RADAR BANYUWANGI – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Markas Besar Sentral Khatam al-Anbiya Iran memperingatkan bahwa setiap upaya Washington memblokade jalur laut akan dianggap sebagai eskalasi perang di kawasan. Peringatan tersebut disampaikan ketika kedua negara masih terlibat dalam konflik yang memengaruhi keamanan pelayaran dan stabilitas Timur Tengah.
Dalam pernyataan yang disiarkan Fars News Agency pada Senin dan dikutip Antara pada Selasa (28/7), Komando Khatam al-Anbiya menuduh militer Amerika Serikat telah mengancam kapal-kapal Iran, kapal dagang, dan kapal tanker minyak yang beroperasi di perairan pesisir maupun wilayah teritorial Iran selama tiga hari terakhir.
"Tindakan AS ini akan dianggap sebagai eskalasi perang di kawasan," demikian pernyataan Komando Khatam al-Anbiya.
Komando militer Iran juga menegaskan angkatan bersenjata negara itu tidak akan membiarkan tindakan yang mereka sebut sebagai ancaman atau aksi bermusuhan tanpa respons.
"Sebagaimana telah dibuktikan oleh angkatan bersenjata Republik Islam Iran di medan perang, mereka tidak akan membiarkan ancaman atau tindakan bermusuhan dari militer teroris negara itu tanpa balasan, dan akan menghadapinya," lanjut pernyataan tersebut.
CENTCOM Klaim Blokade Masih Berlaku
Pernyataan Iran muncul setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Sabtu menyatakan blokade laut terhadap Iran masih diberlakukan secara penuh.
Menurut CENTCOM, hingga 25 Juli pasukan Amerika telah mengalihkan 12 kapal dagang yang disebut berupaya menerobos blokade. Selain itu, dua kapal dinonaktifkan karena tidak mematuhi instruksi, sementara dua kapal lainnya dinaiki personel militer Amerika untuk memverifikasi kepatuhan terhadap aturan yang diterapkan selama operasi berlangsung.
Pernyataan tersebut merupakan klaim dari pihak militer Amerika Serikat dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Ketegangan Terus Meningkat
Hubungan Washington dan Teheran dalam beberapa pekan terakhir diwarnai aksi saling serang yang memperbesar risiko meluasnya konflik di kawasan.
Amerika Serikat sebelumnya melancarkan operasi militer terhadap sejumlah target di Iran. Sebagai balasan, Teheran menargetkan berbagai fasilitas serta peralatan militer Amerika Serikat di sejumlah negara di Timur Tengah.
Rangkaian aksi tersebut memperburuk situasi keamanan di jalur pelayaran strategis, termasuk kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama distribusi energi dunia.
Ancaman terhadap Stabilitas Kawasan
Pernyataan keras dari Komando Khatam al-Anbiya menambah panjang daftar eskalasi retorika antara kedua negara. Pengamat menilai setiap peningkatan aktivitas militer di kawasan berpotensi memengaruhi keamanan pelayaran internasional, harga energi global, hingga stabilitas geopolitik Timur Tengah.
Hingga kini belum ada tanda-tanda kedua pihak akan menurunkan tensi. Di tengah meningkatnya tekanan diplomatik dari berbagai negara, ancaman saling balas antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah konflik di kawasan. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : jawapos.com