Radarbanyuwangi.id - Kebangkitan sektor pariwisata Jepang pascapandemi ternyata membawa tantangan baru bagi industri perhotelan. Di tengah lonjakan jumlah wisatawan mancanegara yang terus memecahkan rekor, sebagian besar hotel dan fasilitas akomodasi justru menghadapi krisis tenaga kerja yang semakin serius.
Berdasarkan survei yang dilakukan pemerintah Jepang terhadap 522 fasilitas akomodasi pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026, sebanyak 72,2 persen responden mengaku mengalami kekurangan tenaga kerja. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi sektor pariwisata Negeri Sakura saat ini.
Peningkatan jumlah wisatawan mancanegara ke Jepang dalam beberapa tahun terakhir tidak terlepas dari melemahnya nilai tukar yen terhadap sejumlah mata uang utama dunia, termasuk dolar Amerika Serikat.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Hari Ini 13 Juli, Leo Panen Keberuntungan, Bagaimana Nasib Zodiak Anda?
Kondisi tersebut membuat biaya perjalanan, penginapan, hingga konsumsi di Jepang menjadi lebih terjangkau bagi wisatawan asing. Akibatnya, minat berkunjung ke berbagai destinasi wisata di Jepang terus meningkat.
Meski sempat menghadapi dampak perlambatan akibat konflik di Timur Tengah dalam beberapa bulan terakhir, sektor pariwisata Jepang tetap menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Bahkan, jumlah kunjungan wisatawan asing tercatat mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah industri pariwisata negara tersebut.
Hasil survei juga menunjukkan bahwa sebagian besar fasilitas akomodasi di Jepang beroperasi dengan jumlah karyawan yang relatif terbatas.
Lebih dari 90 persen hotel dan penginapan kategori menengah diketahui memiliki kurang dari 100 pekerja. Bahkan, hampir setengah dari total responden hanya mempekerjakan kurang dari 30 orang.
Dengan jumlah pegawai yang terbatas, banyak pelaku usaha perhotelan kesulitan menjaga kualitas layanan di tengah meningkatnya jumlah tamu yang datang setiap hari.
Kondisi ini semakin terasa saat musim liburan atau periode kunjungan wisatawan yang tinggi, ketika kebutuhan operasional meningkat secara signifikan.
Krisis tenaga kerja tidak hanya berdampak pada operasional hotel, tetapi juga pada kesejahteraan para pekerja yang masih bertahan di industri tersebut.
Sebanyak 79,3 persen responden menyebut peningkatan beban kerja karyawan menjadi dampak paling nyata dari kekurangan tenaga kerja. Para pegawai harus menangani lebih banyak tugas untuk memastikan operasional tetap berjalan normal.
Selain itu, 50,4 persen pelaku usaha mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan yang tidak sedikit untuk mencari dan merekrut tenaga kerja baru.
Sementara itu, sekitar 40,6 persen fasilitas akomodasi terpaksa mengurangi sejumlah layanan kepada tamu karena keterbatasan jumlah staf yang tersedia.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga operasional tetap berjalan meskipun jumlah pekerja tidak mencukupi kebutuhan.
Baca Juga: Bikin Merinding! Trailer Film The Death Of Robin Hood Suguhkan Robin Hood Versi Tergelap
Survei pemerintah Jepang juga mengungkap faktor utama yang membuat industri perhotelan kesulitan menarik tenaga kerja baru.
Rendahnya tingkat upah serta terbatasnya waktu libur menjadi dua alasan yang paling sering disebut sebagai penyebab minimnya minat masyarakat bekerja di sektor akomodasi dan perhotelan.
Banyak pencari kerja memilih sektor lain yang menawarkan keseimbangan kehidupan kerja yang lebih baik serta kompensasi yang lebih kompetitif.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah Jepang mulai mendorong berbagai langkah perbaikan, termasuk peningkatan kesejahteraan pekerja melalui kenaikan gaji dan perbaikan kondisi kerja.
Selain itu, digitalisasi juga dipandang sebagai solusi penting untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manusia. Penggunaan teknologi seperti sistem check-in otomatis, layanan berbasis kecerdasan buatan (AI), serta otomasi operasional hotel diharapkan mampu membantu mengatasi kekurangan sumber daya manusia dalam jangka panjang.
Dengan jumlah wisatawan asing yang diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan, keberhasilan Jepang mengatasi krisis tenaga kerja akan menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas layanan dan mempertahankan daya saing sektor pariwisatanya di tingkat global.(*)
Editor : Titin Wulandari