Trump Tunda Serangan ke Iran, Pentagon Dikabarkan Khawatir Krisis Amunisi

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 20:15 WIB
Ilustrasi rudal Tomahawk AS. (Apa)
Ilustrasi rudal Tomahawk AS. (Apa)

RADAR BANYUWANGI – Amerika Serikat menghentikan sementara serangan udara terhadap Iran setelah konflik yang berlangsung hampir lima bulan memasuki fase baru. Keputusan yang diambil di tengah meningkatnya tensi di Timur Tengah itu memunculkan dua pertanyaan besar: apakah Washington sedang membuka ruang diplomasi atau justru mulai menghadapi keterbatasan stok amunisi pertahanan.

Sepanjang Minggu (27/7), Iran kembali melewati malam tanpa serangan udara dari militer Amerika Serikat. Di saat bersamaan, tidak ada laporan mengenai serangan balasan Teheran terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, menandai jeda langka sejak konflik meningkat beberapa bulan terakhir.

Jeda operasi militer muncul ketika perang yang semula diperkirakan berlangsung singkat justru memasuki bulan kelima. Kondisi itu meningkatkan tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump menjelang pemilu sela (midterm) Amerika Serikat yang akan digelar pada November mendatang.

Sejumlah media Amerika Serikat melaporkan penghentian sementara operasi tersebut tidak hanya didorong pertimbangan diplomatik, tetapi juga dipengaruhi kondisi logistik militer.

CNN, mengutip seorang sumber Pentagon yang tidak disebutkan identitasnya, melaporkan operasi militer terhadap Iran saat ini "ditahan sementara", meski sebelumnya Trump sempat mengancam akan meningkatkan intensitas serangan ke level yang jauh lebih besar.

Laporan serupa disampaikan The New York Times. Harian tersebut menyebut rencana eskalasi operasi militer ditunda karena muncul kekhawatiran terhadap semakin menipisnya stok rudal pencegat Patriot serta sejumlah sistem pertahanan strategis lainnya.

Selain persoalan persediaan amunisi, Washington juga disebut mempertimbangkan risiko konflik yang dapat meluas ke berbagai negara di Timur Tengah, potensi memburuknya hubungan dengan negara-negara Teluk yang menjadi sekutu Amerika Serikat, hingga dampaknya terhadap stabilitas ekonomi global.

Dalam pertemuan di Gedung Putih pada Jumat lalu, Wakil Presiden JD Vance dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dilaporkan mengingatkan Trump mengenai konsekuensi apabila konflik terus diperluas.

Menurut CNN, Jenderal Caine menegaskan militer siap menjalankan seluruh opsi yang diperintahkan pemerintah. Namun, ia juga mengingatkan bahwa setiap eskalasi memiliki risiko strategis yang tidak kecil.

Trump Belum Ambil Keputusan Final

Meski menghentikan sementara operasi udara, Trump memastikan belum mengambil keputusan akhir mengenai kelanjutan serangan terhadap Iran.

"Kami sedang berbicara dengan mereka sekarang. Saya pikir mereka semakin serius," kata Trump kepada wartawan.

Presiden AS itu kembali memperingatkan Iran agar memilih jalur kesepakatan. Jika tidak, Teheran disebut berpotensi menghadapi serangan dengan intensitas yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya.

Sementara itu, Axios melaporkan Pentagon sebenarnya telah menyiapkan rencana serangan untuk malam ke-14 secara berturut-turut. Namun, Trump memilih tidak memberikan otorisasi dan lebih mengedepankan peluang pembicaraan diplomatik.

Iran: Konflik Bisa Meluas

Di sisi lain, Iran menegaskan penghentian sementara serangan udara bukan berarti ketegangan telah berakhir.

Juru bicara Angkatan Darat Iran Mohammad Akraminia mengatakan konflik dapat berkembang ke wilayah yang lebih luas apabila Amerika Serikat kembali melancarkan serangan.

"Saya percaya bahwa jika Amerika sekali lagi jatuh cinta pada penipuan Zionis, atau bergerak sejalan dengan mereka, dan bersikeras untuk melanjutkan perang, terutama melalui serangan udara, secara geografis ini akan berkembang lebih jauh," ujarnya kepada televisi pemerintah Iran.

Pernyataan tersebut muncul menjelang kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington. Pertemuan itu diperkirakan membahas perkembangan konflik Iran serta situasi keamanan kawasan Timur Tengah.

Ketegangan Timur Tengah Belum Mereda

Meski serangan langsung AS terhadap Iran berhenti sementara, konflik di kawasan masih terus berkembang.

Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengklaim menyerang fasilitas Saudi Aramco di Jizan dan Yanbu setelah Arab Saudi melancarkan serangan terhadap sejumlah target Houthi sehari sebelumnya.

Militer Yunani juga mengonfirmasi sistem pertahanan udara yang dioperasikan personelnya di Arab Saudi berhasil mencegat dua rudal balistik dan satu pesawat nirawak di wilayah Yanbu.

Di perairan Teluk, Garda Revolusi Iran menyatakan telah menghentikan empat kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz dalam kurun 24 jam terakhir. Jalur pelayaran strategis tersebut kembali menjadi titik yang dinilai paling berpotensi memicu konfrontasi langsung antara Iran dan Amerika Serikat.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya tidak menginginkan konflik terus meluas. Ia bahkan menawarkan Iran sebagai mediator dalam upaya meredakan ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi.

"Tidak ada solusi militer," tegas Araghchi.

Di saat bersamaan, Kementerian Luar Negeri Iran juga menuduh Ukraina menyerang kapal dagang Iran di Laut Kaspia. Teheran menyatakan satu pelaut tewas dan seorang lainnya terluka dalam insiden tersebut serta telah menyampaikan protes resmi kepada perwakilan diplomatik Ukraina.

Tuduhan itu muncul setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut Rusia diduga memberikan data pengamatan satelit kepada Iran untuk membantu operasi militer di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski serangan udara AS tengah dijeda, dinamika geopolitik di kawasan masih jauh dari kata mereda. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
AS Iran stok amunisi timur tengah donald trump serangan udara