Jalan Damai Iran-AS Buntu, Ini Isi Proposal Pakistan dan Qatar yang Ditolak

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi Iran resmi tangguhkan MoU Islamabad. (Fars News)
Ilustrasi Iran resmi tangguhkan MoU Islamabad. (Fars News)

RADAR BANYUWANGI – Jalan menuju perdamaian Iran dan Amerika Serikat kembali menemui jalan buntu. Proposal yang disusun Pakistan dan Qatar untuk menghentikan konflik dilaporkan ditolak Washington maupun Teheran, meski formula perdamaian tersebut sebelumnya telah disampaikan kepada kedua pihak.

Penolakan itu membuat upaya membuka kembali jalur diplomasi Iran-Amerika Serikat kembali menghadapi tantangan. Padahal, proposal bersama tersebut dirancang sebagai langkah awal untuk menghentikan perang, meredakan ketegangan, sekaligus membawa kedua negara kembali ke meja perundingan.

Informasi mengenai penolakan proposal tersebut disampaikan sumber pemerintah Pakistan kepada Anadolu Agency. Dikutip melalui AVA, sumber itu menyebut Islamabad dan Doha kini terus mengintensifkan pertukaran pesan antara Iran dan Amerika Serikat.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya diplomatik untuk menjaga komunikasi kedua negara tetap terbuka setelah masing-masing memberikan respons terhadap formula perdamaian yang ditawarkan.

Proposal Pakistan dan Qatar disusun melalui konsultasi dengan sejumlah mitra regional. Isi formula tersebut dirancang untuk menciptakan tahapan awal yang memungkinkan Iran dan Amerika Serikat menghentikan permusuhan dan memulai kembali proses negosiasi.

Iran Diminta Buka Selat Hormuz

Salah satu poin utama proposal tersebut adalah meminta Iran dan Amerika Serikat kembali ke posisi masing-masing sebelum 9 Juli.

Langkah itu diharapkan menjadi titik awal untuk membuka kembali perundingan antara Washington dan Teheran.

Namun, proposal tersebut juga memuat sejumlah tuntutan yang harus dijalankan kedua pihak.

Iran diminta segera membuka kembali Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut merupakan salah satu rute penting distribusi minyak dunia.

Sebagai imbalannya, Amerika Serikat diminta menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta mencabut sanksi yang membatasi penjualan minyak negara tersebut.

Formula tersebut juga mengusulkan gencatan senjata selama dua pekan. Jeda tersebut diharapkan dapat menghentikan aksi saling serang sekaligus memberikan ruang bagi diplomasi untuk kembali bekerja.

Jika kedua pihak menyepakati formula tersebut, perundingan direncanakan segera digelar di Islamabad, Pakistan, atau Doha, Qatar.

Agenda pembicaraan juga tidak hanya berfokus pada konflik Iran dan Amerika Serikat. Implementasi gencatan senjata di Lebanon selatan turut ditempatkan sebagai salah satu prioritas dalam pembahasan.

Washington dan Teheran Disebut Sama-Sama Menolak

Namun, harapan untuk segera menghidupkan kembali meja perundingan masih menghadapi hambatan.

Saluran televisi Saudi Al-Hadath melaporkan bahwa Washington dan Teheran sama-sama menolak tawaran Pakistan dan Qatar untuk melanjutkan negosiasi.

Kabar tersebut menjadi pukulan bagi upaya diplomatik yang tengah dibangun. Sebab, proposal itu dirancang sebagai formula kompromi yang memberikan konsesi kepada kedua belah pihak.

Iran diminta membuka kembali Selat Hormuz. Sementara Amerika Serikat ditawari penghentian blokade pelabuhan dan pencabutan sanksi yang menghambat ekspor minyak Iran.

Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun Iran mengenai alasan di balik penolakan proposal tersebut.

Belum jelas pula apakah penolakan itu bersifat final atau masih membuka peluang bagi perubahan formula dalam proses diplomasi berikutnya.

Pakistan dan Qatar Intensifkan Diplomasi

Di tengah penolakan tersebut, Pakistan dan Qatar tidak menghentikan upaya mereka.

Islamabad dan Doha dilaporkan terus melakukan pertukaran pesan antara Iran dan Amerika Serikat. Diplomasi melalui jalur komunikasi tidak langsung tersebut menjadi salah satu cara untuk mencegah hubungan kedua negara semakin memburuk.

Peran Pakistan dan Qatar menunjukkan bahwa negara-negara kawasan masih berusaha mencari jalan keluar dari konflik yang berpotensi memicu eskalasi lebih luas di Timur Tengah.

Pakistan memiliki posisi strategis dalam diplomasi kawasan karena kedekatan geografis dan hubungan historisnya dengan Iran. Sementara Qatar selama ini dikenal aktif memainkan peran sebagai mediator dalam berbagai konflik regional.

Keduanya kini mencoba menjembatani kepentingan Washington dan Teheran yang masih berseberangan.

Selat Hormuz Jadi Kunci

Dalam formula perdamaian tersebut, Selat Hormuz menjadi salah satu elemen penting.

Jalur perairan yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu memiliki posisi strategis bagi perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi distribusi minyak dan menimbulkan dampak ekonomi yang lebih luas.

Karena itu, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi bagian penting dari proposal Pakistan dan Qatar.

Namun, tuntutan tersebut juga menjadi salah satu titik sensitif dalam negosiasi. Iran memiliki kepentingan strategis terhadap kawasan tersebut, sementara Amerika Serikat berkepentingan menjaga kelancaran jalur pelayaran dan stabilitas pasokan energi global.

Di sisi lain, permintaan agar Washington mengakhiri blokade pelabuhan Iran dan mencabut sanksi minyak juga menjadi isu krusial.

Bagi Teheran, penghapusan tekanan ekonomi merupakan salah satu kepentingan utama. Sebaliknya, bagi Washington, sanksi selama ini menjadi instrumen untuk menekan pemerintah Iran.

Peluang Damai Masih Terjal

Penolakan proposal bersama tersebut memperlihatkan bahwa jarak antara Iran dan Amerika Serikat masih cukup lebar.

Meski demikian, fakta bahwa Pakistan dan Qatar tetap aktif menyampaikan pesan antara kedua negara menunjukkan jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.

Formula perdamaian yang ditawarkan sebenarnya telah mencoba mempertemukan kepentingan utama kedua pihak: penghentian konflik, pembukaan kembali Selat Hormuz, pelonggaran tekanan ekonomi, serta dimulainya kembali perundingan.

Namun, tanpa persetujuan Washington dan Teheran, rencana gencatan senjata dua pekan dan pertemuan di Islamabad atau Doha belum dapat diwujudkan.

Kini, perhatian tertuju pada langkah berikutnya dari Pakistan dan Qatar. Apakah kedua mediator tersebut mampu merancang formula baru yang lebih dapat diterima, atau justru konflik Iran-Amerika Serikat akan kembali memasuki fase ketegangan yang lebih panjang.

Di tengah situasi tersebut, diplomasi kawasan masih menjadi harapan untuk mencegah konflik berkembang menjadi krisis yang lebih luas.

Sebab, ketika proposal damai ditolak oleh dua pihak yang bertikai, pekerjaan para mediator justru baru dimulai: mencari titik temu yang belum ditemukan di meja perundingan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
Iran AS Proposal damai Pakistan Qatar selat hormuz konflik timur tengah