Bocor! AS Siapkan Skenario Rebut Uranium Iran, Ribuan Tentara Disiapkan

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 12:00 WIB
Kekhawatiran seputar program nuklir Iran telah meningkat setelah pengumuman Energi Atom internasional PBB minggu lalu. (Organisasi Energi Atom Iran melalui AP, File)
Kekhawatiran seputar program nuklir Iran telah meningkat setelah pengumuman Energi Atom internasional PBB minggu lalu. (Organisasi Energi Atom Iran melalui AP, File)

RADAR BANYUWANGI – Amerika Serikat dilaporkan tengah menyusun skenario operasi militer berskala besar untuk menguasai cadangan uranium yang telah diperkaya milik Iran. Rencana tersebut disebut menjadi opsi apabila perundingan mengenai program nuklir Teheran kembali menemui jalan buntu, dengan target utama mengamankan material nuklir sebelum dapat digunakan lebih lanjut.

Berbeda dengan serangan udara yang selama ini menjadi opsi utama dalam berbagai konflik, skenario yang dibahas kali ini disebut melibatkan operasi darat yang sangat kompleks. Ribuan personel militer diperkirakan harus diterjunkan untuk merebut dan mengamankan fasilitas nuklir Iran sebelum pasukan operasi khusus melakukan pengamanan sekaligus evakuasi uranium yang telah diperkaya.

Sejumlah analis pertahanan menilai misi tersebut berpotensi menjadi salah satu operasi militer paling rumit yang pernah dirancang Amerika Serikat karena menggabungkan operasi tempur, pengamanan fasilitas strategis, hingga penanganan material nuklir berisiko tinggi.

Deputi Direktur Center for Strategic and International Studies (CSIS), Joseph Rodgers, mengatakan operasi militer menjadi skenario yang paling realistis apabila jalur diplomasi tidak menghasilkan kesepakatan mengenai program nuklir Iran.

"Saya benci mengatakannya, tapi saya pikir cara yang paling mungkin untuk menyingkirkan bahan nuklir Iran, setidaknya yang mereka miliki saat ini, adalah operasi militer karena negosiasi tidak berjalan cepat," kata Rodgers, seperti dikutip New York Post.

Ribuan Tentara Disebut Harus Kuasai Fasilitas Nuklir

Berdasarkan laporan yang mengutip sumber yang mengetahui perencanaan militer AS, tahap pertama operasi akan diawali dengan pengerahan ribuan pasukan darat untuk merebut sejumlah fasilitas nuklir Iran yang dijaga ketat.

Misi tersebut diperkirakan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ancaman jebakan peledak, pembukaan akses menuju bunker bawah tanah, hingga menjaga perimeter keamanan selama proses pemindahan material nuklir berlangsung.

Setelah area dinyatakan aman, tim kecil pasukan elite akan diterjunkan untuk mengambil uranium yang telah diperkaya. Tahap inilah yang disebut sebagai bagian paling berbahaya dalam keseluruhan operasi.

Rodgers menilai tingkat kompleksitas misi tersebut belum pernah ditemui dalam operasi militer modern.

"Saya pikir ini akan menjadi salah satu operasi paling canggih, jika bukan yang paling canggih dalam sejarah militer."

Ia menambahkan bahwa operasi akan berlangsung dalam lingkungan yang masih diperebutkan meski kemampuan militer Iran disebut telah melemah akibat berbagai serangan sebelumnya.

"Ini akan menjadi operasi yang berat secara logistik dan sulit dalam lingkungan yang diperebutkan."

SEAL Team 6 hingga Penjinak Bom Masuk Skenario

Media independen The High Side melaporkan sejumlah satuan elite Amerika Serikat berpotensi dilibatkan dalam operasi tersebut. Di antaranya SEAL Team 6 Silver Squadron, Batalion Ranger ke-2, serta 21st Ordnance Company Angkatan Darat AS.

Unit terakhir diperkirakan bertanggung jawab menangani, mengamankan, sekaligus mengangkut uranium yang telah diperkaya dari fasilitas nuklir seperti Fordo maupun Isfahan.

Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebelumnya melaporkan Iran memiliki lebih dari 20.000 pon uranium yang telah diperkaya pada 2025. Jumlah tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pengamanan material nuklir disebut membutuhkan operasi khusus dengan standar keamanan tinggi.

Selain merebut fasilitas, pasukan AS juga diperkirakan harus membuka jalur evakuasi yang aman agar uranium dapat dipindahkan ke lokasi lain tanpa menimbulkan risiko kebocoran maupun serangan balasan.

Iran Disebut Perkuat Pertahanan Fasilitas Nuklir

Mantan Direktur Penanggulangan Senjata Pemusnah Massal Iran di Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih era Presiden Donald Trump, Richard Goldberg, mengatakan Iran diduga telah meningkatkan sistem pertahanan di sekitar fasilitas nuklir Isfahan.

Menurutnya, berbagai laporan intelijen menunjukkan Iran telah memasang jebakan, memperkuat bunker, serta menempatkan personel militer di sejumlah titik strategis.

"Kami telah melihat laporan tentang Iran yang mengeraskan fasilitas di Isfahan, jebakan yang dipasang, dan pasukan yang berpotensi ditempatkan."

Goldberg menilai faktor kejutan kini hampir tidak lagi dimiliki kedua pihak karena lokasi sasaran telah diketahui secara luas.

"Tidak ada unsur kejutan saat ini. Target sudah ditetapkan. Kami tahu di mana mereka berada. Orang Iran tahu di mana mereka berada."

Laporan CNN sebelumnya juga menyebut Iran telah memasang ranjau serta bahan peledak di sejumlah terowongan kompleks nuklir Isfahan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan operasi militer.

Pickaxe Mountain Jadi Fokus Baru Intelijen

Selain fasilitas nuklir Fordo dan Isfahan, kawasan Pickaxe Mountain kini disebut menjadi perhatian baru intelijen Amerika Serikat.

Lokasi tersebut mencuat setelah muncul laporan bahwa Iran memindahkan ratusan sentrifugal nuklir dari fasilitas Natanz menuju kompleks bawah tanah tersebut.

Goldberg mengatakan belum ada kepastian mengenai jumlah sentrifugal yang kini berada di Pickaxe Mountain. Namun, apabila serangan udara dinilai tidak efektif menghancurkan fasilitas tersebut, operasi pasukan khusus disebut berpotensi menjadi pilihan.

Menurutnya, misi di Pickaxe Mountain kemungkinan lebih sederhana dibanding operasi di fasilitas lain karena fokus utamanya adalah menyusup ke dalam kompleks, memasang bahan peledak, lalu keluar dari lokasi.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Amerika Serikat mengenai adanya keputusan untuk melaksanakan operasi militer tersebut. Skenario yang beredar masih sebatas laporan media dan analisis sejumlah pakar pertahanan mengenai opsi yang dapat diambil Washington apabila diplomasi terkait program nuklir Iran benar-benar menemui kegagalan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
nuklir Iran uranium Iran SEAL Team 6 operasi militer amerika serikat