Akibatnya, sebagian operator kehilangan kemampuan untuk mengendalikan fasilitas dari jarak jauh dan terpaksa menjalankan sistem secara manual demi menjaga pasokan air tetap mengalir.
Informasi tersebut dilaporkan CBS News dengan mengutip sejumlah sumber yang mengetahui penyelidikan. Meski dugaan keterlibatan kelompok peretas pro-Iran semakin menguat, pemerintah AS hingga kini belum secara resmi menetapkan siapa yang bertanggung jawab.
Artinya, Iran masih berada pada posisi terduga, bukan pihak yang telah dinyatakan bertanggung jawab secara resmi oleh pemerintah AS.
Sedikitnya 12 Negara Bagian Terdampak
Serangan tersebut menjadi perhatian serius karena sektor air merupakan bagian dari infrastruktur kritis AS. Gangguan pada sistem pengolahan dan distribusi air dapat berdampak langsung terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
Sebelumnya, pada Juli, Biro Investigasi Federal (FBI), Badan Perlindungan Lingkungan (EPA), dan Badan Keamanan Siber serta Infrastruktur (CISA) telah mengeluarkan peringatan bersama.
Peringatan itu muncul setelah ketiga lembaga menemukan sistem daring milik fasilitas air bersih dan air limbah di sedikitnya tujuh negara bagian dapat diakses secara ilegal dari jarak jauh.
Dalam peringatan tersebut, FBI, EPA, dan CISA menyatakan akses tidak sah itu dapat "mengakibatkan hilangnya fungsi pemantauan dan kontrol" pada sistem fasilitas air.
Temuan tersebut menjadi semakin mengkhawatirkan setelah muncul laporan mengenai serangan serupa di lebih banyak wilayah.
ABC News, dengan mengutip sumber internal, melaporkan Iran menjadi tersangka utama dalam rangkaian serangan siber tersebut.
Namun, investigasi masih berlangsung dan belum ada atribusi resmi dari pemerintah federal AS.
Kata Sandi Diubah, Alarm Dimatikan
Modus yang digunakan dalam serangan membuat persoalan menjadi lebih serius.
Menurut laporan yang dikutip ABC News, pelaku diduga mampu mengganggu kemampuan operator utilitas untuk memantau kondisi sistem dengan mengubah kata sandi dan menonaktifkan alarm keamanan.
Dalam kondisi normal, sistem pemantauan jarak jauh memungkinkan operator mengetahui tekanan air, kondisi pompa, posisi katup, dan berbagai parameter lainnya.
Ketika akses tersebut terganggu, operator kehilangan sebagian kemampuan untuk memantau sekaligus mengendalikan fasilitas.
Sejumlah operator akhirnya harus kembali mengoperasikan sistem secara manual.
Dalam beberapa kasus, peretas diduga berhasil memperoleh akses terhadap pompa, katup, serta sistem pengatur tekanan air.
Jika akses tersebut digunakan untuk mengubah parameter operasi, gangguan bukan lagi sekadar persoalan keamanan digital. Dampaknya dapat merembet langsung ke pelayanan publik.
Minnesota Jadi Salah Satu Titik Terdampak
Laporan tersebut menyebut lebih dari 30 sistem penyediaan air masyarakat di Minnesota terdampak serangan siber.
Kasus serupa juga dilaporkan terjadi di Michigan, Georgia, New Jersey, South Dakota, serta sejumlah negara bagian lainnya.
Salah satu dampak yang terlihat terjadi di Clayton County Water Authority, Georgia.
Pejabat lembaga tersebut mengatakan kepada CBS News bahwa aktivitas siber yang terjadi pada bulan sebelumnya menyebabkan tekanan air menurun.
Sebagai langkah pencegahan, otoritas kemudian mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar merebus air sebelum digunakan.
Langkah tersebut menunjukkan bagaimana serangan siber terhadap infrastruktur digital dapat berujung pada persoalan yang sangat nyata: keamanan air yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Infrastruktur Kritis Jadi Sasaran
Kasus ini memperlihatkan perubahan karakter ancaman siber terhadap Amerika Serikat. Target serangan tidak lagi terbatas pada perusahaan teknologi, lembaga pemerintahan, atau pencurian data.
Sistem yang mengatur kebutuhan dasar masyarakat juga menjadi sasaran potensial.
Fasilitas air minum dan pengolahan limbah memiliki banyak sistem digital yang terhubung dengan jaringan pemantauan dan kontrol. Ketika akses tersebut berhasil ditembus, pelaku berpotensi mengganggu proses operasional tanpa harus berada secara fisik di lokasi.
Bagi pemerintah AS, kondisi ini menjadi tantangan besar karena jaringan fasilitas air tersebar di banyak daerah dan sebagian dioperasikan oleh lembaga lokal maupun perusahaan utilitas.
Sementara itu, dugaan keterlibatan kelompok yang didukung Iran menambah dimensi geopolitik dalam kasus tersebut.
Hubungan AS dan Iran memang tengah berada dalam situasi tegang. Karena itu, setiap serangan siber terhadap infrastruktur kritis AS berpotensi menjadi bagian dari persaingan yang lebih luas.
Namun, sampai saat ini belum ada pernyataan resmi pemerintah AS yang menetapkan Iran sebagai pelaku.
Penyidik masih berupaya memastikan sumber serangan, mengidentifikasi kelompok yang terlibat, serta menghitung seberapa besar kerusakan terhadap sistem penyediaan air di berbagai wilayah.
Jika penyelidikan akhirnya membuktikan adanya keterlibatan aktor yang didukung negara asing, kasus ini dapat menjadi peringatan serius bagi AS bahwa medan konflik modern tidak hanya berada di darat, laut, udara, atau ruang angkasa.
Keran air di rumah warga pun bisa menjadi bagian dari medan perang digital. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : CBS News, jawapos.com, ABC News