RADARBANYUWANGI.ID - Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengungkap adanya peningkatan signifikan aktivitas militer Amerika Serikat (AS) di wilayah tersebut. Teheran menyatakan telah meningkatkan kesiapan untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut militer Iran telah mendeteksi pergerakan besar armada AS di kawasan strategis Timur Tengah pada Senin (20/7/2026). Menurut dia, langkah tersebut menjadi sinyal bahwa Washington tengah memperkuat posisi militernya.
Pernyataan itu muncul setelah laporan media Amerika Serikat, Washington Post, yang menyebut pemerintah AS sedang mempersiapkan opsi operasi militer berskala besar terhadap Iran. Penguatan armada disebut menjadi bagian dari langkah antisipasi menghadapi perkembangan konflik terbaru.
Melalui pernyataan di platform X, Ghalibaf menilai Iran memahami pola kebijakan Amerika Serikat di kawasan. Ia menyebut Teheran tidak terpengaruh oleh pernyataan Washington yang selama ini menyampaikan keinginan menghentikan konflik.
"Amerika terus membawa peralatan militer baru ke kawasan ini dan mengklaim mereka mencoba menghentikan perang. Kami telah memahami sifat permainan AS dan telah bersiap sesuai dengan itu," ujar Ghalibaf, dikutip Antara.
Menurutnya, aktivitas militer yang dilakukan AS justru menunjukkan adanya persiapan menghadapi kemungkinan eskalasi baru, bukan semata upaya meredakan ketegangan.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya saat ini berada dalam kondisi yang secara de facto menyerupai perang skala penuh. Pernyataan tersebut semakin memperlihatkan tingginya tingkat ketegangan antara kedua negara.
Ketegangan terbaru ini juga menandai runtuhnya kesepakatan penghentian konflik yang sebelumnya sempat dicapai Iran dan Amerika Serikat.
Kedua pihak sebelumnya menandatangani memorandum pada 18 Juni yang mengatur penghentian konflik bersenjata yang mulai pecah sejak 28 Februari. Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama.
Mulai 8 Juli, militer AS disebut kembali melakukan sejumlah serangan terhadap wilayah Iran. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan tindakan tersebut sebagai respons atas dugaan aksi Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.
Perkembangan itu membuat situasi kawasan kembali tidak stabil. Jalur pelayaran strategis tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perdagangan energi dunia sehingga setiap gangguan berpotensi berdampak luas.
Iran kemudian melakukan serangan balasan dengan menargetkan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Aksi saling serang antara kedua negara membuat kekhawatiran terhadap konflik terbuka semakin meningkat.
Pemerintah AS melalui Gedung Putih kemudian menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara Washington dan Teheran tidak lagi berlaku. Keputusan tersebut membuka kembali risiko meningkatnya operasi militer di kawasan.
Editor : Lugas Rumpakaadi