Kozo Okamoto, Satu-satunya Pelaku Selamat Serangan Bandara Tel Aviv 1972, Meninggal Dunia

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 10:00 WIB
Foto arsip memperlihatkan Kozo Okamoto di Beirut, Lebanon, pada Mei 2022. Foto kanan, Kozo Okamoto mengangkat kepalan tangan saat menjalani persidangan di Beirut, Lebanon, pada Juni 1997. (Kyodo)
Foto arsip memperlihatkan Kozo Okamoto di Beirut, Lebanon, pada Mei 2022. Foto kanan, Kozo Okamoto mengangkat kepalan tangan saat menjalani persidangan di Beirut, Lebanon, pada Juni 1997. (Kyodo)

RADAR BANYUWANGI – Kozo Okamoto, anggota Tentara Merah Jepang (Japanese Red Army/JRA) yang dikenal sebagai satu-satunya pelaku selamat dalam serangan berdarah di Bandara Internasional Tel Aviv pada 1972, meninggal dunia pada usia 78 tahun di Lebanon. Kabar duka itu diumumkan oleh Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (Popular Front for the Liberation of Palestine/PFLP), organisasi yang selama puluhan tahun memberikan perlindungan kepadanya selama hidup dalam pengasingan.

PFLP menyatakan Okamoto mengembuskan napas terakhir di kawasan pinggiran Beirut, Lebanon. Namun, organisasi tersebut tidak menjelaskan penyebab maupun waktu pasti kematiannya.

Nama Kozo Okamoto menjadi perhatian dunia setelah terlibat dalam serangan bersenjata di Bandara Internasional Tel Aviv pada 30 Mei 1972. Saat itu, ia bersama dua anggota Tentara Merah Jepang lainnya melancarkan aksi menggunakan senapan serbu dan granat.

Serangan tersebut menewaskan lebih dari dua lusin orang dan melukai puluhan lainnya. Dua rekannya tewas dalam insiden itu, sedangkan Okamoto menjadi satu-satunya pelaku yang berhasil ditangkap hidup-hidup oleh aparat Israel.

Pengadilan Israel kemudian menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Okamoto atas keterlibatannya dalam serangan tersebut.

Bebas Lewat Pertukaran Tahanan

Setelah menjalani hukuman lebih dari satu dekade, Okamoto dibebaskan pada 1985 sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan antara Israel dan kelompok Palestina.

Sejak saat itu, ia menetap di Lebanon dan hidup dalam pengasingan dengan dukungan sejumlah organisasi Palestina.

Perjalanan hidupnya di Lebanon sempat kembali diwarnai persoalan hukum. Pada 1997, aparat keamanan Lebanon menangkap Okamoto bersama empat anggota Tentara Merah Jepang lainnya karena diduga menggunakan paspor palsu.

Setelah menyelesaikan masa hukumannya pada 2000, pemerintah Lebanon memberikan suaka politik kepadanya. Status tersebut membuat Okamoto tetap tinggal di negara itu hingga akhir hayatnya.

Tentara Merah Jepang dan Hubungannya dengan Palestina

Tentara Merah Jepang merupakan kelompok militan berhaluan kiri yang aktif pada dekade 1970-an. Organisasi tersebut dikenal melalui sejumlah aksi bersenjata lintas negara dan menjalin hubungan erat dengan beberapa kelompok bersenjata Palestina, termasuk PFLP.

Selama bertahun-tahun, PFLP menjadi organisasi yang memberikan perlindungan kepada Okamoto di Lebanon setelah ia meninggalkan Israel.

Pengumuman wafatnya Okamoto juga disampaikan langsung oleh PFLP sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok yang selama puluhan tahun hidup dalam pengasingan di negara tersebut.

Menjadi Bagian dari Sejarah Konflik Timur Tengah

Kozo Okamoto dikenang sebagai salah satu figur paling kontroversial dalam sejarah konflik Timur Tengah dan gerakan militan internasional pada era 1970-an.

Perannya dalam serangan Bandara Tel Aviv menjadikan namanya dikenal secara global, sementara perjalanan hidupnya—mulai dari hukuman penjara seumur hidup di Israel, pembebasan melalui pertukaran tahanan, hingga memperoleh suaka politik di Lebanon—menjadi bagian dari sejarah panjang dinamika konflik di kawasan tersebut.

Meski demikian, kematiannya menutup perjalanan hidup seorang tokoh yang selama lebih dari lima dekade tetap dikaitkan dengan salah satu serangan paling mematikan di Bandara Internasional Tel Aviv pada 1972. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
Kozo Okamoto Tentara Merah tel aviv jepang lebanon