RADARBANYUWANGI.ID – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar keuangan kawasan. Mayoritas bursa saham negara-negara Teluk ditutup melemah pada perdagangan Minggu (7/6/2026) setelah konflik terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan dan keamanan jalur energi global.
Sentimen negatif muncul setelah militer AS mengumumkan serangan terhadap sejumlah instalasi radar pesisir Iran pada Sabtu (6/6/2026). Operasi tersebut dilakukan menyusul keberhasilan pasukan AS mencegat gelombang pesawat nirawak (drone) Iran yang dilaporkan mengarah ke kawasan strategis Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia.
Perkembangan terbaru ini kembali mengaburkan berbagai upaya diplomatik yang sebelumnya diharapkan mampu meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran. Investor pun memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, terutama saham-saham di kawasan Timur Tengah.
Arab Saudi Pimpin Pelemahan Bursa Kawasan
Pasar saham Arab Saudi menjadi salah satu yang paling terdampak. Indeks acuan di Riyadh ditutup turun 0,6 persen ke level 10.929.
Pelemahan tersebut dipicu oleh penurunan sejumlah saham unggulan, termasuk Saudi Arabian Mining Company yang terkoreksi 3,1 persen dan saham raksasa energi Saudi Aramco yang melemah 0,6 persen.
Tekanan terhadap pasar saham Arab Saudi juga terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian arah harga minyak global. Padahal sebelumnya, pelaku pasar sempat optimistis konflik tidak akan berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas.
Harga Minyak Sempat Turun Sebelum Ketegangan Meningkat
Menariknya, sebelum situasi kembali memanas, harga minyak mentah Brent justru sempat melemah.
Pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), kontrak berjangka minyak Brent turun sekitar 2 persen ke level USD 93,09 per barel. Penurunan itu dipicu ekspektasi pasar bahwa risiko konflik baru antara AS dan Iran mulai mereda.
Namun eskalasi militer yang terjadi sepanjang akhir pekan mengubah sentimen secara drastis. Investor kini kembali memperhitungkan potensi gangguan pasokan energi apabila konflik meluas ke kawasan Teluk dan Selat Hormuz.
Saham Terkait SpaceX Ikut Tertekan
Di Arab Saudi, saham Kingdom Holding Company juga mengalami tekanan cukup dalam dengan penurunan 3 persen.
Padahal dalam beberapa waktu terakhir saham perusahaan investasi tersebut sempat menguat berkat antusiasme investor terhadap kepemilikan saham mereka di SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk yang dikabarkan tengah mempersiapkan rencana pencatatan saham di bursa.
Koreksi yang terjadi menunjukkan bahwa sentimen geopolitik saat ini lebih dominan dibandingkan katalis positif dari sisi korporasi.
Qatar dan Kuwait Ikut Tertekan
Gelombang pelemahan tidak hanya terjadi di Arab Saudi.
Indeks saham Qatar turun 0,3 persen ke level 10.305. Saham Qatar National Bank, salah satu institusi keuangan terbesar di kawasan Teluk, tercatat melemah 1,2 persen dan menjadi pemberat utama indeks.
Di Kuwait, indeks saham kehilangan 0,5 persen dan ditutup di level 9.181. Tekanan pasar terjadi setelah militer Kuwait mengonfirmasi bahwa mereka berhasil mencegat tujuh rudal balistik yang melintas di atas kawasan permukiman pada Sabtu.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, insiden tersebut memunculkan kekhawatiran baru mengenai risiko keamanan regional dan dampaknya terhadap aktivitas ekonomi.
Bahrain Bertahan di Zona Hijau
Di tengah tekanan yang melanda sebagian besar pasar kawasan, Bahrain menjadi pengecualian.
Indeks Bahrain justru berhasil menguat tipis 0,1 persen ke level 1.983. Namun kondisi di negara tersebut juga sempat memanas setelah sirene peringatan udara dibunyikan dan warga diminta mencari tempat perlindungan.
Pemerintah Bahrain bersama Kuwait secara terbuka mengecam serangan udara Iran yang terjadi pada akhir pekan.
Bursa Mesir dan Oman Tak Luput dari Tekanan
Dampak sentimen geopolitik turut menjalar ke luar kawasan Teluk.
Indeks saham unggulan Mesir terkoreksi 0,9 persen ke level 52.165, sementara indeks Oman mencatat penurunan paling tajam di kawasan dengan pelemahan mencapai 1,9 persen ke level 7.519.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa investor regional masih sangat sensitif terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama yang melibatkan dua kekuatan besar, yakni AS dan Iran.
Penutupan Bursa Regional 7 Juni 2026
Berikut pergerakan indeks saham utama di kawasan:
-
Arab Saudi turun 0,6 persen ke 10.929
-
Qatar turun 0,3 persen ke 10.305
-
Kuwait turun 0,5 persen ke 9.181
-
Oman turun 1,9 persen ke 7.519
-
Mesir turun 0,9 persen ke 52.165
-
Bahrain naik 0,1 persen ke 1.983
Dengan konflik yang kembali memanas dan belum adanya sinyal kuat menuju deeskalasi, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan militer di sekitar Selat Hormuz. Kawasan tersebut menjadi titik krusial perdagangan energi dunia sehingga setiap eskalasi berpotensi memengaruhi harga minyak, arus investasi, dan stabilitas pasar keuangan global dalam beberapa pekan ke depan. (*)
Editor : Ali Sodiqin