Gangguan Jalur Kereta dan Surutnya Sungai Rhine Picu Kenaikan Harga Bahan Bakar di Jerman

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 06:49 WIB
Pemerintah membuka peluang penurunan harga BBM nonsubsidi menyusul melemahnya harga minyak dunia. (Pexels/Erik Mclean)
Gangguan jalur kereta api dan surutnya permukaan Sungai Rhine menghambat distribusi bahan bakar di Jerman. (Pexels/Erik Mclean)

RADARBANYUWANGI.ID - Jerman menghadapi tantangan dalam menjaga kelancaran pasokan bahan bakar akibat terganggunya jalur distribusi logistik. Gangguan pada jaringan kereta api serta rendahnya permukaan air Sungai Rhine disebut membatasi kemampuan pengiriman energi ke berbagai wilayah, sehingga ikut mendorong kenaikan harga bahan bakar.

Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas Austria OMV, Alfred Stern, mengatakan kondisi tersebut membuat rantai pasok menjadi semakin terbatas.

Menurut dia, permukaan air Sungai Rhine yang terus menurun menghambat pengangkutan barang melalui jalur sungai. Di saat yang sama, sejumlah persoalan pada jaringan perkeretaapian Jerman semakin memperumit proses distribusi.

"Permukaan air yang rendah menjadi masalah karena membatasi kemungkinan pengangkutan barang. Ada juga beberapa masalah pada perkeretaapian di Jerman," ujar Stern pada Jumat (31/7/2026), dikutip Antara.

Ia menilai kombinasi kedua faktor tersebut menjadi penyebab utama terganggunya rantai pasok energi.

Akibatnya, harga bahan bakar, terutama kelompok distilat menengah seperti solar dan minyak tanah, masih bertahan pada level tinggi.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan energi di Jerman, OMV tetap memasok minyak tanah secara langsung melalui jaringan pipa menuju Bandara Muenchen. Langkah tersebut dilakukan guna mendukung permintaan bahan bakar penerbangan yang masih tinggi.

Dalam beberapa bulan terakhir, layanan operator kereta api nasional Jerman, Deutsche Bahn, berulang kali mengalami gangguan. Selain kasus dugaan sabotase, pada Juni lalu layanan kereta di seluruh negeri sempat terhenti akibat kegagalan sistem komunikasi.

Di sisi lain, Deutsche Bahn juga masih menghadapi persoalan ketepatan waktu yang telah berlangsung cukup lama. Menteri Transportasi Jerman Patrick Schnieder pada Maret lalu bahkan menyatakan keterlambatan layanan dan kondisi infrastruktur yang menua dapat menjadi ancaman serius terhadap kelancaran mobilitas nasional.

Tekanan terhadap sistem logistik juga datang dari kondisi Sungai Rhine. Kementerian Infrastruktur dan Pengelolaan Air Belanda melaporkan situasi distribusi barang semakin memburuk setelah permukaan sungai tersebut turun hingga mencapai titik terendah yang pernah tercatat.

Sungai Rhine selama ini menjadi salah satu jalur transportasi utama bagi pengiriman batu bara, minyak, bahan bakar, hingga berbagai komoditas industri di kawasan Eropa Barat. Ketika debit air menurun, kapasitas angkut kapal ikut berkurang sehingga distribusi menjadi lebih lambat dan biaya logistik meningkat.

OMV sendiri merupakan salah satu perusahaan energi terbesar di Austria. Perusahaan tersebut menjalankan bisnis eksplorasi dan produksi hidrokarbon di kawasan Eropa, Timur Tengah, Afrika Utara, hingga Asia-Pasifik, serta didukung sekitar 15.936 karyawan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
jerman