AS dan Arab Saudi Bombardir Irak, Kelompok Pro-Iran Klaim Banyak Korban

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 15:30 WIB
Ilustrasi jet tempur AS. (The Jerusalem Post)
Ilustrasi jet tempur AS. (The Jerusalem Post)

RADAR BANYUWANGI – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat bersama Arab Saudi melancarkan serangan udara presisi ke sejumlah target di Irak. Operasi gabungan itu diklaim menyasar kelompok-kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran sebagai respons atas rentetan serangan drone terhadap pasukan AS dan fasilitas energi milik Arab Saudi.

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan dilakukan pada 28 Juli dengan melibatkan Angkatan Bersenjata Arab Saudi. Target operasi adalah fasilitas logistik dan gudang persenjataan milik kelompok yang disebut mendapat arahan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.

"Komando Pusat AS dan Angkatan Bersenjata Arab Saudi melakukan serangan presisi di Irak pada 28 Juli terhadap kelompok teroris yang bersekutu dengan Iran dan diarahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk menyerang pasukan AS serta infrastruktur energi Arab Saudi," demikian pernyataan resmi CENTCOM yang dikutip Antara, Rabu (29/7).

Menurut CENTCOM, jet tempur kedua negara menggempur sejumlah fasilitas di Irak bagian timur. Operasi tersebut disebut sebagai balasan atas lebih dari 30 serangan drone yang dilancarkan IRGC Iran dalam kurun 72 jam terakhir.

Militer Amerika Serikat menegaskan seluruh serangan terhadap personelnya gagal mencapai sasaran. CENTCOM juga mengklaim kelompok-kelompok pro-Iran di Irak telah melakukan lebih dari 600 upaya serangan terhadap warga negara, personel militer, dan fasilitas Amerika Serikat sepanjang Februari hingga April.

"IRGC dan kelompok-kelompok proksinya yang berstatus teroris harus menghentikan serangan-serangan ini untuk menghindari respons militer AS lebih lanjut," tegas CENTCOM.

Secara terpisah, Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyebut operasi gabungan itu merupakan bentuk pembelaan diri setelah fasilitas minyak kerajaan beberapa kali menjadi sasaran serangan yang dilancarkan dari wilayah Irak.

Pemerintah Saudi mengutip Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengakui hak setiap negara untuk membela diri. Berdasarkan ketentuan tersebut, Riyadh bersama Washington menggelar serangan yang disebut "tepat dan terarah" terhadap target-target yang diklaim terkait dengan serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi.

Meski demikian, Arab Saudi menegaskan tidak menginginkan konflik semakin meluas. Pemerintah menyatakan akan tetap merespons setiap bentuk agresi yang mengancam keamanan nasionalnya.

Sementara itu, media lokal Irak melaporkan serangan udara AS dan Arab Saudi menyasar Pasukan Mobilisasi Populer (Popular Mobilization Forces/PMF), koalisi yang sebagian besar beranggotakan kelompok bersenjata Syiah pendukung Iran.

Ledakan dilaporkan mengguncang sejumlah wilayah, termasuk Basra dan Provinsi Wasit di selatan Baghdad. Komando PMF di Basra menyebut markas mereka diserang melalui serangan udara sekitar pukul 02.00 waktu setempat.

PMF mengecam keras operasi tersebut dan menyebutnya sebagai "serangan teroris berbahaya" yang dilakukan oleh pasukan Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Dalam pernyataannya, PMF mengatakan serangan itu menyebabkan korban jiwa, sejumlah orang terluka, serta menimbulkan kerusakan pada markas dan berbagai aset milik organisasi tersebut. Namun, jumlah korban secara pasti masih dalam proses pendataan.

Kelompok itu juga menilai operasi militer tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan Irak sekaligus serangan terhadap institusi keamanan resmi negara.

Hingga kini, otoritas Irak masih memantau perkembangan situasi di lapangan sembari melakukan pendataan terhadap jumlah korban dan tingkat kerusakan akibat serangan udara tersebut. Peristiwa ini menambah panjang daftar eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan sekutu masing-masing di kawasan Timur Tengah. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
AS Irak kelompok Iran Arab Saudi konflik timur tengah serangan udara