RADAR BANYUWANGI – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali mendesak Amerika Serikat mempertahankan tekanan terhadap Iran dengan alasan ancaman program nuklir Teheran belum benar-benar berakhir. Pernyataan itu muncul ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump memilih menghentikan sementara serangan terhadap Iran untuk membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Sikap Netanyahu dinilai memperlihatkan keinginan Israel agar Washington tetap terlibat dalam menekan Iran, meski Gedung Putih mulai memberi ruang bagi pendekatan politik. Di saat yang sama, Netanyahu mengklaim operasi militer gabungan Israel dan Amerika Serikat telah melumpuhkan sebagian besar kemampuan nuklir Iran, tetapi menurutnya pengawasan internasional harus tetap diperketat.
Dalam wawancara dengan Fox News, Minggu (27/7), Netanyahu mengatakan operasi bersama kedua negara telah memberikan pukulan besar terhadap program nuklir Teheran.
"Kami menyingkirkan 20 ilmuwan nuklir utama mereka dalam dua operasi yang kami lakukan dengan Amerika Serikat," ujar Netanyahu.
Ia mengklaim langkah tersebut membuat ambisi nuklir Iran mundur selama beberapa tahun. Meski demikian, Netanyahu menegaskan dunia internasional tidak boleh menganggap ancaman itu telah berakhir.
Menurutnya, Iran masih berpotensi membangun kembali infrastruktur nuklir apabila tekanan internasional melemah. Karena itu, ia meminta pengawasan terhadap aktivitas nuklir Teheran terus dilakukan agar pengembangan program tersebut tidak kembali berlangsung.
Pernyataan tersebut sekaligus memperkuat narasi pemerintah Israel yang selama ini menjadikan isu nuklir Iran sebagai alasan utama mempertahankan tekanan politik maupun militer terhadap Teheran.
Desakan Netanyahu muncul di tengah perubahan pendekatan Washington. Presiden Donald Trump sebelumnya memutuskan menghentikan sementara serangan terhadap Iran untuk memberi kesempatan bagi upaya diplomasi menyusul meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Selain membahas isu nuklir, Netanyahu kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran. Ia menegaskan Israel siap memberikan respons besar apabila Teheran kembali melancarkan serangan secara langsung maupun melalui kelompok-kelompok yang didukungnya di kawasan.
"Responsnya akan sangat, sangat kuat," tegas Netanyahu.
Dalam kesempatan yang sama, Netanyahu juga menyatakan dukungannya terhadap strategi Trump yang mengaitkan pengembangan program nuklir sipil Arab Saudi dengan kesediaan Riyadh bergabung dalam Abraham Accords atau kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel.
Ia menyebut Israel menyambut baik apabila Arab Saudi menjadi negara Arab berikutnya yang membuka hubungan diplomatik dengan Tel Aviv. Menurut Netanyahu, langkah tersebut akan memperluas kerja sama kawasan sekaligus memperkuat stabilitas regional.
Netanyahu juga menepis anggapan bahwa Israel semakin terisolasi di panggung internasional. Ia mengklaim sejumlah negara di Afrika, Asia, Amerika Latin, hingga Timur Tengah masih menunjukkan minat menjalin kemitraan dengan Israel, terutama di sektor teknologi dan pertahanan.
Pekan depan, Netanyahu dijadwalkan berkunjung ke Washington. Selain menghadiri pemakaman mendiang Senator Amerika Serikat Lindsey Graham, ia diperkirakan bertemu Presiden Donald Trump untuk membahas perkembangan hubungan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang kembali menjadi sorotan dunia. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : jawapos.com