Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jepang Bantah Tuduhan “Militerisme Baru”, Koizumi Serang China soal Ekspansi Militer Tanpa Transparansi

Ali Sodiqin • Senin, 1 Juni 2026 | 23:00 WIB
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin bersama Menteri Pertahanan Jepang Koizumi Shinjiro. (x.com/@shinjirokoiz)
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin bersama Menteri Pertahanan Jepang Koizumi Shinjiro. (x.com/@shinjirokoiz)

Dari Shangri-La Dialogue Singapura, Jepang Tegaskan Modernisasi Pertahanan untuk Stabilitas, Bukan Ancaman Perang

RADARBANYUWANGI.ID – Ketegangan geopolitik Asia kembali memanas setelah Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi secara tegas menolak tuduhan Beijing yang menyebut Tokyo tengah menghidupkan kembali “militerisme baru”. Dalam forum keamanan tingkat tinggi Shangri-La Dialogue di Singapura, Koizumi justru balik menuding China melakukan ekspansi militer besar-besaran tanpa transparansi yang memadai.

Pernyataan keras itu memperlihatkan meningkatnya friksi antara dua kekuatan Asia, di tengah perlombaan pengaruh militer yang semakin intens di kawasan Indo-Pasifik.

Koizumi menegaskan bahwa Jepang tidak memiliki senjata nuklir maupun pembom strategis, berbeda dengan China yang terus memperbesar arsenal militernya.

“China terus meningkatkan belanja pertahanannya pada level tinggi. Aktivitas militer dan pendekatan eksternal China adalah perhatian serius bagi Jepang dan komunitas internasional,” ujar Koizumi di hadapan para delegasi.

Jepang Serang Balik Narasi “Neo-Militarisme” China

Menanggapi kritik Beijing, Koizumi mempertanyakan tuduhan yang menyebut Jepang kembali ke jalur militeristik.

“Coba pikirkan. Ada negara dengan arsenal nuklir besar dan pembom strategis. Jepang tidak memiliki itu. Namun Jepang justru dituduh sebagai ‘militerisme baru’,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu respons paling tajam Jepang terhadap kritik China dalam beberapa tahun terakhir, mempertegas pergeseran sikap Tokyo yang semakin vokal dalam isu keamanan regional.

Koizumi juga menegaskan bahwa rekam jejak Jepang sejak Perang Dunia II menunjukkan komitmen kuat terhadap hukum internasional, Piagam PBB, dan upaya menjaga tatanan internasional yang bebas dan terbuka.

China Balik Menyerang Jepang di Forum Singapura

Di sisi lain, China kembali melontarkan kritik keras terhadap Jepang melalui perwakilannya di forum tersebut, Mayor Jenderal Meng Xiangqing.

Ia mempertanyakan legitimasi Jepang dalam memperkuat kerja sama pertahanan internasional, dengan menyinggung masa lalu Perang Dunia II.

“Saya meragukan apakah negara yang belum sepenuhnya membersihkan warisan militerismenya layak berbicara tentang kerja sama pertahanan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa luka sejarah antara kedua negara masih menjadi faktor utama yang membayangi hubungan diplomatik Tokyo–Beijing.

Ketegangan Meningkat di Tengah Isu Taiwan

Hubungan Jepang dan China memburuk dalam beberapa bulan terakhir setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi pada November lalu menyatakan bahwa konflik di Taiwan berpotensi memicu respons militer Jepang.

China yang mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya menilai pernyataan tersebut sebagai provokasi serius, memperburuk situasi keamanan regional.

Sejak saat itu, hubungan kedua negara dilaporkan berada pada titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Jepang Tegaskan Keterbukaan Dialog, Tapi Tingkatkan Deterensi

Meski melontarkan kritik keras, Koizumi menegaskan Jepang tetap membuka pintu dialog dengan China.

“Saya sedih tidak dapat bertemu dengan mitra dari China di forum ini. Namun kami tetap membuka pintu untuk dialog,” katanya.

Namun di saat yang sama, Jepang juga menegaskan komitmennya memperkuat posisi pertahanan dan kerja sama militer dengan negara-negara kawasan.

Koizumi menyebut Jepang kini berkomitmen membangun kemampuan pertahanan yang lebih kuat untuk menghadapi tekanan geopolitik.

“Kami ingin kawasan yang mampu melawan tekanan, yang tidak tersesat oleh disinformasi, dan tidak dipengaruhi oleh paksaan,” ujarnya.

Reformasi Militer Jepang Makin Agresif

Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang memang melakukan transformasi besar di sektor pertahanan. Negara tersebut meningkatkan anggaran militer secara signifikan, memperluas kerja sama aliansi, serta memperkuat industri pertahanan dalam negeri.

Pada April lalu, Tokyo juga melakukan reformasi terbesar dalam kebijakan ekspor senjata selama beberapa dekade, membuka jalan bagi penjualan kapal perang, rudal, dan sistem persenjataan ke luar negeri.

Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi Jepang untuk memperkuat posisi dalam rantai keamanan global sekaligus mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat.

Asia Masuk Era Rivalitas Militer Baru

Ketegangan Jepang–China kini menjadi bagian dari dinamika besar perebutan pengaruh di Indo-Pasifik.

China terus memperluas kekuatan militernya, sementara Jepang dan sekutunya meningkatkan kemampuan pertahanan sebagai bentuk penyeimbang.

Para analis menilai kondisi ini berpotensi mendorong kawasan menuju era baru perlombaan senjata, meski masing-masing pihak mengklaim langkahnya bersifat defensif.

Dengan absennya dialog langsung antara menteri pertahanan kedua negara di forum Singapura, kekhawatiran akan semakin memburuknya komunikasi strategis pun meningkat.

Masa Depan Stabilitas Indo-Pasifik

Di tengah saling tuding dan meningkatnya aktivitas militer, masa depan stabilitas kawasan Indo-Pasifik kini berada dalam sorotan.

Jepang menegaskan ingin menjadi kekuatan penyeimbang, sementara China tetap mempertahankan sikap keras terhadap kebijakan keamanan Tokyo.

Dengan kedua negara sama-sama memperkuat posisi militer, kawasan Asia kini menghadapi fase baru yang lebih kompleks—di mana diplomasi, sejarah, dan kekuatan militer saling bertabrakan dalam satu panggung geopolitik yang semakin panas. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Jepang China #Shinjiro Koizumi #Militer Jepang #Shangri-La Dialogue #Indo-Pasifik