Operasi Rahasia Israel Gulingkan Iran Berantakan, Dua Bos Mossad Dicopot

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 15:38 WIB
PM Netanyahu menunjuk Roman Goffman sebagai kepala Mossad pada tahun 2025. [Israel Govt)
PM Netanyahu menunjuk Roman Goffman sebagai kepala Mossad pada tahun 2025. [Israel Govt)

RADAR BANYUWANGI – Operasi rahasia Israel untuk menggulingkan pemerintahan Iran disebut menghadapi kegagalan. Di tengah evaluasi besar-besaran tersebut, Direktur Mossad Roman Gofman dilaporkan mencopot dua pejabat paling senior yang disebut berperan penting dalam menyusun strategi perubahan rezim di Teheran.

Laporan Channel 12 Israel, Kamis (6/8), menyebut dua pejabat yang dicopot itu masing-masing merupakan kepala Direktorat Intelijen Mossad yang mulai menjabat sejak Desember lalu dan kepala Divisi Iran.

Keduanya disebut sebagai arsitek utama strategi yang dirancang untuk melemahkan hingga menjatuhkan pemerintahan Republik Islam Iran. Rencana tersebut menggabungkan operasi militer, dukungan terhadap kelompok minoritas, serta upaya memicu demonstrasi besar di berbagai wilayah Iran.

Meski kehilangan posisi strategis, sumber keamanan yang dikutip Channel 12 menyebut pencopotan tersebut dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama. Keduanya tidak dikeluarkan dari Mossad, melainkan akan ditempatkan di posisi lain sebagai bagian dari reorganisasi besar yang dipimpin Gofman.

Rencana Rahasia yang Dibawa ke Netanyahu

Operasi perubahan rezim tersebut dilaporkan bukan sekadar gagasan di lingkungan intelijen Israel. Dokumen rencana rahasia itu disebut pernah dipresentasikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ketika berusaha meyakinkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mendukung perang terhadap Iran pada Februari.

Strategi tersebut dirancang dengan asumsi bahwa serangan militer terhadap Iran dapat menciptakan kekacauan keamanan yang cukup besar untuk membuka peluang perubahan pemerintahan di Teheran.

Israel dan Amerika Serikat memang melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran Iran. Target yang disebut dalam laporan antara lain pejabat pemerintah, pangkalan militer, sistem rudal, kantor polisi, serta markas Basij di wilayah barat laut Iran.

Namun, kehancuran infrastruktur militer tidak otomatis menghasilkan perubahan politik yang diharapkan.

Justru, sejumlah hambatan membuat skenario perubahan rezim tersebut tidak berjalan sesuai kalkulasi awal.

Andalkan Pejuang Kurdi

Salah satu elemen penting dalam rencana Mossad adalah operasi terhadap posisi Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC di kawasan Kurdistan Iran yang berbatasan dengan Irak.

Mengutip laporan The New York Times, serangan tersebut dimaksudkan untuk menciptakan celah bagi kelompok pejuang Kurdi memasuki wilayah Iran dan mengambil alih sejumlah kota di bagian barat laut negara tersebut.

Mossad disebut memperkirakan ribuan pemuda Kurdi akan bergabung dengan gerakan tersebut. Dari sana, pemberontakan diharapkan berkembang menjadi perlawanan yang lebih luas dan mendorong jutaan warga Iran turun ke jalan.

Ujung skenarionya adalah jatuhnya pemerintahan di Teheran.

Namun, realitas di lapangan tidak berjalan seperti yang diproyeksikan.

Kebocoran informasi ke media, tekanan diplomatik dari Turki, serta keraguan kelompok Kurdi untuk mengambil risiko besar membuat Amerika Serikat akhirnya menghentikan rencana tersebut.

Kegagalan itu menjadi salah satu faktor yang kini dikaitkan dengan evaluasi terhadap pejabat senior Mossad yang berada di balik penyusunan strategi tersebut.

Ahmadinejad Disebut Masuk Skenario

Bagian lain dari rencana yang paling kontroversial adalah dugaan mengenai siapa yang akan memimpin Iran apabila pemerintahan saat ini berhasil dijatuhkan.

Laporan tersebut menyebut nama mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad sebagai salah satu figur yang dipertimbangkan untuk memimpin pemerintahan baru.

The New York Times sebelumnya melaporkan Israel disebut telah melakukan pendekatan terhadap Ahmadinejad selama beberapa tahun.

Salah satu informasi yang muncul adalah dugaan pertemuan Ahmadinejad dengan mantan Kepala Mossad David Barnea di sela sebuah konferensi akademik di Hungaria.

Namun, pihak Ahmadinejad membantah laporan tersebut dan menyatakan pertemuan itu tidak pernah terjadi.

Terlepas dari kontroversi tersebut, rencana perubahan rezim yang dilaporkan itu menunjukkan bahwa strategi Israel dan Amerika Serikat tidak hanya diarahkan untuk menghancurkan kemampuan militer Iran.

Sasarannya jauh lebih besar: mengubah struktur kekuasaan di Teheran.

Target Tak Hanya Pemerintah, tetapi Nuklir dan Rudal

Selain perubahan pemerintahan, Israel dan Amerika Serikat juga disebut menargetkan kemampuan militer Iran.

Program nuklir dan rudal balistik menjadi bagian penting dari kalkulasi tersebut karena selama ini dianggap sebagai ancaman strategis bagi Israel dan sejumlah sekutunya.

Harapannya, operasi militer gabungan dapat sekaligus melemahkan struktur pertahanan Iran dan menciptakan kondisi yang memungkinkan perubahan politik.

Namun, optimisme tersebut ternyata tidak sepenuhnya dibagikan oleh pejabat tinggi Amerika Serikat.

Laporan The New York Times pada April menyebut Direktur CIA dan Menteri Luar Negeri AS pada pemerintahan Trump menilai prediksi Netanyahu mengenai perubahan rezim di Iran dengan sangat skeptis.

Dalam laporan tersebut, prediksi itu bahkan digambarkan menggunakan istilah yang sangat meremehkan.

Meski demikian, Trump bersama sejumlah penasihatnya disebut sempat meyakini bahwa kepemimpinan Iran dapat disingkirkan dan kemampuan militernya dihancurkan melalui operasi gabungan Israel-Amerika Serikat.

Kini, laporan mengenai pencopotan dua pejabat senior Mossad menambah pertanyaan mengenai seberapa realistis strategi tersebut sejak awal.

Jika operasi militer mampu menghancurkan sebagian kemampuan pertahanan tetapi gagal menghasilkan perubahan pemerintahan, maka persoalan yang tersisa bukan sekadar kemenangan di medan perang.

Pertanyaan besarnya adalah apakah tekanan militer benar-benar mampu mengubah peta kekuasaan di Teheran.

Dan sejauh laporan yang muncul, jawaban atas pertanyaan tersebut masih jauh dari kata pasti. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Channel 12, The New York Times
Perubahan rezim iran mossad israel iran benjamin netanyahu