Rudal Houthi Hantam Fasilitas Minyak Saudi, Perang Iran-AS Meluas ke Jalur Energi Global

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 20:45 WIB
Ilustrasi milisi bersenjata di Yaman, Houthi, yang didukung Iran. (Al-Jazeera)
Ilustrasi milisi bersenjata di Yaman, Houthi, yang didukung Iran. (Al-Jazeera)

RADAR BANYUWANGI – Konflik di Timur Tengah memasuki fase yang semakin berbahaya. Kelompok Houthi yang didukung Iran meluncurkan serangan rudal balistik dan drone ke dua fasilitas minyak strategis milik Saudi Aramco di Jizan dan Yanbu, Arab Saudi. Serangan itu memperluas dampak perang antara Amerika Serikat dan Iran sekaligus memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Serangan terjadi saat ketegangan kawasan belum mereda, meski Amerika Serikat menghentikan sementara serangan udara ke Iran. Hingga Minggu (27/7) waktu setempat, pemerintah Arab Saudi belum mengumumkan tingkat kerusakan akibat serangan tersebut. Namun, kepulan asap tebal dilaporkan terlihat dari kawasan kilang minyak Jizan tak lama setelah rudal menghantam wilayah itu.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan serangan tersebut merupakan respons atas operasi udara Arab Saudi terhadap wilayah yang dikuasai kelompoknya di Kota Hodeidah, Yaman.

Sementara itu, di Yanbu yang merupakan pelabuhan ekspor minyak utama Arab Saudi di pesisir Laut Merah, dua rudal balistik dilaporkan berhasil dicegat menggunakan sistem pertahanan udara Patriot yang dioperasikan militer Yunani melalui kerja sama pertahanan dengan Riyadh.

Konflik Iran-AS Menjalar ke Kawasan

Serangan terhadap fasilitas Aramco menjadi sinyal bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran kini semakin meluas ke negara-negara lain di Timur Tengah.

Perang yang bermula dari operasi militer Washington bersama Israel terhadap Iran kini kembali menghidupkan konflik-konflik lama yang sempat mereda.

Hubungan Arab Saudi dan Houthi, misalnya, sempat membaik setelah gencatan senjata pada 2022 yang menghentikan fase paling intens perang saudara Yaman sejak 2015.

Namun situasi kembali memburuk dalam beberapa pekan terakhir. Ketegangan meningkat setelah insiden di Bandara Sanaa yang dikaitkan dengan upaya menggagalkan pendaratan pesawat Iran. Peristiwa tersebut diikuti peluncuran rudal balistik Houthi ke wilayah Arab Saudi.

Pekan lalu, Houthi juga mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Riyadh kemudian membalas dengan menggempur Hodeidah sebelum akhirnya kelompok tersebut menyerang fasilitas minyak Saudi Aramco.

Ancaman bagi Jalur Energi dan Perdagangan Global

Eskalasi terbaru memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan Selat Bab al-Mandeb, jalur pelayaran vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Apabila jalur tersebut terganggu bersamaan dengan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, rantai pasok energi global diperkirakan menghadapi tekanan yang jauh lebih besar.

Dua selat strategis itu menjadi jalur utama distribusi minyak mentah, gas alam, serta berbagai komoditas perdagangan dunia. Gangguan terhadap keduanya berpotensi memicu lonjakan harga energi, memperlambat distribusi barang, hingga memperburuk tekanan inflasi dan krisis pangan di sejumlah negara pengimpor.

Sebelumnya, gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz telah memengaruhi arus ekspor minyak dan bahan baku pupuk sehingga mendorong kenaikan harga energi di pasar internasional.

AS Jeda Serangan, Diplomasi Masih Berjalan

Di tengah meningkatnya eskalasi kawasan, Iran justru melewati malam kedua tanpa serangan udara dari Amerika Serikat.

Sebelumnya, Iran menghadapi 13 gelombang serangan udara AS secara berturut-turut sejak 11 Juli setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyerang kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.

Meski operasi udara dihentikan sementara sejak Jumat, komunikasi antara Washington dan Teheran dilaporkan tetap berlangsung melalui jalur mediasi.

Seorang pejabat senior pemerintahan Presiden Donald Trump mengatakan pemerintah Amerika Serikat masih mengedepankan penyelesaian diplomatik.

"Dia selalu jelas bahwa preferensinya adalah diplomasi, tetapi dia telah menunjukkan kepada Iran apa yang akan terjadi jika mereka gagal untuk datang ke meja dengan cara yang serius," kata pejabat tersebut, dikutip dari Al Jazeera.

Trump juga mengonfirmasi komunikasi dengan Iran masih berlangsung.

"Mereka sedang berbicara dengan kami sekarang; mereka ingin membuat kesepakatan. Saya tidak berpikir mereka siap untuk itu, tetapi saya bersedia mendengarkan," ujar Trump.

Iran Akui Ada Pertukaran Pesan dengan Washington

Dari Teheran, laporan Al Jazeera menyebut pemerintah Iran membenarkan adanya pertukaran pesan dengan Amerika Serikat melalui pihak ketiga.

Koresponden Al Jazeera, Resul Serdar, mengatakan para mediator telah menyampaikan sejumlah proposal kepada pemerintah Iran yang kini masih dipelajari.

"Ada proposal yang disampaikan oleh para mediator, dan Teheran masih meninjaunya," kata Serdar.

Meski demikian, belum ada perkembangan signifikan yang mengarah pada kesepakatan.

Di saat bersamaan, konflik juga mulai bersinggungan dengan perang Rusia-Ukraina. Iran menuduh Ukraina menyerang kapal dagangnya di Laut Kaspia hingga menewaskan seorang pelaut dan melukai satu lainnya. Teheran menyebut insiden itu sebagai tindakan bermusuhan dan telah memanggil kuasa usaha Ukraina untuk menyampaikan protes resmi.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengklaim pasukannya menyerang kapal-kapal yang digunakan dalam rantai logistik militer yang melibatkan Iran di Laut Kaspia.

Dengan semakin banyaknya aktor yang terlibat serta meluasnya wilayah konflik dari Teluk Persia hingga Laut Merah dan Laut Kaspia, risiko terhadap stabilitas geopolitik, pasokan energi global, dan perdagangan internasional diperkirakan akan terus meningkat, meski peluang diplomasi antara Washington dan Teheran belum sepenuhnya tertutup. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
timur tengah Arab Saudi harga minyak saudi aramco houthi