Trump Ancam Serang Iran, Teheran Balik Ancam Gelapkan Negara-Negara Teluk

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 08:35 WIB
Iran mengancam memadamkan listrik negara-negara Teluk jika AS atau Israel menyerang pembangkitnya. Saudi, UEA, dan Qatar berupaya cegah eskalasi. (Ilustrasi ChatGPT)
Iran mengancam memadamkan listrik negara-negara Teluk jika AS atau Israel menyerang pembangkitnya. Saudi, UEA, dan Qatar berupaya cegah eskalasi. (Ilustrasi ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI – Ancaman serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran memunculkan ancaman balasan yang tak kalah serius. Teheran disebut memperingatkan negara-negara Teluk bahwa pembangkit listrik mereka bisa menjadi sasaran jika AS atau Israel menyerang infrastruktur energi Iran.

Ancaman tersebut disampaikan Iran melalui perantara kepada sejumlah negara Arab di kawasan Teluk setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada akhir pekan lalu.

Dua pejabat negara Arab mengatakan kepada AFP bahwa pesan Iran tersebut ditujukan terutama kepada negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

“Iran mengancam akan memadamkan listrik di negara-negara Teluk, satu per satu, jika Trump menyerang pembangkit listriknya,” kata salah seorang pejabat yang dikutip AFP. Pernyataan tersebut dikonfirmasi pejabat Arab lainnya.

Kedua pejabat berbicara dengan syarat anonim karena informasi yang disampaikan berkaitan dengan persoalan sensitif.

Ancaman Dibalas Ancaman

Situasi tersebut menunjukkan bagaimana ketegangan antara Washington dan Teheran berpotensi meluas ke negara-negara lain di kawasan Teluk.

Sebelumnya, Trump mengancam melancarkan apa yang disebutnya sebagai “serangan terbesar sejak Perang Dunia II”. Infrastruktur energi Iran disebut masuk dalam potensi sasaran yang menjadi perhatian dalam ancaman tersebut.

Iran kemudian merespons melalui jalur diplomatik. Negara-negara Teluk, khususnya yang memiliki pangkalan militer AS di wilayahnya, diberi pesan bahwa fasilitas pembangkit listrik mereka dapat menjadi sasaran jika serangan terhadap Iran benar-benar dilakukan.

Ancaman itu membuat sejumlah negara Arab bergerak cepat. Pemimpin Arab, terutama dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar, disebut berulang kali menghubungi Trump untuk meminta presiden AS tersebut menahan diri.

Upaya diplomatik tersebut akhirnya membuahkan hasil. Rencana serangan yang sebelumnya diancamkan Trump pada akhirnya batal dilakukan.

Iran Sebut Ancaman Kali Ini Serius

Menurut salah seorang pejabat Arab tersebut, ancaman Iran kali ini memiliki tingkat keseriusan yang berbeda dibandingkan peringatan serupa yang pernah disampaikan sebelumnya.

Peringatan Teheran tidak hanya menyasar kepentingan Amerika Serikat di kawasan. Infrastruktur energi negara-negara Teluk juga disebut berpotensi terkena dampak apabila konflik terbuka benar-benar pecah.

Bagi negara-negara Teluk, ancaman terhadap pembangkit listrik menjadi persoalan serius karena fasilitas energi merupakan bagian vital dari aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat.

Kekhawatiran tersebut sekaligus menjelaskan mengapa negara-negara Arab berupaya mencegah eskalasi sejak awal. Mereka tidak hanya menghadapi risiko serangan langsung, tetapi juga potensi gangguan terhadap infrastruktur strategis apabila konflik AS-Iran berubah menjadi perang terbuka.

Dengan batalnya ancaman serangan Trump, tensi untuk sementara mereda. Namun, pesan balasan Iran menunjukkan bahwa risiko eskalasi di kawasan masih jauh dari selesai.

Jika serangan terhadap infrastruktur energi Iran kembali menjadi opsi, negara-negara Teluk yang memiliki hubungan erat dengan Washington harus menghadapi dilema: tetap menjadi mitra strategis AS sekaligus menghindari kemungkinan terseret langsung dalam konflik dengan Teheran. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Iran AS negara Teluk Ancaman Iran donald trump pembangkit listrik