RADAR BANYUWANGI – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat. Kali ini, Teheran mengeluarkan ancaman tegas akan menutup akses Selat Hormuz bagi negara maupun perusahaan yang mendukung rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump memanfaatkan aset Iran yang dibekukan sebagai dana kompensasi.
Peringatan tersebut disampaikan Juru Bicara Markas Pusat Komando Militer Iran Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari. Menurutnya, angkatan bersenjata Iran tidak akan mengizinkan kapal milik negara ataupun perusahaan yang mendukung kebijakan Washington melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
"Kami memperingatkan kepada semua negara dan perusahaan yang mendukung usulan Trump untuk menggunakan aset Iran yang dibekukan, bahwa mulai saat ini angkatan bersenjata Iran tidak akan mengizinkan kapal mereka melintasi Selat Hormuz," ujar Zolfaghari dalam pernyataan yang disiarkan televisi nasional IRIB, dikutip Antara, Rabu (29/7).
Ancaman itu muncul setelah Presiden Donald Trump pekan lalu menyatakan Amerika Serikat dapat menggunakan aset Iran yang selama ini dibekukan untuk membayar ganti rugi atas kapal maupun muatan yang berpotensi mengalami kerusakan akibat blokade di Selat Hormuz.
Pernyataan Trump tersebut memicu respons keras dari Teheran. Iran menilai rencana penyitaan aset negara itu merupakan langkah sepihak yang memperburuk hubungan kedua negara di tengah situasi keamanan kawasan yang masih rapuh.
Padahal, sebelumnya Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani memorandum perdamaian pada 18 Juni untuk menghentikan konflik yang berlangsung sejak 28 Februari. Kesepakatan itu sempat memunculkan harapan meredanya ketegangan.
Namun situasi kembali berubah setelah pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan ke wilayah Iran mulai 8 Juli. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.
Serangan itu kemudian dibalas Iran dengan menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Eskalasi kedua negara pun kembali meningkat dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas jalur perdagangan global.
Sebelumnya, pada Minggu (12/7), Iran telah mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga campur tangan Amerika Serikat di kawasan berakhir. Sehari berselang, Presiden Trump menyatakan Amerika Serikat akan menjadi "pelindung" Selat Hormuz sekaligus mengumumkan dimulainya kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia karena menjadi lintasan utama distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk menuju pasar internasional. Setiap ancaman penutupan jalur tersebut berpotensi memengaruhi rantai pasok energi global sekaligus meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. (*)
Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com