Hampir 5 Bulan Perang Iran, Trump Mulai Kehabisan Jalan Keluar

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 13:00 WIB
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump. (Reuters)
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump. (Reuters)

RADAR BANYUWANGI – Hampir lima bulan operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran berlangsung, Presiden Donald Trump justru menghadapi persoalan yang semakin sulit: bagaimana mengakhiri perang tanpa terlihat kalah.

Operasi tempur besar yang dimulai pada 28 Februari itu belum berhasil mewujudkan dua ambisi utama Trump. Program nuklir Iran belum sepenuhnya berakhir, sementara harapan untuk mendorong pergantian rezim di Teheran juga belum terwujud.

Di saat bersamaan, perang mulai membawa konsekuensi yang lebih luas. Harga minyak tertekan oleh gangguan jalur pelayaran, aktivitas perdagangan global terganggu, dan dukungan publik Amerika Serikat terhadap kebijakan perang Trump terus merosot.

Situasi tersebut membuat ruang gerak Gedung Putih semakin sempit. Trump kini dihadapkan pada tiga pilihan utama: meningkatkan operasi militer, memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran, atau menyatakan misi telah berhasil lalu mengakhiri keterlibatan AS dalam konflik.

Masalahnya, tidak satu pun pilihan itu benar-benar bebas risiko.

Target Besar Trump Belum Tercapai

Sejak awal konflik, Trump menetapkan sasaran yang ambisius. Amerika Serikat ingin menghentikan program nuklir Iran sekaligus mendorong perubahan pemerintahan di Teheran.

Trump bahkan beberapa kali menyebut gagasan yang dikenal sebagai "model Venezuela", yakni mendorong terbentuknya pemerintahan baru yang dinilai lebih bersahabat dengan Washington.

Namun, hampir lima bulan setelah operasi militer dimulai, target tersebut belum sepenuhnya tercapai.

Kondisi itu menjadi tantangan serius bagi Trump yang selama ini dikenal meyakini bahwa tekanan militer besar dapat menghasilkan kemenangan cepat.

Dalam sebuah wawancara dengan The New York Times, Trump bahkan pernah mengatakan bahwa satu-satunya batasan dalam mengambil keputusan militer adalah "moralitas saya sendiri".

Kini, perang yang berlarut-larut justru menempatkannya pada posisi sulit. Menghentikan operasi tanpa hasil yang jelas berpotensi dianggap sebagai kegagalan. Sebaliknya, memperluas perang juga berisiko menimbulkan dampak ekonomi dan politik yang semakin besar.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas Ekonomi Dunia

Kebuntuan konflik tidak hanya terjadi di medan perang. Dampaknya merembet ke sektor ekonomi global.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif. Jalur sempit tersebut merupakan rute penting bagi perdagangan minyak dunia. Ketika aktivitas pelayaran terganggu, kekhawatiran terhadap pasokan energi global pun meningkat.

Aktivitas pengiriman yang sempat kembali normal kembali mengalami perlambatan. Ancaman juga muncul di jalur Laut Merah hingga Teluk Aden.

Trump sebelumnya bahkan mengancam akan merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran. Ia juga pernah membicarakan kemungkinan menyita cadangan uranium yang diperkaya milik Teheran.

Namun, opsi pengerahan pasukan darat ke Iran tampaknya menghadapi hambatan politik. Trump sendiri mengakui bahwa tidak terdapat dukungan politik yang cukup untuk mengirim pasukan darat ke negara tersebut.

Situasi itu semakin mempersempit pilihan yang tersedia bagi Gedung Putih.

Frustrasi Trump Mulai Terlihat

Tekanan yang menumpuk disebut membuat frustrasi Trump semakin terlihat.

Sejumlah orang dekat presiden menggambarkan bagaimana kebijakan pemerintah AS dalam beberapa pekan terakhir kerap berubah secara mendadak.

Salah satu contohnya berkaitan dengan kesepakatan kerja sama energi nuklir sipil antara Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Menteri Energi AS sempat menandatangani kesepakatan bersejarah tersebut. Namun, kurang dari 24 jam kemudian, Trump menyatakan kesepakatan itu batal kecuali Arab Saudi bersedia bergabung dalam Abraham Accords dan mengakui Israel.

Mantan diplomat senior AS untuk Timur Tengah, Aaron David Miller, menilai perubahan sikap tersebut justru dapat merugikan Washington.

"Trump kembali menjauhkan Arab Saudi, menyenangkan Benjamin Netanyahu, dan memberi Iran bahan propaganda bahwa membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat adalah tindakan bodoh yang pada akhirnya akan dikhianati," kata Miller.

Kebijakan Trump terhadap Kanada juga menambah sorotan.

Ia membatalkan kesepakatan pembangunan Jembatan Internasional Gordie Howe senilai USD 4,5 miliar yang menghubungkan Amerika Serikat dan Kanada. Setelah itu, Trump memberlakukan tarif 50 persen terhadap sejumlah produk Kanada.

Langkah tersebut dinilai berpotensi bertentangan dengan semangat perjanjian perdagangan USMCA yang sebelumnya dinegosiasikan pada masa jabatan pertama Trump.

