RADAR BANYUWANGI – Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (29/7) setelah sehari sebelumnya mengalami tekanan tajam. Kenaikan dipicu harapan bahwa jeda serangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat membuka ruang diplomasi, meski pasar masih dibayangi ketidakpastian akibat terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Data perdagangan menunjukkan kontrak berjangka minyak mentah Brent melonjak 3,02 dolar AS atau 3,70 persen menjadi 84,86 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 3,03 dolar AS atau 3,82 persen ke level 82,35 dolar AS per barel, sebagaimana dikutip dari Investing, Rabu (29/7).
Penguatan harga terjadi setelah pelaku pasar mulai melihat peluang meredanya konflik bersenjata antara Washington dan Teheran. Namun, optimisme tersebut masih dibayangi risiko geopolitik karena belum ada penyelesaian permanen atas sengketa yang berdampak pada terganggunya aktivitas di Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, investor tetap berhati-hati karena penghentian serangan yang terjadi sejauh ini dinilai hanya bersifat sementara dan belum mampu mengakhiri konflik yang mengganggu pasokan minyak global.
Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama pasar energi dunia. Jalur strategis tersebut sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global, tetapi kini aktivitas pelayaran belum kembali normal akibat meningkatnya risiko keamanan.
Situasi semakin kompleks setelah Iran membantah sedang melanjutkan pembicaraan dengan Amerika Serikat. Pernyataan itu bertolak belakang dengan klaim Presiden Donald Trump yang sebelumnya menyebut komunikasi dengan Teheran menunjukkan perkembangan positif.
Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, mengatakan pasar masih menilai kondisi di Timur Tengah jauh dari kata stabil.
"Pasar memahami situasinya masih kacau dan harga diperdagangkan lebih rendah karena kedua pihak yang bertikai, yaitu AS dan Iran, tidak saling menyerang dalam beberapa hari terakhir," ujarnya.
Di sisi lain, Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, mengatakan Presiden Donald Trump memutuskan menghentikan sementara operasi militer guna memberi ruang lebih luas bagi upaya diplomasi.
Analis pasar IG, Tony Sycamore, menilai peluang penyelesaian melalui jalur diplomatik mulai terbuka apabila kedua negara kembali mengacu pada nota kesepahaman yang mengatur keamanan kawasan, termasuk pengendalian Selat Hormuz.
"Harapan semakin besar bahwa jalur diplomatik yang nyata mulai terbuka. Kembali ke nota kesepahaman (MoU) 14 poin dengan kejelasan yang lebih baik mengenai pengendalian Selat Hormuz akan menjadi langkah awal yang baik," tulis Sycamore dalam catatannya.
Meski demikian, pemulihan distribusi minyak dunia diperkirakan belum berlangsung cepat. Data perusahaan pelacakan kapal Kpler menunjukkan kurang dari 10 kapal pengangkut komoditas melintasi Selat Hormuz setiap hari sepanjang akhir pekan, jauh di bawah aktivitas normal sebelum konflik memanas.
Tekanan terhadap rantai pasok energi juga datang dari Selat Bab el-Mandeb. Jalur pelayaran tersebut mengalami penurunan lalu lintas kapal setelah kelompok Houthi di Yaman menyerang fasilitas minyak Arab Saudi di pesisir Laut Merah. Meski demikian, sebuah supertanker ketiga asal China dilaporkan berhasil melintasi kawasan tersebut.
Analis MST Marquee, Saul Kavonic, memperkirakan arus pelayaran di Selat Hormuz akan pulih secara bertahap karena perusahaan pelayaran masih mengutamakan aspek keamanan sebelum kembali mengoperasikan armadanya secara normal.
"Pemulihan arus pelayaran melalui Selat Hormuz kemungkinan akan berlangsung lambat dan hanya sebagian, karena banyak perusahaan pelayaran masih berhati-hati dan membutuhkan keyakinan lebih besar terhadap keamanan sebelum kembali mengirim lebih banyak kapal kosong ke selat tersebut," kata Kavonic.
Dengan kondisi geopolitik yang belum sepenuhnya mereda, pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa waktu ke depan diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi perkembangan hubungan AS-Iran serta normalisasi jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan energi global. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : jawapos.com