Radarbanyuwangi.id - Suasana duka mendalam menyelimuti Iran setelah jenazah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tiba di kompleks Grand Mosalla, Teheran, pada Jumat (3/7/2026).
Kedatangan jenazah Khamenei menandai dimulainya rangkaian prosesi pemakaman kenegaraan yang dijadwalkan berlangsung secara resmi pada Sabtu (4/7/2026).
Khamenei meninggal dunia pada usia 86 tahun setelah serangan udara gabungan dari Amerika Serikat dan Israel menghantam kompleks kediamannya di pusat Teheran pada 28 Februari 2026.
Baca Juga: NASA Gelontorkan Rp338 Triliun untuk Bangun Markas Permanen di Bulan
Peristiwa tersebut menjadi salah satu momen paling mengguncang dalam sejarah modern Iran sekaligus memicu perhatian besar dunia internasional.
Pemerintah Iran memperkirakan jumlah pelayat yang hadir sepanjang prosesi pemakaman mencapai 15 juta hingga 20 juta orang.
Jika angka tersebut terealisasi, pemakaman Ayatollah Ali Khamenei akan menjadi prosesi kenegaraan terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran.
Persiapan besar-besaran terlihat di berbagai titik Teheran. Ribuan pekerja dikerahkan untuk mempercantik kompleks Grand Mosalla dengan pengecatan ulang area utama serta pemasangan potret raksasa sang pemimpin.
Di saat yang sama, aparat kepolisian dan militer memperketat pengamanan di seluruh kawasan demi memastikan prosesi berjalan aman.
Tidak hanya jenazah Khamenei, sejumlah anggota keluarga yang turut menjadi korban dalam serangan udara tersebut juga disemayamkan di kompleks yang sama.
Publik diberi kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum prosesi pemakaman resmi dimulai.Sementara itu, Iran juga menggelar acara penerimaan khusus bagi kepala negara serta tamu kehormatan dari berbagai negara. Sekitar 30 negara dipastikan mengirimkan perwakilan resmi, termasuk Pakistan, China, dan Afghanistan.
Rangkaian prosesi pemakaman Khamenei direncanakan berlangsung melewati tiga kota suci di Iran. Prosesi akan dimulai dari Teheran, kemudian menuju Qom, dan berakhir di Mashhad.
Di kota terakhir inilah Khamenei akan dimakamkan sesuai wasiat almarhum, tepatnya di dekat Makam Imam Reza.
Sebagai bentuk penghormatan nasional, pemerintah Iran menetapkan masa berkabung selama enam hari dan memberlakukan hari libur di tiga kota yang menjadi pusat prosesi.
Baca Juga: Gelombang Panas Ekstrem Lumpuhkan Eropa, Ribuan Kematian dan Infrastruktur Mulai Kolaps
Prosesi pemakaman berlangsung di tengah situasi geopolitik yang masih memanas. Meski Iran dan Amerika Serikat sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman awal untuk menghentikan konflik, gencatan senjata antara kedua negara masih dinilai rapuh. Ketegangan dengan Israel pun belum sepenuhnya mereda.
Situasi ini membuat pemerintah Iran meningkatkan kewaspadaan. Komandan senior militer Iran bahkan mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan Israel agar tidak melakukan tindakan provokatif selama prosesi pemakaman berlangsung.
Dunia kini menyoroti jalannya pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, bukan hanya sebagai momen duka nasional bagi Iran, tetapi juga sebagai titik krusial yang dapat memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah.(*)
Editor : Titin Wulandari