Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kereta Tembus Gedung hingga Jalur Monorel Terpanjang Dunia, Begini Rekayasa Transportasi Modern Kota Chongqing

Daafi Adilla Achmad • Jumat, 10 Juli 2026 | 20:16 WIB
Chongqing di Tiongkok membuktikan medan pegunungan bukan penghalang membangun transportasi modern. (Pexels/Zekai Zhu)
Chongqing di Tiongkok membuktikan medan pegunungan bukan penghalang membangun transportasi modern. (Pexels/Zekai Zhu)

RADARBANYUWANGI.ID - Chongqing dikenal sebagai salah satu kota terbesar di Tiongkok dengan jumlah penduduk sekitar 32 juta jiwa.

Namun, bukan hanya skala kotanya yang menarik perhatian.

Kota ini berdiri di kawasan pegunungan dengan kontur yang curam, bertingkat, dan dipenuhi lembah serta sungai, sehingga memiliki sistem perkotaan yang sangat berbeda dibandingkan kota-kota besar lainnya.

Perbedaan elevasi di Chongqing mencapai sekitar 244 meter, sementara titik tertingginya berada di kisaran 2.797 meter di atas permukaan laut dan titik terendah sekitar 160 meter.

Kondisi geografis tersebut membuat Chongqing dijuluki sebagai "8D City", karena jaringan jalan, gedung, jembatan, hingga transportasinya tersusun pada berbagai tingkat ketinggian sehingga menciptakan lanskap perkotaan yang menyerupai kota tiga dimensi.

Sebelum memiliki jaringan metro modern, mobilitas masyarakat hanya mengandalkan kendaraan pribadi, bus, sepeda, berjalan kaki, hingga kereta gantung.

Pertumbuhan penduduk yang berlangsung sangat pesat membuat kapasitas jalan tidak lagi mampu menampung jumlah kendaraan.

Kemacetan pun menjadi persoalan serius. Pada jam-jam sibuk, puluhan ribu kendaraan memadati ruas jalan utama dan menyebabkan lalu lintas berjalan sangat lambat.

Kondisi tersebut bahkan pernah membuat sistem transportasi Chongqing disebut sebagai salah satu yang paling bermasalah di Tiongkok.

Pemerintah kemudian memutuskan membangun jaringan metro sebagai solusi utama untuk meningkatkan mobilitas sekaligus mengurangi kemacetan.

Namun, proyek tersebut menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Topografi pegunungan yang curam, banyaknya sungai yang membelah kota, keterbatasan ruang perkotaan, serta keberadaan tebing dan lereng membuat pembangunan metro dianggap hampir mustahil.

Selain kendala teknis, biaya konstruksi yang sangat besar juga menjadi alasan berbagai rencana pembangunan metro sejak dekade 1940-an terus tertunda.

Baru pada akhir 1980-an pemerintah membentuk tim khusus untuk mempelajari berbagai sistem perkeretaapian perkotaan dari sejumlah negara.

Hasil kajian tersebut menjadi dasar dalam menentukan teknologi yang paling sesuai dengan karakter geografis Chongqing.

Untuk jalur-jalur awal, pemerintah akhirnya memilih sistem monorel.

Moda ini dinilai lebih ringan, lebih hemat energi, membutuhkan biaya pembangunan yang lebih rendah, serta mampu beroperasi lebih baik di kawasan dengan kemiringan tinggi dibandingkan sistem rel konvensional.

Meski demikian, monorel bukan pilihan ideal bagi semua kota.

Sistem ini membutuhkan ruang vertikal yang lebih besar dan kurang efisien diterapkan pada jalur bawah tanah.

Terowongan yang lebih tinggi juga membuat biaya penggalian meningkat sehingga banyak kota tetap menggunakan rel konvensional untuk jaringan metro bawah tanah.

Tantangan berikutnya muncul saat pembangunan jalur layang di lereng-lereng sempit.

Penggunaan crane berukuran besar tidak memungkinkan karena keterbatasan ruang kerja.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, para insinyur mengembangkan beam transport machine, kendaraan khusus yang mampu membawa balok rel monorel di atas tiang penyangga sekaligus memasangnya secara langsung.

Teknologi ini mempercepat proses konstruksi di lokasi yang sulit dijangkau alat berat konvensional.

Salah satu ikon transportasi Chongqing yang paling dikenal dunia adalah jalur monorel yang melintas di dalam sebuah gedung apartemen dan perkantoran setinggi 19 lantai.

Kereta memasuki bangunan melalui lantai enam hingga delapan sebelum kembali keluar menuju jalur berikutnya.

Konsep tersebut bukan dibuat sebagai daya tarik wisata, melainkan solusi atas keterbatasan lahan di kawasan perkotaan yang padat dan berbukit.

Gedung dan jalur monorel dirancang secara bersamaan sehingga keduanya dapat terintegrasi tanpa mengurangi fungsi masing-masing.

Agar getaran kereta tidak memengaruhi struktur bangunan, diterapkan sejumlah rekayasa teknik.

Pilar rel ditempatkan di dalam tabung beton berukuran besar dengan ruang kosong di sekelilingnya sehingga getaran tidak langsung merambat ke struktur gedung.

Selain itu, monorel menghasilkan tingkat kebisingan sekitar 60 desibel sehingga tetap nyaman bagi penghuni bangunan.

Keberhasilan pembangunan dua jalur pertama mendorong pemerintah memperluas jaringan.

Salah satunya adalah jalur monorel sepanjang 98,5 kilometer yang kini dikenal sebagai jalur monorel terpanjang sekaligus tersibuk di dunia.

Selanjutnya Chongqing mengembangkan sistem transportasi yang mengombinasikan monorel untuk jalur layang dan metro rel konvensional untuk jalur bawah tanah.

Kombinasi tersebut dinilai menjadi solusi paling efektif dalam menghadapi kondisi geografis kota yang kompleks.

Proses pembangunan juga menghadirkan tantangan ekstrem.

Pada pembangunan salah satu stasiun terdalam, pekerjaan konstruksi berlangsung sekitar tiga tahun.

Para pekerja bahkan membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk turun menuju lokasi proyek dan 20 menit lagi untuk kembali ke permukaan setiap hari.

Kini Chongqing telah memiliki 14 jalur transportasi rel yang terdiri atas 11 jalur utama dan tiga jalur pinggiran kota.

Jaringan tersebut menjadi tulang punggung mobilitas jutaan warga sekaligus menjadi contoh bagaimana inovasi rekayasa mampu mengatasi keterbatasan alam yang sebelumnya dianggap hampir tidak mungkin ditaklukkan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Chongqing