RADAR BANYUWANGI – Pemerintah Iran mendorong penguatan kerja sama antarnegara di kawasan Teluk untuk memulihkan stabilitas di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Seruan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di tengah ketegangan yang masih membayangi kawasan setelah konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat.
Menurut laporan media pemerintah Iran IRIB, Selasa (28/7), Araghchi menyampaikan ajakan tersebut dalam dua pembicaraan telepon terpisah dengan Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan pada Senin.
Pembicaraan tersebut membahas hubungan bilateral sekaligus perkembangan terbaru situasi keamanan di kawasan, khususnya menyangkut stabilitas jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Dalam percakapan itu, Araghchi menekankan pentingnya memperkuat koordinasi regional dan meningkatkan upaya diplomatik bersama untuk mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.
Menlu Iran juga menyampaikan pandangan pemerintah Teheran bahwa kondisi tidak stabil di Selat Hormuz dipicu oleh tindakan yang disebutnya sebagai agresi Amerika Serikat. Pernyataan tersebut merupakan posisi resmi pemerintah Iran terkait perkembangan konflik.
Selat Hormuz Kembali Jadi Sorotan
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik Iran dan Amerika Serikat. Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu merupakan lintasan utama pengiriman minyak dan gas dunia, sehingga setiap gangguan keamanan berpotensi memengaruhi perdagangan energi global.
Laporan IRIB menyebut situasi di kawasan relatif lebih tenang sejak Jumat setelah Iran dan Amerika Serikat menghentikan aksi saling serang yang berlangsung selama 13 hari.
Selama periode eskalasi tersebut, Amerika Serikat melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Iran. Sebagai balasan, Teheran menyerang fasilitas dan peralatan militer Amerika Serikat di beberapa negara Arab, menurut pernyataan pemerintah Iran.
Gencatan Senjata Kembali Retak
Meski sebelumnya Washington dan Teheran telah menandatangani nota kesepahaman pada Juni yang mengatur penghentian pertempuran dan pembukaan jalur perundingan, ketegangan kembali meningkat pada Juli.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan gencatan senjata berakhir pada 8 Juli setelah terjadi serangan terhadap sejumlah kapal tanker di Selat Hormuz yang oleh Washington dituduhkan kepada Iran.
Amerika Serikat kemudian mendesak Teheran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal dagang dan menjamin kebebasan pelayaran di jalur strategis tersebut.
Sebaliknya, Iran menegaskan lalu lintas pelayaran di perairan yang berbatasan dengan wilayah pantainya harus diatur melalui mekanisme yang berada di bawah pengawasan pemerintah Iran.
Diplomasi Jadi Harapan Redakan Ketegangan
Komunikasi antara Iran dengan Oman dan Arab Saudi menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih terus diupayakan di tengah situasi yang belum sepenuhnya kondusif.
Oman selama ini dikenal kerap memainkan peran sebagai mediator dalam berbagai ketegangan di kawasan, sementara Arab Saudi menjadi salah satu aktor penting dalam menjaga stabilitas Teluk.
Di tengah masih adanya perbedaan sikap antara Washington dan Teheran mengenai keamanan Selat Hormuz, penguatan kerja sama regional dipandang menjadi salah satu langkah yang dapat membuka ruang dialog dan mengurangi risiko eskalasi baru di kawasan. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : jawapos.com