RADARBANYUWANGI.ID - Perjalanan kereta cepat Shinkansen di Jepang sempat mengalami gangguan setelah seekor beruang tertabrak rangkaian kereta tujuan Tokyo pada Selasa (1/7/2026) pagi waktu setempat. Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan teknis, insiden tersebut menyebabkan perjalanan sempat tertunda untuk pemeriksaan.
Mengutip Antara, Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 07.30 waktu setempat di jalur antara Stasiun Wada dan Stasiun Ugo-Sakai, Prefektur Akita, wilayah timur laut Jepang. Berdasarkan laporan media setempat, masinis kereta telah mengaktifkan rem darurat ketika melihat seekor beruang berada di atas rel.
Namun, jarak yang terlalu dekat membuat kereta tidak dapat berhenti tepat waktu sehingga tabrakan tidak dapat dihindari.
Operator East Japan Railway Company (JR East) kemudian menghentikan sementara perjalanan untuk melakukan inspeksi terhadap rangkaian kereta di Stasiun Ugo-Sakai. Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada gangguan teknis sehingga kereta kembali melanjutkan perjalanan sesaat setelah pukul 08.00 waktu setempat.
Tidak ada penumpang maupun awak kereta yang mengalami luka akibat kejadian tersebut. Sementara itu, keberadaan beruang yang tertabrak hingga kini belum diketahui karena hewan tersebut tidak ditemukan di sekitar lokasi setelah insiden.
Peristiwa ini terjadi bertepatan dengan dimulainya survei populasi beruang secara nasional oleh Kementerian Lingkungan Hidup Jepang. Program tersebut difokuskan pada habitat-habitat beruang di kawasan timur laut Jepang sebagai respons atas meningkatnya kemunculan satwa liar tersebut di permukiman warga.
Dalam beberapa waktu terakhir, Jepang mencatat lonjakan kasus pertemuan antara manusia dan beruang. Sejumlah insiden bahkan berujung pada korban jiwa sehingga pemerintah menilai perlu dilakukan pemetaan populasi secara lebih akurat.
Survei tersebut dilakukan dengan memasang kamera pemantau di kawasan pegunungan dan dijadwalkan berlangsung hingga akhir September. Hasil pendataan nantinya akan digunakan untuk menyusun estimasi populasi beruang berdasarkan habitat dan masing-masing prefektur.
Kementerian Lingkungan Hidup Jepang menargetkan laporan hasil survei dapat dipublikasikan sekitar enam bulan setelah seluruh proses pengumpulan data selesai. Data tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar di berbagai wilayah Jepang.
Editor : Lugas Rumpakaadi