Survei Terbaru: Perang Iran Kian Tak Populer, Trump Kehilangan Dukungan Publik

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi konfrontasi militer antara AS-Israel dengan Iran. (Gemini AI)
Ilustrasi konfrontasi militer antara AS-Israel dengan Iran. (Gemini AI)

RADAR BANYUWANGI – Dukungan masyarakat Amerika Serikat terhadap kampanye militer negaranya di Iran terus melemah. Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis pada Senin (27/7) menunjukkan hanya sekitar satu dari tiga warga Amerika yang masih mendukung operasi militer tersebut, sementara mayoritas responden menilai Presiden Donald Trump gagal menjelaskan tujuan Washington dalam konflik yang terus berlarut.

Survei tersebut menjadi gambaran terbaru mengenai meningkatnya tekanan politik yang dihadapi Gedung Putih di tengah eskalasi konflik dengan Iran. Ketika perang memasuki fase yang lebih panjang, publik Amerika mulai mempertanyakan arah kebijakan luar negeri pemerintah serta dampaknya terhadap kepentingan nasional.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos dilakukan pada 23–25 Juli terhadap 1.246 responden dewasa di Amerika Serikat dengan margin of error sekitar 3 persen.

Hasilnya, hanya sekitar sepertiga responden yang menyatakan mendukung kampanye militer Amerika Serikat terhadap Iran. Sebaliknya, sebanyak 69 persen responden berpendapat Donald Trump belum mampu menjelaskan secara jelas tujuan utama keterlibatan militer Amerika dalam konflik tersebut.

Temuan itu menunjukkan bahwa persoalan komunikasi politik menjadi salah satu tantangan terbesar pemerintah AS di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Konflik Memanas Pascagencatan Senjata

Ketegangan kembali meningkat setelah Trump pada 8 Juli menyatakan bahwa gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan tidak lagi berlaku.

Sebelumnya, Presiden AS sempat mengumumkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata dengan Iran pada malam sebelum 18 Juni. Namun, beberapa pekan kemudian Washington kembali melancarkan serangan militer.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi tersebut sebagai respons terhadap tindakan Iran yang dinilai mengancam kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.

Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Pemerintah Teheran juga menuduh Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan.

Tekanan Politik Terhadap Trump Menguat

Hasil survei Reuters/Ipsos menambah daftar tantangan politik yang dihadapi Donald Trump dalam menangani konflik Iran.

Selain harus mempertimbangkan perkembangan di medan perang, Gedung Putih juga dihadapkan pada tuntutan publik agar pemerintah memberikan penjelasan lebih rinci mengenai tujuan, strategi, dan batas akhir keterlibatan militer Amerika Serikat.

Sejumlah pengamat menilai menurunnya dukungan publik dapat memengaruhi ruang gerak politik Trump, terutama apabila konflik berlangsung lebih lama dan berdampak pada ekonomi domestik maupun stabilitas kawasan Timur Tengah.

Dengan mayoritas warga mempertanyakan arah kebijakan tersebut, pemerintah Amerika kini menghadapi tekanan ganda, yakni menjaga kepentingan strategis di Timur Tengah sekaligus mempertahankan kepercayaan publik terhadap keputusan yang diambil di tengah konflik. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
Survei Reuters Reuters Ipsos donald trump perang iran amerika serikat