RADAR BANYUWANGI - Iran dinilai mulai mengubah strategi konfrontasinya dengan Amerika Serikat. Serangan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania yang diikuti penyitaan tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz dipandang bukan sekadar aksi balasan, melainkan upaya Teheran mengambil kendali eskalasi dan memaksa Washington menghadapi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Penilaian tersebut mengemuka setelah Iran melancarkan serangan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania pada Rabu dini hari waktu Teheran. Beberapa jam kemudian, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan telah menyerang dan menahan tiga kapal tanker minyak yang disebut melakukan pelanggaran di Selat Hormuz.
Menurut analisis yang dimuat Iran International, rangkaian aksi tersebut menunjukkan perubahan pendekatan Teheran dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat. Jika sebelumnya Iran lebih banyak merespons langkah Washington, kini negara itu dinilai mulai berupaya mengendalikan ritme eskalasi konflik.
Iran Dinilai Ingin Memaksa AS Bertindak
Analis politik Ruhollah Rahimpour menilai operasi militer yang dilakukan Iran merupakan bagian dari strategi yang telah diperhitungkan untuk meningkatkan ketegangan di kawasan.
"Saya pikir operasi rudal semalam di Yordania dan operasi di Selat Hormuz merupakan bagian dari strategi Republik Islam untuk meningkatkan ketegangan dan mencoba mempercepat pecahnya perang skala penuh dengan Amerika Serikat dan Israel, memaksa mereka masuk ke dalam konflik sebelum benar-benar siap," ujar Rahimpour.
Menurutnya, Teheran kini tidak lagi hanya bereaksi terhadap tekanan Amerika Serikat, tetapi berusaha menciptakan situasi yang memaksa Washington dan Israel mengambil keputusan dalam kondisi yang kurang menguntungkan.
Perubahan pola tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa Iran ingin merebut inisiatif strategis dalam dinamika konflik yang selama ini lebih banyak ditentukan oleh langkah Amerika Serikat dan sekutunya.
Tekanan Ekonomi Dinilai Jadi Pemicu
Pandangan serupa disampaikan analis politik Shahir Shahid Saless. Ia menilai tekanan ekonomi, sanksi, serta blokade maritim yang terus berlangsung membuat kepemimpinan Iran mulai menganggap strategi bertahan tidak lagi menguntungkan.
Menurut Shahid Saless, Teheran memandang kebijakan Amerika Serikat selama ini bertujuan mempertahankan situasi "tidak perang, tidak damai", sehingga Iran terus mengalami pelemahan secara bertahap tanpa konfrontasi terbuka.
"Dari sudut pandang Teheran, situasi ini harus diubah, meskipun konsekuensinya adalah konflik yang lebih luas," tulis Shahid Saless.
Ia menambahkan, Iran tampaknya ingin menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak bisa secara sepihak menentukan kapan konflik dimulai maupun diakhiri.
Serangan ke Yordania dan Selat Hormuz Jadi Sorotan
Serangan ke pangkalan militer AS di Yordania menjadi perhatian karena disebut sebagai pertama kalinya Iran menyerang instalasi militer Amerika Serikat tanpa didahului serangan langsung dari Washington.
Pada saat yang hampir bersamaan, IRGC juga mengumumkan penyitaan tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Kombinasi kedua aksi tersebut dipandang sebagai upaya meningkatkan tekanan secara bersamaan, baik melalui jalur militer maupun ekonomi.
Jika gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz berlanjut, dampaknya berpotensi meluas terhadap distribusi minyak global dan stabilitas pasar energi internasional.
Trump Masih Buka Ruang Diplomasi
Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan jalur diplomasi dengan Iran masih terbuka.
Sehari sebelum serangan terjadi, Trump mengatakan pembicaraan dengan Teheran menunjukkan perkembangan positif. Namun, ia juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap menyerang berbagai fasilitas strategis Iran, termasuk instalasi bawah tanah, jembatan, hingga pembangkit listrik apabila proses negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan.
Meski dialog belum sepenuhnya tertutup, sejumlah pengamat menilai perubahan strategi Iran membuat risiko eskalasi konflik di Timur Tengah meningkat dibanding beberapa pekan sebelumnya. Dengan Teheran yang dinilai mulai mengambil inisiatif dan Washington tetap mempertahankan tekanan militer maupun diplomatik, peluang terjadinya konfrontasi yang lebih luas dinilai semakin besar.
Catatan Redaksi: Artikel ini memuat analisis dan pendapat para pengamat yang dikutip dari Iran International. Penilaian mengenai perubahan strategi Iran merupakan interpretasi para analis, bukan fakta yang telah dipastikan secara independen. Klaim mengenai operasi militer dan penyitaan kapal juga masih berada dalam konteks perkembangan konflik yang terus berlangsung.
Editor : Ali SodiqinSumber : jawapos.com