Trump Perintahkan Serangan Besar ke Iran, Ledakan Terdengar Selama Dua Jam

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 11:30 WIB
AS luncurkan 850 rudal Tomahawk ke Iran. Stok disebut menipis, Pentagon bantah krisis dan siapkan peningkatan produksi. (Ilustrasi ChatGPT Image)
ILUSTRASI: Amerika Serikat menggempur puluhan target di Iran selama dua jam. Donald Trump menyebut serangan itu sebagai balasan atas rudal Iran. (Ilustrasi ChatGPT Image)

RADAR BANYUWANGI – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase yang jauh lebih berbahaya. Militer AS melancarkan serangan udara besar-besaran ke puluhan target di Iran selama sekitar dua jam setelah rudal balistik Iran yang mengarah ke pangkalan AS di Yordania berhasil dicegat. Presiden Donald Trump menegaskan Washington akan memberikan balasan keras terhadap Teheran.

Serangan yang berlangsung pada Rabu malam hingga Kamis dini hari (29-30/7/2026) menyasar sejumlah titik strategis di wilayah Iran. Ledakan dilaporkan terdengar di Pulau Qeshm hingga Provinsi Bushehr, memicu kekhawatiran eskalasi perang akan meluas ke kawasan Timur Tengah.

"Kita akan menyerang mereka dengan keras. Mereka akan dihajar habis-habisan," kata Trump.

Presiden AS mengatakan pasukan Amerika hanya memiliki waktu beberapa menit untuk merespons ketika Iran meluncurkan rudal balistik ke arah pangkalan militer di Yordania. Menurutnya, seluruh proyektil berhasil dicegat sistem pertahanan udara.

Trump juga menegaskan operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat bersama Arab Saudi terhadap kelompok bersenjata pro-Iran di Irak berlangsung dengan koordinasi pemerintah Irak.

Puluhan Target Militer Diserang

Seorang pejabat Amerika Serikat kepada CNN menyebut sasaran operasi adalah fasilitas militer Iran.

Trump kembali menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan giliran Washington untuk memberikan respons.

"Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras karena sekarang giliran kita untuk menyerang mereka. Mereka tahu itu akan datang," ujar Trump kepada wartawan di Ruang Oval.

Laporan media Iran menyebut ledakan terjadi di beberapa wilayah selatan negara itu.

Media Press TV melaporkan suara ledakan terdengar di sejumlah lokasi, sementara kantor berita Tasnim menyebut sedikitnya tiga ledakan mengguncang Pulau Qeshm.

Sejumlah warga mengaku sebuah rudal menghantam kawasan permukiman. Namun, informasi mengenai jumlah korban pada saat itu belum dapat dipastikan.

Selain Qeshm, ledakan juga dilaporkan terdengar di Provinsi Bushehr, lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.

Operasi Berlangsung Dua Jam

Washington menyebut operasi militer tersebut berlangsung sekitar dua jam dan menghantam puluhan sasaran di Iran.

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan serangan itu merupakan respons terhadap serangan rudal Iran yang sebelumnya diarahkan ke pasukan AS di kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, kantor berita Fars melaporkan serangan udara Amerika Serikat menghantam sebuah rumah di kawasan Chah Tangu, Pulau Qeshm.

Berdasarkan data Universitas Ilmu Kedokteran Hormozgan yang dikutip Fars, tiga anggota keluarga dilaporkan tewas, terdiri atas seorang ayah, ibu, dan anak mereka yang berusia dua tahun.

Dua anak lainnya dilaporkan selamat, tetapi mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan medis.

Iran Kecam Serangan AS dan Arab Saudi

Di tengah meningkatnya eskalasi, Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi di Irak.

Teheran menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Irak dan hukum internasional.

Dalam pernyataan resminya, pemerintah Iran menilai operasi tersebut merupakan bentuk agresi terhadap integritas wilayah Irak sekaligus bagian dari upaya memperluas konflik di kawasan Asia Barat.

Iran juga menuduh Amerika Serikat dan Israel memiliki kepentingan memperbesar cakupan perang di Timur Tengah.

Korban di Irak Bertambah

Sementara itu, Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak mengklaim sedikitnya 20 anggotanya tewas dan 32 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi.

PMF merupakan aliansi sejumlah kelompok bersenjata yang kini telah terintegrasi ke dalam angkatan bersenjata Irak.

Risiko Konflik Regional Meningkat

Rangkaian serangan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan konflik antara Iran dan Amerika Serikat tidak lagi terbatas pada kedua negara, tetapi mulai menyeret sejumlah negara di kawasan, termasuk Yordania, Irak, Arab Saudi, dan Kuwait.

Meningkatnya intensitas operasi militer di sekitar Teluk juga memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan energi dunia, terutama di sekitar Selat Hormuz, yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak global.


Catatan Redaksi: Artikel ini memuat pernyataan dan klaim dari berbagai pihak yang terlibat dalam konflik, termasuk pemerintah Amerika Serikat dan Iran. Sejumlah informasi mengenai dampak serangan, korban, maupun kerusakan di lapangan masih berkembang dan belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.

Editor : Ali Sodiqin
AS Iran serangan AS donald trump rudal iran konflik timur tengah