Mengapa Iran Tak Serang Kapal Induk AS? Analis Ungkap Strategi di Balik Konflik

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 17:00 WIB
Ilustrasi kapal induk USS Abraham Lincoln. (Navy Times)
Ilustrasi kapal induk USS Abraham Lincoln. (Navy Times)

RADAR BANYUWANGI – Di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, satu pertanyaan terus mengemuka: mengapa Teheran tidak langsung menyerang kapal perang atau kapal induk AS yang beroperasi di sekitar kawasan Teluk? Sejumlah analis militer dan hubungan internasional menilai keputusan tersebut bukan karena keterbatasan kemampuan militer Iran, melainkan bagian dari strategi untuk meningkatkan tekanan terhadap Washington tanpa memicu perang berskala penuh.

Alih-alih mengincar aset angkatan laut Amerika Serikat, Iran justru meningkatkan serangan ke sejumlah fasilitas militer maupun infrastruktur di beberapa negara Teluk. Langkah ini memunculkan perdebatan mengenai tujuan strategis Teheran di tengah konflik yang terus berkembang.

Di sisi lain, Washington disebut terus melancarkan serangan terhadap berbagai infrastruktur penting di Iran, mulai dari jaringan listrik, telekomunikasi, stasiun kereta api, hingga fasilitas penyedia air bersih. Pola saling serang tersebut dinilai menunjukkan bahwa kedua negara masih berupaya mengendalikan eskalasi meski intensitas konflik terus meningkat.

Menyerang Kapal Induk AS Dinilai Berisiko Sangat Tinggi

Analis militer Lebanon, Brigadir Jenderal (Purn.) Elias Hanna, mengatakan kapal perang dan kapal induk Amerika Serikat merupakan sasaran yang sangat sulit ditembus karena dilindungi sistem pertahanan berlapis.

Menurutnya, apabila Iran menyerang aset strategis tersebut dan menimbulkan korban militer AS, konsekuensi yang dihadapi Teheran diperkirakan akan jauh lebih besar dibandingkan kondisi saat ini.

"Menargetkan aset angkatan laut AS akan memicu respons yang sangat menghancurkan dari Amerika Serikat. Selain itu, secara militer target tersebut juga sangat sulit diserang karena memiliki perlindungan dan sistem pertahanan udara yang canggih," ujar Hanna kepada Al Jazeera.

Penilaian tersebut sejalan dengan pandangan sejumlah pengamat yang melihat Iran masih berusaha menjaga agar konflik tidak berubah menjadi perang regional yang melibatkan lebih banyak negara.

Iran Klaim Negara Teluk Jadi Basis Operasi Amerika

Pemerintah Iran beralasan serangan terhadap sejumlah negara Teluk dilakukan karena wilayah negara-negara tersebut diyakini digunakan sebagai titik operasi militer Amerika Serikat.

Guru Besar Ilmu Politik Universitas Teheran, Atifeh Taghiani, menyatakan Washington memanfaatkan beberapa negara Teluk, khususnya Kuwait, sebagai bagian dari operasi terhadap Iran.

Dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, Taghiani berpendapat hukum internasional memberikan hak bagi negaranya untuk membalas pihak yang wilayahnya dipakai sebagai pangkalan serangan.

Ia juga menuding Amerika Serikat sengaja menyasar fasilitas sipil Iran untuk memperbesar ketegangan di kawasan.

"Amerika Serikat ingin memperdalam permusuhan di antara negara-negara kawasan dan berupaya membuat Iran semakin sulit memberikan respons," katanya.

Namun, hingga kini negara-negara Teluk secara konsisten membantah tudingan tersebut dan menegaskan wilayah mereka tidak digunakan sebagai pangkalan ofensif terhadap Iran.

Analis Kuwait: Tuduhan Iran Tidak Didukung Bukti

Pandangan berbeda disampaikan Profesor Ilmu Politik Universitas Kuwait, Abdullah al-Shayji.

