Iran Klaim Capai Kemajuan dengan Oman soal Selat Hormuz, Apa Dampaknya?

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 13:00 WIB
Ilustrasi situasi perairan di Selat Hormuz. (Reuters).
Ilustrasi situasi perairan di Selat Hormuz. (Reuters).

RADAR BANYUWANGI – Iran menyatakan telah mencapai kemajuan dalam pembicaraan dengan Oman mengenai mekanisme operasional untuk menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan keamanan kawasan setelah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Teheran menegaskan bahwa lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz hingga kini tetap berjalan normal dan tidak mengalami perubahan, meski kawasan tersebut terus menjadi perhatian dunia akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan beberapa putaran pembicaraan telah digelar di Teheran pada Jumat (24/7) dan Sabtu (25/7). Pertemuan itu melibatkan wakil menteri luar negeri Iran dan Oman untuk membahas langkah-langkah menjaga keamanan pelayaran di jalur strategis tersebut.

"Kedua pihak bertukar pandangan tentang prinsip-prinsip umum dan mekanisme operasional untuk jalur pelayaran yang aman di Selat Hormuz," kata Baqaei, seperti dikutip kantor berita semi-resmi Fars, dilansir Antara, Minggu (26/7).

Menurut Baqaei, delegasi Oman meninggalkan Teheran pada Sabtu malam setelah menjalani pembicaraan yang disebut berlangsung produktif. Meski demikian, konsultasi teknis maupun politik antara kedua negara masih akan terus dilanjutkan guna menyempurnakan mekanisme yang sedang dibahas.

Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Krusial

Pembicaraan tersebut berlangsung ketika Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian internasional. Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu merupakan lintasan utama pengiriman minyak mentah dan gas alam dunia, sehingga setiap gangguan keamanan berpotensi memengaruhi stabilitas pasar energi global.

Ketegangan di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan kampanye militer terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Pada Juni lalu, Washington dan Teheran sempat menandatangani nota kesepahaman yang memuat gencatan senjata setelah dimediasi Qatar dan Pakistan. Kesepakatan itu membuka peluang bagi negosiasi untuk mengakhiri konflik secara permanen.

Namun, upaya tersebut kembali menghadapi tantangan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan gencatan senjata berakhir pada 8 Juli menyusul kembali meningkatnya eskalasi militer.

Perbedaan Sikap Soal Kebebasan Navigasi

Di tengah situasi tersebut, Amerika Serikat tetap menuntut Iran menghentikan segala bentuk ancaman terhadap kapal dagang dan menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Sebaliknya, Teheran menegaskan bahwa pengaturan lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut harus dilakukan melalui mekanisme yang dikelola Iran sesuai wilayah perairan di sepanjang garis pantainya.

Perbedaan pandangan itu menjadikan pembicaraan Iran dan Oman dipandang penting sebagai salah satu upaya menjaga stabilitas pelayaran tanpa memperburuk ketegangan yang sudah berlangsung di kawasan.

Meski belum diumumkan rincian mekanisme operasional yang disepakati, pernyataan Iran menunjukkan adanya perkembangan diplomatik di tengah situasi keamanan yang masih dinamis. Bagi dunia internasional, keberlangsungan pelayaran di Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama karena jalur tersebut memegang peran vital dalam rantai pasok energi global. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
Iran Oman jalur pelayaran keamanan maritim selat hormuz donald trump