Pemerintah Kanada kemudian mencoret kehadiran pejabat Amerika Serikat dalam upacara peresmian jembatan tersebut.

Dukungan Publik Amerika Ikut Merosot

Tekanan terhadap Trump juga datang dari dalam negeri.

Survei Washington Post-Ipsos menunjukkan hanya 29 persen warga Amerika Serikat yang menyetujui cara Trump menangani perang dengan Iran.

Angka tersebut menjadi sinyal bahwa konflik semakin tidak populer di kalangan publik Amerika.

Bahkan, suara untuk mengakhiri perang mulai muncul dari internal Partai Republik.

"Kita harus segera mengakhirinya," ujar Ketua DPR AS Mike Johnson.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tekanan politik terhadap Trump bukan hanya berasal dari oposisi, tetapi juga dari lingkungan politiknya sendiri.

Bagi Trump, persoalan ini menjadi semakin rumit. Ia harus mencari jalan keluar dari konflik tanpa memberikan kesan bahwa Amerika Serikat mundur tanpa mencapai tujuan.

Gencatan Senjata Tak Bertahan Lama

Sebelumnya, Trump sempat mengklaim berhasil membuka jalan menuju penyelesaian diplomatik.

Pada 17 Juni, ia menandatangani kesepakatan gencatan senjata 14 poin yang diyakini dapat menjadi pijakan untuk mengakhiri konflik.

Trump juga percaya para pemimpin Iran yang lebih "masuk akal" mulai mempertimbangkan kepentingan ekonomi negaranya.

"Saya percaya mereka sudah cukup merasakan dampaknya," kata Trump dalam wawancara dengan The New York Times pada 14 Juni.

Trump juga mengklaim Iran akhirnya bersedia berunding setelah menghadapi ancaman serangan militer besar.

Namun, kesepakatan tersebut hanya bertahan sekitar dua pekan.

Kelompok Garda Revolusi Iran atau IRGC kemudian tetap melanjutkan aktivitas militernya, termasuk terhadap kapal-kapal yang tidak mengikuti jalur pelayaran yang dikendalikan Iran di Selat Hormuz.

Perkembangan itu memperlihatkan adanya perbedaan kepentingan antara kelompok perunding Iran dan unsur militer garis keras di negara tersebut.

Bagi Trump, situasi itu menjadi bukti bahwa tekanan terhadap Iran belum menghasilkan penyelesaian permanen.

Tiga Pilihan Trump, Tak Ada yang Benar-Benar Aman

Di tengah kebuntuan tersebut, Trump kini menghadapi tiga opsi utama.

Pertama, meningkatkan operasi militer.

Pilihan ini berpotensi memberikan tekanan lebih besar terhadap Teheran. Namun, eskalasi juga dapat memperpanjang perang, meningkatkan risiko korban, mengganggu perdagangan global, dan semakin menekan perekonomian Amerika Serikat.

Kedua, memperketat tekanan ekonomi.

Sanksi tambahan dapat digunakan untuk menekan Iran tanpa memperluas operasi militer secara langsung. Namun, strategi ini membutuhkan waktu dan belum tentu mampu memaksa Teheran menyerah atau kembali ke meja perundingan.

Ketiga, menyatakan misi telah berhasil dan mengakhiri keterlibatan AS.

Langkah tersebut dapat menjadi jalan keluar dari konflik. Namun, Trump berisiko menghadapi kritik karena dua target awalnya—mengakhiri program nuklir Iran dan mendorong perubahan rezim—belum tercapai sepenuhnya.

Ketiga opsi tersebut telah dibahas dalam sejumlah pertemuan yang melibatkan Wakil Presiden JD Vance, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, Jared Kushner, serta utusan khusus Steve Witkoff.

Namun, hingga kini belum ada pilihan yang benar-benar memberikan keuntungan politik dan strategis bagi Trump.

Bahkan setelah sepanjang pekan memberikan sinyal bahwa Amerika Serikat akan kembali melancarkan serangan besar terhadap Iran, Trump pada Jumat akhirnya mengurungkan rencana tersebut.

Perang yang Menjadi Ujian Politik Trump

Kebuntuan perang Iran kini menjadi salah satu ujian politik terbesar bagi Trump.

Ia harus memilih antara mempertahankan tekanan militer dengan risiko perang semakin panjang, memperketat sanksi yang belum tentu segera membuahkan hasil, atau mengakhiri konflik dengan narasi bahwa misi telah berhasil.

Persoalannya, perang yang berlarut-larut telah mengubah medan pertarungan. Bukan hanya soal rudal, senjata, atau program nuklir, tetapi juga harga minyak, jalur perdagangan global, dukungan publik, dan kredibilitas politik.

Bagi Trump, tantangan terbesar bukan lagi sekadar bagaimana memenangkan perang.

Tantangan sebenarnya adalah menemukan cara untuk keluar dari perang tanpa terlihat kalah.

Dan hingga kini, jalan keluar itu belum terlihat jelas. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
Trump Iran selat hormuz donald trump konflik timur tengah perang iran