Menurutnya, tuduhan Iran bahwa serangan Amerika diluncurkan dari negara-negara Teluk tidak memiliki dasar yang dapat dibuktikan.

Al-Shayji mengatakan operasi militer Amerika terhadap Iran justru dilakukan dari dua kapal induk, USS George W. Bush dan USS Abraham Lincoln, yang disebut beroperasi sekitar 150 kilometer dari pesisir Iran.

"Klaim bahwa serangan diluncurkan dari negara-negara Teluk sudah tidak dapat diterima ataupun realistis," ujarnya.

Ia menambahkan pemerintah negara-negara Teluk telah berulang kali menyampaikan kepada Iran bahwa keberadaan pasukan Amerika di kawasan hanya untuk kepentingan pertahanan, bukan sebagai basis serangan.

Iran Dinilai Berusaha Menghindari Korban Militer AS

Al-Shayji menilai Iran memahami bahwa serangan langsung terhadap kapal induk atau kapal perang Amerika berpotensi menewaskan personel militer AS dan memicu balasan besar-besaran dari Washington.

Karena itu, Teheran dinilai memilih memberikan tekanan melalui serangan ke negara-negara Teluk dengan harapan negara-negara tersebut akan mendorong Amerika Serikat mengakhiri konflik.

Namun, strategi tersebut dipandang belum memberikan hasil yang signifikan.

Ia juga mengkritik serangan Iran terhadap fasilitas desalinasi air di Kuwait yang dinilai berdampak langsung terhadap kebutuhan dasar masyarakat sipil dan berpotensi melanggar hukum humaniter internasional.

Pakar Qatar: Kedua Pihak Sama-sama Menahan Eskalasi

Asisten Profesor Hubungan Internasional Universitas Qatar, Abdullah Bandar al-Otaibi, menilai baik Iran maupun Amerika Serikat sama-sama berupaya menghindari perang terbuka.

Menurutnya, kedua negara memilih sasaran secara selektif agar konflik tetap berada dalam batas tertentu dan tidak berkembang menjadi perang kawasan.

Ia menilai keputusan Iran untuk tidak menyerang kapal induk AS merupakan bagian dari kalkulasi strategis.

"Iran menghindari menyerang aset angkatan laut AS karena khawatir membuka pintu neraka bagi dirinya sendiri," katanya.

Al-Otaibi juga menilai Iran lebih memilih menekan negara-negara Teluk karena memperkirakan negara-negara tersebut tidak akan terlibat langsung dalam konfrontasi bersenjata.

Meski demikian, ia mengingatkan situasi dapat berubah dengan cepat apabila serangan menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar atau memicu respons militer yang lebih luas.

Diplomasi Dinilai Tetap Menjadi Jalan Keluar

Konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran disebut bermula setelah Presiden Donald Trump memerintahkan operasi militer bersama Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Meskipun kedua negara sempat menyepakati nota kesepahaman pada Juni untuk memperpanjang gencatan senjata dan melanjutkan pembicaraan damai, masing-masing pihak terus saling menuduh telah melanggar kesepakatan tersebut.

Al-Shayji menilai jalur diplomasi tetap menjadi opsi paling realistis untuk mencegah konflik semakin meluas. Sementara itu, al-Otaibi melihat tekanan terhadap Iran juga meningkat karena kelompok-kelompok yang selama ini bersekutu dengan Teheran, seperti Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, serta kelompok pro-Iran di Irak, sejauh ini belum terlibat secara aktif dalam konfrontasi terbaru.


Catatan: Artikel ini merangkum analisis dan pandangan sejumlah pakar mengenai strategi militer Iran. Klaim dari masing-masing pihak dalam konflik belum dapat diverifikasi secara independen dan mencerminkan posisi maupun penilaian narasumber yang dikutip.

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Jawa Pos
Iran AS negara Teluk donald trump konflik timur tengah kapal induk